Setianya Pasutri Lansia di Bantul 40 Tahun Produksi Tape Singkong Rumahan

Setianya Pasutri Lansia di Bantul 40 Tahun Produksi Tape Singkong Rumahan

bantul, Pradito Rida Pertana - detikJogja
Selasa, 31 Mar 2026 16:33 WIB
Tape singkong produksi pasutri asal Watugedug, Guwosari, Pajangan, Bantul, Selasa (31/3/2026).
Tape singkong produksi pasutri asal Watugedug, Guwosari, Pajangan, Bantul, Selasa (31/3/2026). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja)
Bantul -

Pasangan suami istri (pasutri) lanjut usia asal Watugedug, Guwosari, Pajangan, Bantul, memproduksi tape singkong hampir empat dekade. Kondisi fisik yang tak lagi muda membuat pasangan ini membatasi memproduksi 70-80 kilogram tape singkong per hari.

Pantauan detikJogja, tampak seorang pria tengah menaburkan ragi ke tumpukan singkong berwarna kuning. Selanjutnya, pria itu menutupnya dengan daun pisang dan daun jati.

Sedangkan di sampingnya tampak seorang wanita sibuk menimbang tape singkong menggunakan timbangan manual. Setelah dirasa pas, tape singkong itu wanita masukkan ke dalam plastik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adalah Samsudin, kakek berusia 64 tahun ini menceritakan awal mula menekuni pembuatan tape singkong. Menurut Samsudin, semua itu berawal saat dirinya menikah dengan Tukul (62).

Selanjutnya, Samsudin melihat mertuanya kerap menanam singkong kuning karena tidak memiliki pekerjaan lain. Setelah itu, mertuanya mencoba mengolah singkong hasil panen menjadi tape.

"Ternyata dibuat tape singkong itu berhasil dan mulai dijual ke Pasar Niten, Pasar Bantul ternyata laku," katanya kepada wartawan di Watugedug, Bantul, Selasa (31/3/2026).

Seiring berjalannya waktu, Samsudin dan istrinya kerap membantu membuat tape singkong. Hingga akhirnya sang mertua meninggal dunia.

"Lalu mulai tahun 1986 saya sama istri meneruskan membuat tape singkong sampai sekarang," ujarnya.

Terkait teknis pembuatan tape singkong, pria berpeci hitam ini mengaku cukup sederhana. Di mana yang pertama adalah merebus singkong kuning setengah matang.

"Kenapa pakai singkong kuning karena itu yang paling bagus, kalau pakai singkong putih itu nanti lembek," ucapnya.

Setelah perebusan setengah matang, Samsudin merendam singkong tersebut dengan air selama satu malam. Tidak berhenti di situ, setelah perendaman berlanjut dengan perebusan lagi selama setengah jam.

"Selesai merebus setengah jam itu singkong nanti dijereng dan diusari (ditaburi) ragi lalu ditutup rapat pakai daun dan kain. Jadi prosesnya dari awal sampai dijual itu memakan waktu empat hari," katanya.

Sedangkan setiap hari, Samsudin mengaku memproduksi puluhan kilogram tape singkong. Samsudin menyebut bahwa jumlah produksi tape tersebut tidak pernah berubah sejak zaman dahulu.

"Setiap hari produksi 70-80 kilogram dan dari dulu memang segitu saja, padahal banyak permintaan. Kenapa? Karena menyesuaikan kemampuan, apalagi sudah tua," ujarnya.

Untuk tape singkong produksinya, Samsudin mematok harga Rp 10 ribu untuk satu kilogram. Namun, terkait omzet Samsudin enggan mengungkapkannya.

"Omzet ya tinggal dikalikan saja itu (hasil produksi dan harga jual), yang penting cukup untuk hidup sehari-hari," ucapnya.

Sedangkan penjualannya, Samsudin mengaku masih di sekitar Bantul. Pasalnya sistem penjualan tape singkongnya masih konvensional.

"Jualannya hanya diambil orang saja terus dijual lagi ke Pasar Niten biasanya, atau Pasar Bantul," ujarnya.




(aku/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads