Suro merupakan salah satu bulan yang terkenal dalam tradisi masyarakat Jawa. Kehadirannya selalu identik dengan berbagai ritual, tirakat, hingga peringatan Tahun Baru Jawa yang masih dilestarikan di sejumlah daerah. Tidak sedikit pula masyarakat yang menganggap bulan Suro sebagai bulan yang sakral dan keramat.
Namun, pernahkah detikers bertanya mengapa bulan Suro justru menjadi bulan pertama dalam kalender Jawa? Padahal, sebelum Islam berkembang di Nusantara, masyarakat Jawa telah mengenal sistem penanggalan Saka yang memiliki susunan bulan yang berbeda.
Penetapan bulan Suro sebagai awal tahun Jawa ternyata tidak lepas dari peran Sultan Agung dalam merumuskan kalender Jawa pada abad ke-17. Kalender tersebut merupakan hasil perpaduan antara sistem penanggalan Islam dan tradisi Jawa yang telah berkembang sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, mengapa bulan Suro dipilih sebagai bulan pertama dalam kalender Jawa? Bagaimana sejarah dan latar belakang penetapannya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Apa Itu Bulan Suro?
Bulan Suro adalah bulan pertama dalam sistem penanggalan Jawa yang menandai pergantian tahun atau Tahun Baru Jawa. Dikutip dari buku Horoskop Jawa Desta (20 April-12 Mei) karya Suroso Aji Pamungkas, kalender Jawa terdiri atas 12 bulan, yaitu Suro, Sapar, Mulud, Rabingulakir, Jumadilawal, Jumadilakir, Rajab, Ruwah, Pasa, Sawal, Hapir, dan Besar. Adapun jumlah hari pada masing-masing bulan dalam kalender Jawa adalah sebagai berikut:
- Suro: 30 hari
- Sapar: 29 hari
- Mulud: 30 hari
- Rabingulakir: 29 hari
- Jumadilawal: 30 hari
- Jumadilakir: 29 hari
- Rajab: 30 hari
- Ruwah: 29 hari
- Pasa: 30 hari
- Sawal: 29 hari
- Hapir: 30 hari
- Besar: 29 hari
Dalam buku Misteri Bulan Suro oleh Muhammad Sholikhin, disebutkan bahwa bulan Suro dipandang sebagai bulan yang sakral atau keramat, khususnya oleh masyarakat Jawa yang masih memegang teguh tradisi leluhur. Bulan ini dianggap sebagai momen yang tepat untuk melakukan introspeksi diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta memohon keselamatan dan keberkahan untuk satu tahun ke depan.
Secara tradisi, bulan Suro merupakan bulan penentu perjalanan hidup. Oleh sebab itu, masyarakat percaya bahwa di bulan ini manusia harus meninggalkan berbagai perayaan duniawi, untuk menyatukan sedulur papat lima pancer, dan fokus kepada Allah. Hingga saat ini, bulan Suro masih dianggap sebagai bulan yang penting dalam tradisi Jawa.
Sejarah Kalender Jawa
Kalender Jawa yang digunakan saat ini merupakan hasil reformasi sistem penanggalan yang dilakukan oleh Raja Mataram, Sultan Agung, pada abad ke-17. Dikutip dari buku Keistimewaan Yogyakarta dalam Lintasan Sejarah oleh Lilik Sumarhaji, dkk., kalender Jawa diciptakan pada tahun 1633 M sebagai perpaduan antara kalender Hijriah yang digunakan umat Islam dan kalender Saka yang telah lama digunakan masyarakat Jawa.
Pembentukan kalender Jawa dilatarbelakangi oleh keinginan Sultan Agung untuk menyatukan masyarakat Jawa yang saat itu terdiri dari kalangan santri dan kejawen. Dengan menggabungkan unsur-unsur dari kedua sistem penanggalan tersebut, diharapkan tercipta sebuah kalender yang dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sebelum pengaruh Islam berkembang di Jawa, masyarakat menggunakan kalender Saka yang berbasis pada peredaran Matahari. Setelah Islam masuk dan berkembang, muncul kebutuhan untuk menyesuaikan sistem penanggalan dengan tradisi Islam yang menggunakan peredaran Bulan. Dari sinilah lahir kalender Jawa yang memadukan unsur budaya lokal dengan tradisi Islam.
Dirujuk dari buku Resepsi Al-Quran dan Bentuk Spiritualitas Jawa Modern karya Samsul Ariyadi, salah satu ciri utama kalender Jawa adalah penggunaan sistem perhitungan bulan sebagaimana kalender Hijriah, tetapi tetap mempertahankan penomoran tahun dari kalender Saka. Selain itu, sejumlah nama bulan mengalami penyesuaian agar lebih dekat dengan pengucapan masyarakat Jawa. Misalnya, Muharam menjadi Suro, Safar menjadi Sapar, Ramadan menjadi Pasa, dan Dzulkaidah menjadi Dulkangidah.
Kalender Jawa juga memiliki ciri khas berupa sistem hari pasaran yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai tradisi masyarakat Jawa. Hari pasaran tersebut terdiri atas Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Sistem ini kemudian dipadukan dengan tujuh hari dalam sepekan sehingga melahirkan konsep weton yang dikenal luas dalam budaya Jawa.
Selain memiliki nama bulan yang berbeda, kalender Jawa juga mengenal siklus penamaan tahun yang berulang setiap delapan tahun sekali atau dikenal sebagai windu. Urutan nama tahun dalam satu windu adalah Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Ba', Wawu, dan Jimakir.
Kalender Jawa susunan Sultan Agung diumumkan dan mulai diberlakukan pada 8 Juli 1633 M yang bertepatan dengan 1 Muharam 1043 H. Pada saat itu, penanggalan baru dimulai dengan tanggal 1 Suro 1555 Jawa. Sejak saat itulah kalender Jawa menjadi sistem penanggalan resmi di lingkungan Kesultanan Mataram dan terus digunakan oleh masyarakat Jawa hingga saat ini.
Mengapa Suro Menjadi Bulan Pertama Kalender Jawa?
Bulan Suro ditetapkan sebagai bulan pertama dalam kalender Jawa karena sistem penanggalan Jawa yang disusun Sultan Agung mengadopsi sistem kalender Hijriah. Dalam kalender Islam, bulan pertama adalah Muharam. Ketika kalender Jawa Islam dibentuk, Muharam kemudian diadaptasi menjadi Suro dan ditempatkan sebagai awal tahun dalam penanggalan Jawa.
Dalam buku Perkembangan Perumusan Kalender Islam Internasional karya Muh. Rasywan Syarif, dijelaskan bahwa nama Suro berasal dari penyebutan Asyura, yaitu hari ke-10 pada bulan Muharam yang memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam. Masyarakat Jawa lebih akrab dengan istilah Asyura atau Sura dibandingkan Muharam, sehingga nama bulan pertama dalam kalender Jawa kemudian dikenal sebagai bulan Suro.
Pemilihan bulan Suro sebagai awal tahun juga mencerminkan kuatnya pengaruh budaya Islam dalam sistem penanggalan Jawa. Dengan menjadikan Muharam atau Suro sebagai bulan pertama, Sultan Agung berupaya menyelaraskan tradisi Jawa dengan ajaran Islam yang saat itu berkembang pesat di Pulau Jawa.
Selain itu, dilansir detikEdu, pada awalnya sistem penanggalan Jawa Islam mengikuti susunan bulan dalam kalender Hijriah. Namun, untuk menyesuaikan dengan budaya dan bahasa masyarakat Jawa, nama-nama bulan kemudian mengalami perubahan atau "dibahasajawakan". Muharam berubah menjadi Suro, Safar menjadi Sapar, Rabiul Awal menjadi Mulud, Ramadan menjadi Pasa, dan seterusnya.
Nama Suro sendiri dipilih karena erat kaitannya dengan peringatan Hari Asyura yang jatuh pada 10 Muharam. Dalam tradisi Islam, Hari Asyura dikenal sebagai hari yang memiliki berbagai peristiwa penting dan menjadi salah satu hari yang dimuliakan. Pengaruh inilah yang membuat masyarakat Jawa kemudian lebih mengenal Muharam sebagai bulan Suro.
Dengan demikian, alasan bulan Suro menjadi bulan pertama dalam kalender Jawa tidak terlepas dari sejarah pembentukan kalender Jawa oleh Sultan Agung yang mengadopsi sistem kalender Hijriah. Oleh karena itu, 1 Suro dan 1 Muharam pada dasarnya sama-sama menandai awal tahun baru dalam sistem penanggalan masing-masing.
Itulah penjelasan mengapa bulan Suro menjadi bulan pertama dalam kalender Jawa. Semoga informasi ini bermanfaat detikers!
Artikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik
(num/ahr)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja