Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengumumkan akan meniadakan beberapa prosesi dalam Hajad Dalem Garebeg Besar pada Iduladha 1447H/Dal 1959, Rabu (27/5) mendatang. Prosesi seperti arak-arakan dan rayahan gunungan pun ditiadakan.
Diketahui, prosesi arak-arakan gunungan selalu menyedot perhatian warga bahkan wisatawan. Prosesi rayahan atau pembagian uborampe gunungan selalu menjadi rebutan masyarakat. Berikut sejarah dan makna rayahan gunungan dalam upacara Garebeg.
Sejarah dan Makna Rayahan Gunungan
Hajad Dalem Garebeg adalah salah satu upacara adat yang rutin digelar Keraton Yogyakarta setidaknya tiga kali dalam setahun. Pertama Garebeg Sawal untuk memperingati hari raya Idul Fitri, lalu Garebeg Besar pada Idul Adha, serta Garebeg Mulud untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari laman resmi Keraton Jogja, Kratonjogja.id, kata Garebeg berarti diiringi atau diantar oleh orang banyak. Hal ini merujuk pada Gunungan yang diiringi oleh para prajurit dan Abdi Dalem dalam perjalanannya dari keraton menuju Masjid Gedhe Kauman, tempat gunungan didoakan dan dibagikan.
Upacara Garebeg berasal dari tradisi Jawa kuno yang disebut Rajawedha. Pada upacara ini, raja akan memberikan sedekah kepada rakyat sebagai simbol kemakmuran di wilayah kerajaan. Sedekah raja itu lah yang terwujud dalam bentuk gunungan.
Gunungan terbuat dari hasil bumi seperti palawija, buah dan sayur-sayuran, serta jajanan. Gunungan ini merupakan perwujudan rasa syukur atas melimpahnya hasil bumi dari wilayah kerajaan, dan kemudian dibagikan untuk kesejahteraan rakyat.
Gunungan yang disiapkan pada Upacara Garebeg terdiri dari 5 jenis, Gunungan Kakung, Gunungan Putri, Gunungan Darat, Gunungan Gepak dan Gunungan Pawuhan. Usai upacara di dalam Keraton, gunungan akan dikirab menuju ke Masjid Gedhe.
Di Masjid Gedhe, Gunungan akan didoakan oleh Kyai Penghulu. Setelahnya, Gunungan akan dikeluarkan di pelataran Masjid untuk dibagikan atau dirayah masyarakat. Masyarakar meyakini bahwa dengan mendapatkan makanan yang telah dibacakan doa akan mendapatkan berkah Dalem.
Arak-arakan dan Rayahan Ditiadakan
Pada Hajad Dalem Garebeg Besar Idul Adha 1447H/Dal 1959, Rabu (27/5) mendatang, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat telah mengonfirmasi jika Garebeg Besar akan digelar dengan prosesi yang lebih sederhana. Prosesi seperti arak-arakan dan rayahan gunungan ditiadakan.
Bupati Nayaka di Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara menyebut, alasan disederhanakanya prosesi Garebeg Besar esok lantaran dhawuh atau perintah Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
"Betul bahwa kami, Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, belum lama ini nampi Dhawuh Dalem (menerima perintah dari Sultan) untuk menyederhanakan prosesi Garebeg dimulai dari besok Garebeg Besar," jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima detikJogja, Rabu (20/5/2026).
KRT Kusumanegara mengatakan peniadaan prosesi yang dilakukan pada Garebeg Besar tahun ini cukup banyak. Mulai dari rangkaian upacara yang mengawali Garebeg hingga arak-arakan dan pembagian gunungan ke masyarakat.
Prosesi seperti Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik yang biasanya digelar tiga hari sebelum penyelenggaraan Garebeg Besar juga ditiadakan. Sedangkan pemberian sedekah dari raja pada kawula tetap diwujudkan dengan pembagian ubarampe pareden kepada seluruh Abdi Dalem di Keraton Yogyakarta.
"Tidak ada gunungan yang keluar dari keraton, tidak ada iring-iringan prajurit juga. Seluruh ubarampe pareden nantinya hanya akan dibagikan kepada Abdi Dalem Keraton Yogyakarta," papar Kangjeng Kusumanegara.
(alg/afn)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja