Strategi UMY Atasi Ketimpangan Jumlah Penerimaan Maba di PTN dan PTS

Strategi UMY Atasi Ketimpangan Jumlah Penerimaan Maba di PTN dan PTS

Nur Umar Akashi - detikJogja
Kamis, 23 Apr 2026 16:27 WIB
Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi (kanan) dan Sekretaris UMY, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan (kiri) saat dialog dengan awak media di Kampus UMY, Bantul, Rabu (22/4/2026).
Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi (kanan) dan Sekretaris UMY, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan (kiri) saat dialog dengan awak media di Kampus UMY, Bantul, Rabu (22/4/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof Dr Achmad Nurmandi MSc menjelaskan kenaikan jumlah mahasiswa baru secara signifikan di PTN BH dan PTN BLU. Fenomena tersebut berdampak pada Perguruan Tinggi Swasta (PTS) hingga menciptakan ketimpangan struktural dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional.

"Peningkatan jumlah mahasiswa PTN BH (Berbadan Hukum) dan PTN BLU (Badan Layanan Umum) selama 4 tahun terakhir sebanyak 1 juta 400 mahasiswa dari perhitungan kita. Itu diserap mereka dari yang sebelumnya hanya delapan ribu menjadi dua belas ribu dan seterusnya," kata Prof Achmad dalam konferensi pers di gedung AR Fachruddin A UMY pada Rabu (22/4/2026).

Menurut Prof Achmad, alih-alih bersaing di tingkat nasional, PTN sudah semestinya ikut kontestasi di level global. Ia menyayangkan PTN yang justru memperbanyak menerima mahasiswa S1 alih-alih S2 atau S3 untuk menguatkan riset.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka lebih baik bersaing di level global. Kalau bersaing di global, sudah tentu mereka tidak banyak menerima S1. Harusnya banyak menerima mahasiswa S2 atau S3. Untuk memperkuat riset dampak perguruan tinggi terhadap daya saing global," katanya.

Rektor UMY masa bakti 2024-2028 itu juga menyorot 'persaingan' PTN dan PTS di Korea Selatan dan Taiwan yang memiliki pasar perguruan tinggi mirip Indonesia. Di kedua negara Asia itu, Achmad menyebut, sistem berlaku lebih fair.

"Jadi mereka memberikan ruang yang sama kepada PTN dan PTS. Nggak ada bedanya," kata Achmad.

Menyikapi kondisi ini, UMY mengaku sudah melakukan follow-up kepada pemerintah. Sekretaris UMY, Dr Bachtiar Dwi Kurniawan, berharap pemangku jabatan eksekutif dan legislatif Indonesia segera mengambil langkah nyata demi ekosistem pendidikan di Indonesia.

"Ini memang keresahan bersama. Perguruan Tinggi Swasta mengalami dampak yang besar terkait dengan penerimaan mahasiswa baru. Tidak hanya perguruan tinggi Muhammadiyah, perguruan tinggi yang dikelola oleh institusi, ormas, yayasan lain juga terdampak," kata Bachtiar di acara yang sama.

Bachtiar tidak menampik adanya efek penurunan jumlah pendaftar UMY dalam 3 tahun terakhir. Ia mengatakan jumlah yang mendaftar, yang diterima, maupun yang registrasi ulang terus mengalami penyusutan.

"Kami nggak mengelak, kami memang mengalami penurunan. Setiap tahun selalu menurun. Mendaftar dan yang diterima serta yang registrasi (turun jumlahnya)," papar Bachtiar.

Menyikapi kondisi ini, UMY mengaku sudah melakukan follow-up kepada pemerintah. Bachtiar berharap, pemangku jabatan eksekutif dan legislatif Indonesia segera mengambil langkah nyata demi ekosistem pendidikan di Indonesia.

"Mudah-mudahan jajaran eksekutif sudah satu frekuensi dengan legislatif untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang sejajar, saling melengkapi dan saling menguatkan," katanya.

UMY Terapkan Pembayaran Biaya Kuliah Bertahap

Langkah lain yang diambil UMY adalah menjalankan kebijakan pembayaran biaya kuliah per termin untuk mahasiswanya. Direktur Komunikasi Publik UMY, Dr Ratih Herningtyas, mengaku kebijakan ini membawa dampak.

"Ini sedikit banyak bisa mengurangi kekhawatiran bahwa kuliah di UMY itu mahal. Karena, ternyata ada lumayan dampaknya dari sisi bahwa yang registrasi itu mempertimbangkan pembayaran di awal," jelasnya.

Kebijakan ini memampukan mahasiswa UMY untuk membayar separuh biaya pada awal semester. Sisanya, dapat dilunasi setelah ujian tengah semester sehingga tidak memberatkan aspek ekonomi generasi penerus bangsa.

UMY Buka Prodi Baru untuk Jawab Kejenuhan Program Studi Konvensional

Strategi lain yang ditempuh UMY untuk menarik minat mahasiswa baru adalah menghadirkan program studi (prodi) baru. Di samping mengikuti kebutuhan masyarakat yang kian berkembang, kebijakan ini juga bertujuan untuk menghilangkan kejenuhan prodi konvensional.

"Kami punya inovasi untuk meningkatkan permintaan masyarakat dan memfasilitasi akses pendidikan terhadap hal-hal yang kekinian. Kami membuka prodi baru, misalnya prodi AI, Bisnis Digital, dan Olahraga," jelas Bachtiar.

Sekretaris UMY itu berharap, pembukaan prodi baru dapat memberikan masyarakat alternatif pilihan studi yang lebih menjawab kebutuhan. Mengingat, perkembangan teknologi digital yang terus menggeliat beberapa tahun terakhir membutuhkan keahlian baru pula.

Selain jenjang sarjana, UMY juga membuka beberapa prodi di level magister, mulai dari Magister Teknologi Informasi, Magister Mesin, hingga Magister Farmasi. Adapun di tingkat doktoral, UMY sudah mengantongi izin untuk prodi Hukum.

Universitas yang berdiri pada akhir abad ke-20 itu juga menyiapkan pembukaan program spesialis untuk menjawab kebutuhan dokter Indonesia. Rektor UMY, Prof Dr Achmad Nurmandi MSc menjelaskan akan membuka 12 pendidikan spesialis, salah satunya untuk spesialis gigi anak.

"Kita membuka pendidikan spesialis sebanyak 12 pendidikan spesialis untuk mendukung kebutuhan jumlah dokter spesialis di seluruh Indonesia yang kekurangan 47.000 dokter. Utamanya di daerah Kalimantan, Sulawesi, Papua, NTT, NTB, bahkan Sumatera," kata Prof Achmad.




(par/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads