Anak-anak Indonesia sudah dikenalkan dengan banyak tokoh pewayangan semasa bersekolah di jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Salah satu yang sering dibahas adalah Punakawan dan Pandawa.
Punakawan terdiri atas 4 tokoh, yakni Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Sementara itu, Pandawa berisikan Arjuna, Nakula, Sadewa, Yudhistira, dan Werkudara. Setiap tokoh memiliki karakteristik fisik, sifat, dan kemampuan berbeda-beda.
Nama Werkudara tentu sudah tidak asing lagi, terlebih untuk pencinta wayang. Mengingat, tokoh ini hadir dalam banyak lakon, yang paling terkenal adalah Dewa Ruci. Disadur dari laman PUI Javanologi Universitas Negeri Semarang, dalam lakon itu, Werkudara alias Bima berjumpa Dewa Ruci, seorang dewa kerdil, dalam perjalanannya mencari air kehidupan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apabila Yudhistira dikenal sebagai sosok penyuka judi, bagaimana dengan Werkudara? Mari, kenalan lebih dalam dengannya via paparan di bawah ini!
Poin Utamanya:
- Werkudara adalah anak dari Pandu Dewanata dan Dewi Kunthi. Saudaranya adalah keempat anggota Pandawa lain.
- Secara fisik, Werkudara dibentuk bak prajurit. Ia kekar, kuat, dan sangar. Sifatnya sangat mendukung, yakni rela berkorban, tanpa pamrih, dan pemberani.
- Dua senjata Werkudara yang terkenal adalah Kuku Pancanaka dan Gada Rujakpala.
Keluarga Werkudara
Dilansir skripsi Tisnowati Sefterika Putri dari UNY berjudul Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Jawa Materi Wayang dengan Media Kartu Kata Bergambar Wayang di Kelas IV SD Negeri Glagah, Werkudara adalah putra dari Prabu Pandu Dewanata dengan Dewi Kunthi.
Werkudara diketahui memiliki banyak nama lain. Sebut saja Bimasena, Bratasena, Bayusiwi, Kusuma Dilaga, Bima, Jayalaga, dan Abilawa. Adapun saudaranya meliputi Yudhistira alias Puntadewa, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.
Kakanda Arjuna, Nakula, dan Sadewa ini dikisahkan memiliki 3 istri, yakni Dewi Arimbi, Dewi Urangayu, dan Dewi Nagagini. Ia tercatat dianugerahi 2 orang anak yang semuanya sakti, yakni Gatotkaca dan Antareja atau Antasena.
Karakteristik Fisik dan Pakaian Werkudara
Diambil dari jurnal tugas akhir Restu Himawan dari ISI Jogja berjudul Bentuk Wayang Kulit Purwa Gaya Kedu Kajian Terhadap Tokoh Werkudara, tokoh wayang satu ini digamparkan bertumbuh gempal. Tubuhnya tegak dengan mata melotot, kumis melintang, dan kuku panjang.
Ada juga yang menggambarkan Werkudara dengan penampilan leher pendek, pundak belakang sedikit naik, kaki melangkah sedang, dan bermuka merunduk. Hal ini wajar karena dalam dunia pewayangan, penggambaran tokoh memang bisa berbeda antara satu wayang dengan wayang lainnya, tergantung pakem, gaya pedalangan, daerah, serta tafsir sang empu atau dalang.
Fitria Rochmanah dari UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto dalam skripsinya, Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Cerita Kehidupan Werkudara sebagai Lakon Dewa Ruci pada Buku Serat Dewa Ruci Karya Dhamar Shashangka, merinci pakaian Werkudara. Ini daftarnya:
- Rambut Gelung Minangkara, perlambang menyatunya Tuhan dengan hamba.
- Pupuk Mas Rineka Jaroting Asem, simbol kekuatan pikiran manusia.
- Sumping Pudak Sinumpet di telinga, lambang watak yang tidak angkuh atau sombong biarpun punya wawasan lebih.
- Anting-Anting Panunggul Sotya Maniking Warih, lambang memiliki pengetahuan dan wawasan luas.
- Kalung Nagabanda, perlambang kekuatan jasmani.
- Kelat Bahu Balibar Manggis di lengan kanan dan kiri sebagai simbol kesucian hati.
- Gelang Candrakirana di pergelangan tangan, perlambang kemurahan hati Werkudara.
- Paningset Cindhe Bara Binelah di bagian pinggang, wujud kekhusyukan manusia saat beribadah kepada tuhan.
- Kampuh Poleng Bang Bintulu, sebagai perlambang nafsu baik dan buruk manusia.
- Porong Nagaraja Mungwing Dhengkul, simbol keyakinan hati dalam memegang kebenaran.
Sifat Werkudara
Eti Setiawati dan Titis Bayu Widagdo dalam jurnal Litera berjudul 'Strategi Kesantunan Tindak Tutur Direktif Werkudara dalam Wayang Purwa: Analisis Pola Prosodi', menjabarkan bahwasanya Werkudara adalah tokoh yang punya gaya bicara kasar. Ia tidak pernah berbicara halus ataupun santun.
Hal ini tidak bisa dilepaskan dari prinsip yang dianut Werkudara bahwa semua orang derajatnya sama. Alhasil, Werkudara tidak pandang bulu dalam berbicara. Sikap tersebut justru menegaskan karakter Werkudara sebagai sosok jujur, lugas, dan antikemunafikan dalam menyampaikan kebenaran.
Lebih lanjut, Bimo Kuncoro dkk dalam jurnal Didaktika Dwija Indria bertajuk 'Lila, Wani, Korban: Karakter Tokoh Werkudara pada Lakon Wahyu Eka Bawana sebagai Wahana Pendidikan Karakter dan Nilai-Nilai Etika Dasar bagi Anak Sekolah Dasar' menjelaskan sifat lain Werkudara, yakni lila atau ikhlas.
Sifat putra Prabu Pandu Dewanata ini tergambar ketika ia dengan rela menerima tugas berat dalam ritual penyucian Puntadewa. Pun, Werkudara tidak meminta sedikit pun imbalan atau pengakuan.
Werkudara yang memiliki karakter fisik kuat ditambah tutur bicara serampangan adalah seorang pemberani. Ia bukan hanya berani melawan musuh fisik, tetapi juga rintangan mitologis maupun musuh-musuh spiritual.
Dalam kisah-kisah peperangan, Werkudara digambarkan menerjang musuh dengan kemampuannya. Fisik yang mendukung, ditambah senjata mematikan, plus mental tak kenal lelah membuatnya ditakuti.
Karakter lain Werkudara adalah rela berkorban. Ia tidak segan-segan mengorbankan nyawanya demi kepentingan bersama yang lebih mulia. Sifat ini menunjukkan bahwasanya Werkudara adalah seorang yang penuh cinta kasih dan semangat gotong royong, biarpun dari luar tampak sangar.
Senjata Andalan Werkudara
Ageman andalan Werkudara adalah Kuku Pancanaka. Menurut dokumen unggahan Universitas Multimedia Nusantara, senjata ini dipakai Werkudara menghabisi naga laut dalam lakon Dewa Ruci. Ia menancapkannya ke leher naga. Seketika itu pula, tubuh sang naga tercabik-cabik dan lautan berubah menjadi merah darah.
Dalam dunia pewayangan, Kuku Pancanaka Werkudara juga pernah dipakai untuk menghabisi Sengkuni. Senjata itu dimasukkan ke 'lubang' Sengkuni sehingga merobek tubuh dan menembus jantung. Namun, Sengkuni tidak langsung mati. Baru setelah kulitnya terkelupas, tokoh wayang itu gugur.
Senjata lain yang tidak kalah termasyhur adalah Gada Rujakpala. Menurut informasi dari dokumen unggahan Etheses IAIN Kediri, salah satu korban gada ini adalah Gardapura. Ia merupakan senopati perang Kurawa yang tubuhnya hancur seketika setelah dihantam Werkudara dengan Gada Rujakpala.
Demikian sekilas mengenai Werkudara, tokoh wayang yang terkenal berani dan kuat. Semoga menambah wawasan detikers, ya!
FAQ tentang Werkudara
1. Apa yang dapat dipelajari dari tokoh Werkudara?
Kendati bicaranya kasar, tetapi Werkudara memiliki sifat-sifat terpuji, seperti pemberani, rela berkorban, dan tanpa pamrih. Dengan demikian, kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja.
2. Apa makna lakon Dewa Ruci bagi perjalanan hidup Werkudara?
Lakon Dewa Ruci melambangkan perjalanan spiritual Werkudara dalam mengenal jati diri, hakikat hidup, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
3. Benarkah Werkudara itu tokoh yang kuat?
Ya. Kekuatannya tidak hanya bersumber dari perawakan fisik saja, tetapi hati. Selain itu, Werkudara juga punya gaman yang kuat, yakni Kuku Pancanaka dan Gada Rujakpala.
(sto/alg)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja