Kreatif! Emak-emak di Bantul Sulap Limbah Wingko Jadi Minuman Kemasan

Kreatif! Emak-emak di Bantul Sulap Limbah Wingko Jadi Minuman Kemasan

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Jumat, 26 Jun 2026 14:19 WIB
Emak-emak di Bantul menyulap limbah wingkor jadi minuman kemasan
Emak-emak di Bantul menyulap limbah wingkor jadi minuman kemasan. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Bantul -

Warga Cagunan, Trimurti, Srandakan, Bantul menyulap limbah bahan baku pembuatan wingko berupa air kelapa menjadi minuman kemasan. Usaha ini kini dijalankan oleh emak-emak warga desa setempat.

Pantauan detikJogja, di rumah produksi, tampak tiga orang ibu-ibu tengah menuangkan air kelapa dari galon bekas air mineral ke dalam sebuah panci berukuran besar. Selanjutnya, mereka merebus air dalam panci itu hingga mendidih.

Setelah mendidih, mereka mencampurkan gula pasir dan perasan air jeruk nipis. Tidak lama kemudian mereka menuangkan air tersebut ke dalam kemasan botol plastik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Desa Preneur Trimurti, Sulastri, menjelaskan minuman kemasan itu berbahan baku limbah wingko. Ide memanfaatkan limbah tersebut muncul setelah Sulastri melihat banyak produsen wingko di Trimurti yang air kelapanya tidak dipergunakan.

ADVERTISEMENT

"Lalu saya lihat kok air kelapa itu dibeli dengan harga murah oleh produsen nata de coco," katanya kepada wartawan di Trimurti, Srandakan, Bantul, Jumat (26/6/2026).

Dari hal tersebut, Sulastri berinisiatif membeli limbah wingko berupa air kelapa itu dengan harga lebih wajar. Hal itu lalu Sulastri barengi dengan mempelajari bagaimana cara mengolah air kelapa di tahun 2024.

Emak-emak di Bantul menyulap limbah wingkor jadi minuman kemasanEmak-emak di Bantul menyulap limbah wingkor jadi minuman kemasan Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

"Setelah bisa mengolah air kelapa, saya berpikir membeli limbah wingko itu dengan harga Rp 10-20 ribu per galon. Nah, akhirnya mereka mau menjual ke saya," ujarnya.

Selanjutnya, bersama dengan ibu-ibu yang tergabung dalam Desa Preneur, Sulastri mulai memproduksi minuman kemasan berbahan baku limbah wingko. Adapun tahapannya mereka menyaring terlebih dahulu air kelapa.

"Setelah disaring, kita rebus air kelapanya sampai mendidih. Lalu setelah mendidih diberi gula pasir, karena kalau hanya air kelapa kurang segar," ucapnya.

Setelah air kelapa dingin lalu Sulastri memasukan larutan jeruk nipis dan mengaduknya hingga rata. Selanjutnya, Sulastri baru memasukan larutan air itu ke dalam botol plastik.

"Karena air kelapa itu dipanaskan dulu? Karena kalau tidak dipanaskan air kelapa itu hanya bisa bertahan sekitar dua jam," katanya.

Sedangkan minuman kemasan itu hanya bisa bertahan selama enam jam di suhu ruangan. Karena itu, Sulastri menerapkan sistem pre order atau menyesuaikan pesanan.

"Karena cepat basi, kami masih menggunakan sistem pre order. Untuk ready stock itu saat ada event tertentu," ujarnya.

Emak-emak di Bantul menyulap limbah wingkor jadi minuman kemasanEmak-emak di Bantul menyulap limbah wingkor jadi minuman kemasan Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Sedangkan untuk satu botol minuman tersebut dipatok dengan harga Rp 10 ribu. Untuk setiap produksi, minimal Sulastri menghabiskan 15 liter limbah wingko.

"Kalau untuk omzet saya tidak bisa ungkapkan karena menyesuaikan pesanan. Tapi pernah ada yang pesan 1.000 botol untuk acara lari di Kota Jogja," ucapnya.

Sulastri menambahkan, bahwa dengan adanya produksi minuman tersebut bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.

"Ya dengan adanya produksi minuman dari limbah wingko itu membuat ibu-ibu dapat pemasukan," katanya.




(afn/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads