- Apa Itu Primbon Jawa? Hari-Neptu Pasaran-Neptu
- 8 Bulan yang Kurang Baik untuk Menikah di Primbon Jawa Bulan yang Dilarang untuk Menikah 1. Bulan Sura (Muharam) 2. Bulan Mulud (Rabiul Awal) 3. Bulan Pasa (Ramadan) 4. Bulan Dulkangidah (Zulkaidah) Bulan yang Dianjurkan Tidak Dipakai Menikah 1. Bulan Sapar (Safar) 2. Bulan Bakdamulud (Rabiul Akhir) 3. Bulan Jumadilawal (Jumadil Awal) 4. Bulan Sawal (Syawal)
- Pandangan Islam tentang Menikah di Bulan Syawal
- Cara Menentukan Hari Baik Pernikahan
Dalam tradisi masyarakat Jawa, penentuan hari dan bulan pernikahan bukan sekadar soal ketersediaan tanggal atau kesiapan acara. Ada perhitungan khusus yang bersumber dari Primbon Jawa, sebuah warisan budaya yang hingga kini masih dipercaya sebagian orang sebagai pedoman dalam menentukan waktu baik untuk hajatan, termasuk pernikahan. Tak heran, banyak calon pengantin dan keluarga yang mencari tahu bulan apa saja yang dianggap kurang baik untuk melangsungkan akad maupun resepsi.
Isu mengenai bulan yang dianggap kurang baik untuk menikah kerap menjadi perbincangan, terutama ketika memasuki bulan-bulan tertentu dalam kalender Jawa maupun kalender Hijriah. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, benarkah ada bulan Syawal yang dinilai tidak baik untuk pernikahan menurut Primbon Jawa? Pertanyaan ini penting untuk diluruskan, mengingat Syawal dikenal sebagai bulan yang banyak dipakai menikah.
Melalui artikel ini, detikJogja akan bahas 8 bulan menurut Primbon Jawa yang dipercaya kurang baik untuk pernikahan lengkap dengan keterangan tanggal dan hari yang sebaiknya dihindari. Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Primbon Jawa?
Primbon adalah ramalan atau perhitungan yang digunakan oleh masyarakat Jawa. Dikutip dari artikel berjudul 'Penentuan Hari Pernikahan Menggunakan Primbon dari Sisi Istihsan' karya Syamsuri dan Ilham Effendy, primbon adalah ramalan atau perhitungan yang membahas watak manusia dan perhitungan mengenai baik buruknya waktu untuk menentukan kegiatan, seperti pernikahan, pindah rumah, acara adat, dan lain-lain. Primbon bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai kehidupan manusia berdasarkan perhitungan dalam penanggalan Jawa.
Tujuan dari primbon adalah agar kegiatan yang dilaksanakan bisa membawa keberuntungan. Misalnya dalam menentukan hari pernikahan, biasanya akan digunakan hari dan pasaran mempelai wanita. Neptu alias nilai dari hari dan pasaran-lah yang dijadikan acuan untuk perhitungan berdasar Primbon Jawa. Daftar hari dan pasaran Jawa lengkap neptunya adalah:
Hari-Neptu
- Minggu: 5
- Senin: 4
- Selasa: 3
- Rabu: 7
- Kamis: 8
- Jumat: 6
- Sabtu: 9
Pasaran-Neptu
- Kliwon: 8
- Legi: 5
- Pahing: 9
- Pon: 7
- Wage: 4
8 Bulan yang Kurang Baik untuk Menikah di Primbon Jawa
Dirangkum dari buku Kitab Primbon Lengkap karya Gusti Pangeran Harya T dan R Nugroho, buku Primbon Masa Kini karya Donny Satryowibowo R, dan artikel 'Tren Pernikahan di Bulan Pantangan di Sidoarjo' oleh Kemal Riza, dkk., dalam menentukan pernikahan, masyarakat Jawa mengenal adanya bulan baik dan bulan tidak baik. Pada bulan baik, orang Jawa diperbolehkan untuk melaksanakan pernikahan, baik akad nikah, resepsi pernikahan, dan acara lainnya. Sementara itu, pada bulan tidak baik, mengadakan acara pernikahan diyakini akan mendatangkan kesialan atau akibat buruk dalam hidup.
Berikut 8 bulan yang dianggap tidak baik untuk menikah menurut Primbon Jawa:
Bulan yang Dilarang untuk Menikah
1. Bulan Sura (Muharam)
Bulan Sura adalah bulan yang tidak diperkenankan untuk menikah. Apabila seseorang melaksanakan pernikahan pada bulan ini, maka rumah tangga orang yang menikah akan mendapatkan kesialan. Pasangan yang menikah pada bulan Sura dipercaya akan sering mendapatkan kesulitan dan akan sering bertengkar. Selain itu, pasangan yang menikah di bulan ini juga dipercaya akan selalu menemui keburukan dalam proses perjalanan rumah tangganya.
Masyarakat Jawa juga percaya bahwa tanggal yang paling buruk untuk melangsungkan pernikahan pada bulan Sura adalah tanggal 13. Hal ini dikarenakan tanggal 13 merupakan bagian dari tanggal Na'asing Para Nabi (Hari Para Nabi Menerima Cobaan). Tanggal 13 Sura adalah hari ketika Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud.
Orang Jawa juga mempercayai Dina Ala (Hari Buruk) dan Dina Sangaring Sasi (Hari yang Menakutkan). Oleh sebab itu, tidak diperkenankan untuk melaksanakan pernikahan di hari Senin, Selasa, Sabtu dan Minggu bulan Sura.
2. Bulan Mulud (Rabiul Awal)
Bulan kedua yang dianggap tidak baik untuk melangsungkan pernikahan adalah bulan Mulud dalam kalender Jawa. Pasangan yang melaksanakan pernikahan pada bulan ini akan mendapatkan hal-hal buruk yang secara khusus akan menimpa salah satu dari dua orang. Salah satu pasangan dipercaya akan meninggal dunia terlebih dahulu (cepat meninggal) apabila melangsungkan pernikahan di bulan Mulud.
Hari yang dianggap sebagai hari buruk dan hari yang menakutkan pada bulan ini adalah hari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Selain itu, tidak diperkenankan untuk melangsungkan pernikahan khususnya pada tanggal 3 karena merupakan hari ketika Nabi Adam diturunkan ke dunia.
3. Bulan Pasa (Ramadan)
Dalam Primbon Jawa, ada aturan untuk tidak melangsungkan pernikahan di bulan Pasa. Apabila aturan ini dilanggar, masyarakat percaya bahwa pasangan yang menikah akan tertimpa musibah berupa kecelakaan besar atau bencana yang besar.
Dilarang menikah di bulan Pasa khususnya pada tanggal 21 karena bertepatan dengan peristiwa Nabi Musa berperang dengan Raja Firaun. Mengingat, pada tanggal ini Nabi Musa menerima cobaan atau ujian dari Allah SWT sehingga tanggal ini dianggap tidak baik untuk melangsungkan pernikahan. Selain itu, hari yang dianggap tidak baik untuk menikah di bulan Pasa adalah hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.
4. Bulan Dulkangidah (Zulkaidah)
Bulan Dulkangidah adalah salah satu bulan yang tidak diperbolehkan untuk menikah. Apabila dilanggar, maka orang yang menikah pada bulan ini dikabarkan Primbon Jawa akan sering sakit dan sering bertengkar dengan teman-teman atau kerabatnya.
Khusus tanggal 24, larangan menikah begitu ditekankan. Sebab, tanggal 24 bertepatan dengan peristiwa Nabi Yunus ditelan oleh ikan. Hari yang dianggap tidak baik untuk melaksanakan pernikahan di bulan Dulkangidah adalah hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Bulan yang Dianjurkan Tidak Dipakai Menikah
Selain 4 bulan yang tidak boleh dilangsungkan pernikahan menurut Primbon Jawa, juga terdapat beberapa bulan yang dianjurkan untuk tidak menikah tetapi masih boleh dilanggar jika memang mendesak.
1. Bulan Sapar (Safar)
Seseorang yang menikah pada bulan ini akan menemui risiko seperti banyak utang dan selalu merasa kekurangan. Larangan untuk menikah di bulan Sapar masih tergolong tingkat sedang.
Di bulan Sapar, hari yang tidak dianjurkan untuk menjadi hari pernikahan adalah hari Senin, Selasa, Sabtu, dan Minggu. Hari-hari ini adalah hari yang dianggap akan membawa keburukan bagi pasangan yang menikah di hari tersebut.
2. Bulan Bakdamulud (Rabiul Akhir)
Meskipun orang-orang masih diperbolehkan untuk menikah di bulan ini, tetapi risiko yang didapatkan adalah selalu digunjingkan atau difitnah oleh orang lain. Selain itu, jangan memilih tanggal 16 sebagai tanggal pernikahan karena bertepatan dengan peristiwa Nabi Yusuf dijatuhkan ke sumur oleh saudara-saudaranya.
Hari yang perlu dihindari jika menikah di bulan ini adalah hari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Oleh sebab itu, pilihlah hari Jumat, Sabtu, atau Minggu jika ingin menikah di bulan Bakdamulud.
3. Bulan Jumadilawal (Jumadil Awal)
Bulan Jumadilawal dianjurkan tidak dipakai menikah karena diyakini akan membuat kedua mempelai ditipu orang dan kehilangan banyak hal. Di samping itu, masalah lain apabila menikah pada bulan Jumadilawal adalah dimusuhi orang banyak.
Hindari hari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis jika memang harus menikah pada bulan Jumadilawal. Secara khusus, hindari juga tanggal 5 karena bertepatan dengan saat Nabi Nuh dilanda kebanjiran. Masyarakat Jawa percaya, menikah pada hari yang sama dengan saat nabi menerima ujian atau cobaan bisa memberikan dampak buruk.
4. Bulan Sawal (Syawal)
Pasangan yang menikah pada bulan ini akan selalu merasa kekurangan dan terlilit hutang. Apabila menikah pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, pasangan tersebut juga akan mendapatkan peristiwa tidak baik karena bertepatan dengan hari buruk dalam Primbon Jawa.
Pandangan Islam tentang Menikah di Bulan Syawal
Menurut keterangan di laman resmi Kementerian Agama, orang Arab jahiliyah yakin Syawal adalah bulan pantangan untuk menikah. Keyakinan ini ditampik langsung oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang justru melangsungkan pernikahan.
Dasarnya adalah hadits:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي.... متفق عليه
Artinya: "Dari Aisyah RA ia berkata, 'Rasulullah SAW menikahi aku pada bulan Syawal dan menggauliku (pertama kali juga, pent) pada bulan Syawal. Lalu manakah istri-istri beliau SAW yang lebih beruntung dan dekat di hatinya dibanding aku?'" (Muttafaq 'Alaih)
Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, atau biasa dikenal sebagai Imam Nawawi, menyebut hadits di atas berisi anjuran untuk menikah, menikahkan, atau berhubungan suami istri pada bulan Syawal. Dengan demikian, sudah jelas Islam tidak menganggap Syawal sebagai bulan buruk untuk menikah.
Bahkan, pernikahan Nabi SAW pada bulan kesepuluh Hijriah ini ditafsirkan ulama sebagai sunnah. Wallahu a'lam bish-shawab.
Cara Menentukan Hari Baik Pernikahan
Setelah memahami bulan kurang baik untuk menikah versi Primbon Jawa, tidak ada salahnya bagi detikers sekaligus memahami cara menentukan hari baik pernikahan. Bagaimana cara hitungnya?
Dirujuk dari artikel dengan judul 'Penentuan Hari Pernikahan Menggunakan Primbon dari Sisi Istihsan' karya Syamsuri dan Ilham Effendy, penentuan hari pernikahan dalam tradisi Jawa biasanya menggunakan hari dan pasaran dari mempelai wanita. Sebagai contoh, jika hari kelahiran mempelai wanita adalah Rabu Wage, maka dalam menentukan hari pernikahan bisa dipilih berdasarkan harinya saja atau pasarannya saja.
Jika yang digunakan adalah harinya, misalnya Rabu, maka langkah pertama adalah membuat urutan hari mulai dari Rabu hingga Selasa. Setelah itu, pilih hari yang memiliki nomor urut genap dari hitungan tersebut, seperti Rabu, Kamis, Sabtu, atau Senin. Misalnya dipilih hari Kamis karena termasuk urutan genap.
Langkah berikutnya adalah menentukan pasaran yang akan dipasangkan dengan hari tersebut. Caranya, jumlahkan neptu hari dan neptu pasaran, lalu hasilnya dibagi 9. Jika sisa pembagiannya adalah 1 atau 2, maka dianggap baik. Sisa 1 melambangkan "guru" atau sosok panutan, sedangkan sisa 2 melambangkan "Wisnu", tokoh pewayangan yang identik dengan kebaikan. Sementara itu, sisa 3 dianggap melambangkan "Bromo" (api atau panas), dan sisa 4 melambangkan "pikun" atau kurang baik, sehingga biasanya dihindari dalam menentukan hari pernikahan.
Demikianlah penjelasan mengenai 8 bulan menurut Primbon Jawa yang dianggap kurang baik untuk pernikahan, salah satunya ialah bulan Syawal. Semoga artikel ini bermanfaat ya detikers!
Artikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik
(num/ams)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja