Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar Garebek Syawal sebagai rangkaian Hajad Dalem perayaan Idul Fitri 2026/Dal 1959, hari ini. Meski tak terlalu padat, ratusan masyarakat tumpah ruah berebut ubo rampe gunungan.
Pantauan detikJogja, masyarakat sudah memadati Masjid Gedhe Kauman bahkan sejak selepas salat Idulfitri. Semakin siang, semakin ramai masyarakat yang datang. Meski begitu, terlihat masyarakat tak sebanyak saat garebek-garebek sebelumnya.
Usai prosesi dilakukan, warga yang sudah memadati pelataran masjid kemudian terbagi ke sisi utara dan selatan. Sementara gunungan yang berada di tengah-tengah oleh abdi dalem dibagikan ke masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu warga asal Bekasi Jawa Berat, Endang, mengaku setiap tahun menyempatkan untuk ikut garebek. Bahkan sejak anak perempuannya, Winda kecil hingga kini telah dewasa.
"Ini memang mudiknya ke Jogja, selalu mampir ke sini, dari anak saya kecil sampai ini udah lulus kuliah," ungkap Endang saat ditemui di Masjid Gedhe Kauman, Jumat (20/3/2026).
Garebek Syawal di Masjid Gedhe Kauman, Jumat (20/3/2026). Foto: Adji Ganda Rinepta/detikJogja |
Endang dan Winda pun berkesempatan mendapat uba rampe gunungan yang dibagikan.
"Ini dapet dua, ketan sama kacang panjang, ya bahan pangan lah. Mau disimpen aja buat kenang-kenangan," ungkap Winda.
Pelaksanaan Garebek Syawal tahun ini dimulai dengan persiapan bregada prajurit sejak pukul 06.30 WIB di Kompleks Kamandhungan Kidul Keraton Yogyakarta. Dilanjutkan iring-iringan bregada prajurit dan gunungan/pareden akan menuruni Sitihinggil di Pagelaran Keraton Yogyakarta sekitar pukul 09.00 WIB.
"Gunungan yang berada di Bangsal Pancaniti, Kamandungan Lor, akan dibawa oleh Kanca Abang melalui Regol Brajanala-Sitihinggil Lor-Pagelaran-keluar lewat barat Pagelaran menuju Masjid Gedhe," ujar Panghageng II Kawadanan Reksa Suyasa (KRT) Kusumanegara.
"Di Masjid Gedhe, setelah didoakan, akan ada gunungan yang dibawa menuju Pura Pakualaman dan pareden yang dibawa ke Kompleks Kepatihan serta ke Ndalem Mangkubumen," sambungnya.
Terdapat lima jenis gunungan yang dibagikan, Gunungan Kakung, Gunungan Estri/Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan. Gunungan tersebut akan dikeluarkan secara berurutan dari Keraton sesuai dengan urutannya.
Ada dua Gunungan Kakung yang peruntukannya masing-masing untuk Masjid Gedhe dan Pura Pakualaman. Sedangkan untuk Kepatihan dan Ndalem Mangkubumen akan diberikan bagian dari gunungan berupa pareden wajik. Selain itu, terdapat satu buah Gunungan yakni Pawuhan, yang selanjutnya dibagikan kepada Abdi Dalem Pengulon.
"Gunungan merupakan perwujudan kemakmuran Keraton atau pemberian dari raja kepada rakyatnya. Jadi makna Garebeg Sawal secara singkatnya adalah perwujudan rasa syukur
(mangayubagya) akan datangnya Idulfitri, yang diwujudkan dengan memberikan rezeki pada masyarakat melalui uba rampe gunungan yang berupa hasil bumi dari tanah Mataram," pungkas Kanjeng Kusumo.
(apl/apl)

Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja