Jika berbicara pasar tradisional di Kota Jogja, orang sudah tentu akan membahas Pasar Beringharjo, atau Pasar Ngasem. Namun, di Kotagede, terdapat Pasar Legi yang menyimpan sejarah dan daya tarik tersendiri lantaran merupakan pasar tertua di Jogja.
Pasar Legi Kotagede sudah ada sejak berdirinya Kerajaan Mataram Islam di tahun 1549. Sementara Pasar Beringharjo didirikan Sultan Hamengku Buwono I ketika membangun Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat pada 1758.
Penampakan Pasar Legi di Kotagede, Jogja. Foto: Adji G Rinepta/detikJogja |
Sejarah Pasar Legi Kotagede
Dikutip dari laman budaya.jogjaprov.go.id, usai huru-hara kerusuhan Pajang, Ki Gede Pemanahan dihadiahi tanah yang masih berupa hutan di kawasan Mataram oleh Raja Pajang, yaitu Sultan Hadiwijaya. Ki Gede Pemanahan kemudian perlahan menyulap Alas (hutan) Mentaok menjadi sebuah kota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alih-alih membangun istana, Ki Gede Pemanahan yang kelak bergelar Ki Gede Mataram atau Ki Ageng Mataram, lebih dulu membangun Pasar Gedhe, yang kelak akan bernama Pasar Legi Kotagede. Pasar dianggap sebagai pusat ekonomi dan menjadi tonggak peradaban masyarakat.
"(Pasar Legi Kotagede dibangun) Tahun 1578. Keberadaan pasar muncul bersamaan dengan dibangunnya permukiman di Kota Gede oleh Ki Pemanahan bergelar Ki Gede Mataram," jelas Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Dian Lakshmi Pratiwi kepada detikJogja, Jumat (6/3/2026).
"Lokasi pasar berdiri saat dibangunnya permukiman di lokasi itu melalui pembukaan hutan yang dikenal dengan peristiwa Babat Alas Mentaok," sambungnya.
Adapun nama Pasar Legi dipakai lantaran ada hari pasaran menurut kalender Jawa di mana terjadi aktivitas transaksi yang paling ramai, yaitu pada hari pasaran Legi. Pada hari tersebut, bukan hanya berbagai kebutuhan hidup sehari-hari yang dijual, namun juga berbagai jenis kain batik, barang-barang dari besi dan tembaga, hingga gerabah.
"Penamaan 'Legi' adalah nama yang diberikan pada Pasar Gedhe di masa kemudian yang lebih muda, diperkirakan setelah Kotagede tidak lagi menjadi tempat Ibu Kota (setelah tahun) 1618," papar Dian.
"Literatur masa Hindia-Belanda di abad ke-19 menyebut, seluruh area bekas Ibu Kota ini sebagai 'Pasar Gede/Sargede', menandakan komponen kota berupa pasar masih bertahan dan berfungsi terus menerus," lanjutnya.
Penampakan Pasar Legi di Kotagede, Jogja. Foto: Adji G Rinepta/detikJogja |
Daya Tarik Pasar Legi Kotagede
Hingga kini Pasar Legi Kotagede masih terus berdetak menjadi pusat ekonomi di Kawasan Kotagede dan sekitarnya. Aktivitas jual-beli masih terus lestari selama setidaknya 4 abad. Namun, sesuai namanya, pesona Pasar Legi Kotagede paling tampak saat hari pasaran legi.
"Satu-satunya pasar yang masih beroperasi secara terus-menerus selama lebih dari 4 abad, setidaknya 447 tahun. Setiap jatuh hari Legi, di pasar ini terjadi keramaian dan menjadi pusat aktivitas ekonomi, dikenal dengan istilah legen," terang Dian.
"Pedagang menggelar dagangannya meluber memenuhi jalan sekeliling pasar hingga ke lorong-lorong kampung sekitar, banyak pengunjung datang untuk rekreasi. Pedagang dari mana-mana datang menggelar segala macam dagangan," paparnya.
Daya tarik berikutnya adalah fisik bangunan pasar yang masih bernuansa tata ruang perkotaan kuno khas Jawa. Kawasan Kotagede memang terkenal masih mempertahankan tata ruang dan bangunan yang masih kuno nan asli.
Kondisi ini memang dijaga dan menjadi daya tarik utama kawasan wisata Kotagede. Ditambah beberapa bangunan bersejarah yang juga masih dipertahankan seperti Masjid Gedhe Mataram dan Makam Raja-raja Mataram.
"Tidak diketahui secara pasti berapa kali mengalami revitalisasi, setidaknya pasti mengalami perbaikan setelah pasca gempa besar di Yogyakarta pada tahun 1867 dan 2006," ujar Dian.
"(Melestarikan pasar dengan) Merawat fisik bangunan, memfungsikannya tetap sebagai pasar, evaluasi berkala keandalan fisik oleh Dinas Pekerjaan Umum, Adaptasi infrastruktur modern dengan baik dan benar dan mempertimbangkan lokasi sebagai warisan budaya/jejak sejarah," pungkasnya.
Simak Video "Begini Euforia di Jogja Financial Festival & Run D-City 2026"
[Gambas:Video 20detik]
(apu/apu)


Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja