Jejak Hotel Toegoe Jogja: Pernah Jadi Lokasi Jamuan Raja Siam-Markas KNIL

Jejak Hotel Toegoe Jogja: Pernah Jadi Lokasi Jamuan Raja Siam-Markas KNIL

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Minggu, 22 Mar 2026 11:23 WIB
Atap Eks Hotel Toegoe Yogyakarta ambrol
Eks Hotel Toegoe Yogyakarta Foto: Usman Hadi/BeritaKlik
Jogja -

Hotel Toegoe, di kawasan Stasiun Tugu Jogja, adalah tempat yang mempunyai nilai sejarah terutama di era kolonial. Namun, bangunan yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-19 itu kini sudah kosong tak berpenghuni.

Bangunan Hotel Toegoe terletak di Jalan Margo Utomo 2, Sosromenduran, Kota Jogja, tepatnya di depan pintu masuk timur Stasiun Tugu. Dibatasi tembok beton, bangunan bergaya arsitektur kolonial itu masih kokoh berdiri, meski sudah tak ada aktivitas di dalamnya.

Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X Yogyakarta, Yusri Damayati, menjelaskan penginapan tersebut diperkirakan sudah ada sejak 1876 dengan nama Logement Tugu. Keberadaan penginapan itu diketahui dari iklan yang dimuat dalam surat kabar kolonial De Locomotief pada November 1876.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hotel Tugu itu diperkirakan sudah ada pada tahun 1876, namun saat itu namanya Logement Tugu. Hal itu dibuktikan dari iklan di surat kabar De Locomotief edisi November 1876," ujar Yusri saat dihubungi detikJogja, Senin (9/3/2026).

ADVERTISEMENT
Penampakan Hotel Toegoe Jogja di masa lampau. Foto diunggah Minggu (22/3/2026).Penampakan Hotel Toegoe Jogja di masa lampau. Foto diunggah Minggu (22/3/2026). Foto: dok. Dinas Kebudayaan DIY

Dalam iklan di surat kabar tersebut, Logement Tugu direkomendasikan sebagai tempat menginap bagi para pelancong yang datang ke Jogja. Menariknya, penginapan itu sudah dilengkapi fasilitas kolam renang dan kamar mandi yang tergolong mewah pada masanya.

"Nah, di situ disebutkan bahwa Logement Tugu artinya adalah penginapan Tugu, direkomendasikan untuk para pelancong dan penginapan ini sudah dilengkapi pada waktu itu dengan kolam renang dan kamar mandi," kata Yusri.

Namun penginapan tersebut, Yusri mengatakan, tidak beroperasi lama. Berdasarkan pengumuman dalam De Locomotief edisi 30 Oktober 1878, Logement Tugu ditutup untuk umum mulai 1 November 1878 dan seluruh barangnya dilelang pada 4 November di tahun yang sama.

Meski begitu, nama penginapan Tugu masih disebut dalam berita Februari 1885 terkait rencana pembangunan Stasiun Tugu di depan bangunannya.

"Dalam berita itu disebutkan akan dibangun stasiun di depan penginapan tersebut untuk menghubungkan kawasan permukiman Eropa dan permukiman China di Jogja," jelasnya.

Yusri menambahkan, dalam perkembangannya, penginapan tersebut sempat berganti nama menjadi Hotel de Volharding pada 1882 sebelum akhirnya dikenal sebagai Hotel Tugu pada 1883. Meski memiliki sejarah panjang, hingga kini belum diketahui secara pasti siapa pendiri penginapan tersebut. Menurutnya, data yang ada belum bisa memastikan apakah penginapan itu didirikan oleh pemerintah kolonial atau pihak swasta.

"Berdasarkan tulisan arkeolog Lengkong Sanggar Ghinaris dalam blog pribadinya, penginapan Tugu berganti nama menjadi Hotel de Volharding pada tanggal 1 Juni tahun 1882. Perubahan nama menjadi Hotel Tugu baru terjadi itu pada tahun 1883," paparnya.

"Kalau disebut hotel tertua atau siapa pendirinya, itu masih perlu kajian lebih lanjut karena pembuktiannya belum begitu jelas," lanjutnya.

Yusri menjelaskan, merujuk arsip De Locomotief, Hotel Toegoe pernah menjadi saksi sejarah seperti lokasi resepsi penyambutan Raja Siam (Thailand), Chulalongkorn, yang melakukan kunjungan ke Jogja pada 1896. Selain itu, bangunan ini juga sempat difungsikan sebagai markas tentara KNIL pada masa kolonial.

"Kalau peristiwa penting itu yang beberapa ada beberapa. Kayak tempat berlangsungnya resepsi penyambutan dari Raja Siam Chulalongkorn, Raja Siam melawat ke Jogja pada 1896. Berita ini disampaikan dalam harian De Locomotief 29 Juni 1896 itu. Kemudian sebagai markas dari tentara KNIL saat pendudukan Belanda di Jogja," tuturnya.

Memasuki abad ke-20, hotel ini diketahui pernah dibeli oleh pemilik Grand Hotel de Djokja, namun eksistensinya sebagai hotel terus berubah lantaran pergantian kepemilikan dari masa ke masa. Hotel tersebut sempat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti kantor bank hingga kampus. Namun sekitar 2012, bangunan ini mulai kosong dan tidak lagi ditempati.

Kini, Hotel Toegoe telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya nasional. Selain itu, kawasan di sekitarnya juga termasuk dalam situs Warisan Dunia UNESCO, yakni The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks yang ditetapkan pada 2023.

"Kalau statusnya sekarang sudah menjadi bangunan cagar budaya. Jadi sekarang ini sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya nasional. Bangunan ini juga termasuk dalam kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang sudah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Begini Euforia di Jogja Financial Festival & Run D-City 2026"
[Gambas:Video 20detik]
(apu/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads