UMY Bedah Buku Kapitalisme Religius, Kupas Peradaban Islam dari Sisi Ekonomi

UMY Bedah Buku Kapitalisme Religius, Kupas Peradaban Islam dari Sisi Ekonomi

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Rabu, 03 Jun 2026 15:54 WIB
Forum bedah buku Kapitalisme Religius: Peradaban Islam Masa Depan di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Bantul, Rabu (3/6/2026).
Forum bedah buku 'Kapitalisme Religius: Peradaban Islam Masa Depan' di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Bantul, Rabu (3/6/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Bantul -

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) hari ini menggelar bedah buku 'Kapitalisme Religius: Peradaban Islam Masa Depan'. Buku ini mengupas peradaban Islam dari sisi ekonomi.

Buku ini karya Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (UII), Dr Suwarsono Muhammad. Dalam acara itu, Suwarsono mengatakan peradaban Islam pernah memainkan peran penting dalam sejarah dunia, bahkan menjadi kekuatan yang mampu 'meremajakan' peradaban global.

Maka itu ia meyakini Islam memiliki peluang untuk kembali bangkit di masa depan. Dalam forum tersebut, Suwarsono mengulas posisi dunia Islam di tengah perubahan tatanan global yang ditandai dengan gejala kemunduran Barat dan kebangkitan China.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Salah satu peran luar biasa yang diambil oleh peradaban Islam itu adalah meremajakan dunia. Ketika Barat kolaps, proses bangkitnya itu tidak langsung Barat bangkit, ada perantaranya yaitu Islam. Dan Islam itulah yang meremajakan dunia," kata Suwarsono saat memaparkan materi, Rabu (3/6/2026).

Menurutnya, sejarah menunjukkan Islam pernah menjadi pusat kemajuan peradaban. Karena itu ia menilai kebangkitan Islam tidak bisa hanya dipahami dari sisi politik maupun agama semata, tetapi juga perlu dilihat dari aspek ekonomi.

Suwarsono mengaku mulai tertarik mengkaji ekonomi dalam sejarah Islam setelah berdiskusi dengan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif. Salah satu pertanyaan yang mengusiknya saat itu adalah mengapa sejarah peradaban Islam lebih banyak dibahas dari sisi politik dan kebudayaan, sementara aspek ekonomi jarang mendapat perhatian.

"Kok saya melihat ya, jarang sekali sejarah peradaban Islam itu dikupas dari sisi ekonomi. Yang banyak itu dari sisi politik, dari sisi kebudayaan, dari sisi agama, tapi dari sisi ekonomi kok jarang," tuturnya.

"Apa tidak ada ekonomi ketika itu? Itu pertanyaan kedua yang saya ajukan," lanjutnya.

Dari berbagai kajian yang dilakukannya, Suwarsono sampai pada kesimpulan bahwa Islam pada masa Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin bukanlah peradaban yang miskin.

"Menurut saya Islam itu dulu kaya," ujarnya.

Ia mencontohkan, kemampuan umat Islam pada masa awal dalam menguasai perdagangan, dan memiliki berbagai sarana yang menurutnya menunjukkan tingkat kesejahteraan yang tinggi.

"Apa indikator bahwa zaman Muhammad dan zaman Khulafaur Rasyidin itu kaya? Coba perhatikan alat-alat perang yang dimiliki oleh umat Islam zaman itu, jauh lebih sophisticated. Kuda, unta, panah, macam-macam, pedang. Itu mustahil bisa dimiliki oleh peradaban yang miskin. Mustahil," katanya.

Berangkat dari pemikiran tersebut, Suwarsono menawarkan konsep kapitalisme religius sebagai strategi pembangunan peradaban Islam masa depan. Menurutnya, masyarakat Arab telah mengenal tradisi perdagangan jauh sebelum Islam hadir. Namun setelah Islam berkembang, sistem tersebut mendapat intervensi nilai-nilai agama dan peran negara.

"Arab sebelum Islam itu merchant capitalism. Setelah Islam berubah menjadi state capitalism. Kapitalisme negara yang sumber dan inspirasinya datang dari agama," jelasnya.

Dalam pandangannya, kapitalisme religius dapat menjadi alternatif di tengah dominasi gagasan sosialisme yang selama ini banyak memengaruhi negara-negara Islam pascakemerdekaan.

Suwarsono berharap gagasan tersebut tidak berhenti sebagai buku atau bahan diskusi semata. Ia bahkan mengusulkan agar kapitalisme religius dikembangkan menjadi mazhab pemikiran yang terus dikaji dan dikembangkan oleh kalangan akademisi.

"Kalau ingin menjadikan kapitalisme religius itu sebagai mazhab dominan, maka minimal dibangun jurnal dulu. Jadi membangun mazhab, membangun teori, itu ada caranya. Tidak sekadar menulis lalu selesai," pungkasnya.




(dil/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads