Jalur rel kereta api yang dulu menghubungkan Stasiun Ngabean, Kota Jogja, dengan Stasiun Pundong, Bantul, kini hanya menyisakan jejak sejarah. Salah satu penyebab hilangnya jalur tersebut adalah runtuhnya industri gula di DIY akibat krisis ekonomi dunia pada dekade 1930-an.
Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Baha Uddin, menjelaskan jalur rel tersebut awalnya dibangun untuk mendukung aktivitas pabrik gula yang saat itu menjadi salah satu penggerak ekonomi di DIY. Rel kereta digunakan untuk mengangkut tebu maupun hasil produksi gula dari pabrik menuju pusat distribusi.
Menurutnya, pada masa kolonial Belanda terdapat sekitar 19 pabrik gula yang beroperasi di wilayah DIY. Namun, seluruh industri tersebut terpukul oleh krisis ekonomi dunia atau malaise yang terjadi pada tahun 1930-an.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi krisis malaise ekonomi itu kemudian mengakibatkan hampir semua industri gula di Hindia Belanda bangkrut. Termasuk yang ada di Jogja, ada sekitar 19 pabrik gula yang ada di Jogja pada masa itu," ujar Baha saat dihubungi detikJogja, Rabu (10/6/2026).
Kondisi tersebut, kata Baha, berdampak langsung terhadap operasional jalur kereta yang selama ini melayani kebutuhan industri gula. Ketika pabrik-pabrik berhenti beroperasi, angkutan kereta kehilangan fungsi utamanya.
"Begitu pabriknya tutup, ya otomatis tidak ada lagi yang mau diangkut. Kereta yang dibangun untuk melayani atau memfasilitasi transportasi pabrik itu juga kemudian tidak beroperasi," jelasnya.
Meski demikian, Baha menyebut rel-rel kereta tersebut tidak langsung hilang. Setelah industri gula runtuh dan masa kolonial Belanda berakhir, sebagian besar rel masih ada meski tak ada lagi kereta yang beroperasi.
"Setelah berakhirnya penjajahan Belanda, rel-rel itu masih ada, cuma keretanya yang tidak beroperasi," jelasnya.
Baha menuturkan salah satu pabrik gula yang ikut terdampak krisis adalah Pabrik Gula Padokan yang dulu berdiri di lokasi Pabrik Gula Madukismo saat ini. Pabrik tersebut bangkrut bersama pabrik gula lainnya akibat lesunya pasar ekspor dunia.
Menurut dia, depresi ekonomi global ketika itu terjadi karena pasokan komoditas melebihi kebutuhan pasar. Akibatnya harga komoditas anjlok dan produk-produk ekspor sulit terserap.
"Komoditas tidak laku di pasar internasional. Karena pabrik-pabrik ini orientasinya ekspor, maka kemudian mereka mati," ungkapnya.
Selain industri gula, Baha menyebut komoditas ekspor lain di Jogja seperti tembakau dan indigo atau bahan pewarna kain juga mengalami dampak serupa akibat krisis ekonomi dunia pada masa itu. Namun, hilangnya pabrik-pabrik gula menjadi salah satu faktor utama yang membuat sejumlah jalur rel penunjang industri di Jogja akhirnya lenyap dari peredaran.
"Komoditas tidak laku di pasar internasional, maka kemudian mengakibatkan pabrik-pabrik yang orientasinya itu adalah ekspor maka kemudian mereka mati. Kereta-kereta yang dibangun untuk melayani atau untuk memfasilitasi keberadaan transportasi pabrik itu juga kemudian tidak beroperasi," pungkasnya.
(apl/apu)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja