Perjuangan Revan Lulusan Sarjana Terapan UGM Raih IPK Tertinggi 3,92

Perjuangan Revan Lulusan Sarjana Terapan UGM Raih IPK Tertinggi 3,92

Adji G Rinepta - detikJogja
Kamis, 04 Jun 2026 18:17 WIB
Revandra Aryo Dwi Krisnandaru di halaman Grha Sabha Pramana, pada Rabu, (21/5/2026).
Revandra Aryo Dwi Krisnandaru di halaman Grha Sabha Pramana, pada Rabu, (21/5/2026). (Foto: dok. UGM)
Jogja -

Revandra Aryo Dwi Krisnandaru menjadi lulusan terbaik Program Sarjana Terapan Periode III Tahun Akademik 2025/2026 Universitas Gajah Mada (UGM). Ia lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi, yakni 3,92.

Revan, sapaannya, mengungguli IPK para wisudawan Sekolah Vokasi UGM. IPK rata-rata untuk lulusan Program Sarjana Terapan Periode ini adalah 3,63.

Hebatnya lagi, mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak ini berhasil menuntaskan perjalanan akademiknya dengan berbagai keterbatasan. Ia harus berkuliah sembari menjadi pekerja lepas di akhir masa kuliah hingga harus memperpanjang masa studinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya sangat kaget, ya. Apalagi saya sedang bekerja hingga menambah semester," ujar Revan melalui keterangannya, Rabu (3/6).

Lulusan Jurusan Perminyakan SMKN 1 Tuban itu menceritakan susahnya adaptasi karena pilihan prodinya di UGM bertolak belakang dengan jurusannya saat SMK. Revan mengaku saat masa awal transisi ia harjs belajar mandiri melalui video pembelajaran dan situs gratis.

"Sejak dinyatakan lolos SNMPTN hingga awal perkuliahan, saya mengasah skill dengan mengikuti ecourse. Waktu itu juga ada tantangan dari guru BK untuk membuat game, akhirnya saya iseng membuat game dengan python," jelasnya.

Tak hanya itu, tantangan lain yang dihadapi Revan adalah keterbatasan laptop pribadi yang mumpuni yang menjadi modal krusial bagi mahasiswa bidang teknologi. Sampai-sampai, saat kuliah mulai dilakukan secara tatap muka, ia menghabiskan sebagian besar waktunya di laboratorium komputer milik prodi.

"Sewaktu semester 1, saya gunakan komputer orang tua. Ya, ada, tapi memang untuk kerja orang tua. Spesifikasinya juga tidak begitu tinggi, tipikal hanya bisa dipakai sehingga saya memaksimalkan lab komputer yang disediakan prodi," kenangnya.

"Secara teknis, saya memang tipe orang yang bisa efisien dalam belajar. Saya mempelajari sesuatu itu ketika di kelas. Jadi ketika saya mendengarkan, saya mengulangi perkataan itu dan menuliskannya di buku," sambung Revan.

Berbekal efisiensi belajar di kelas, produktifitas Revan di luar kelas pun ikut terpacu. Sepanjang masa kuliahnya, ia aktif terlibat proyek riset serta pengabdian kepada masyarakat bersama dosen.

"Ada kurang lebih 10 kali proyek bersama dosen. Bahkan, ada yang sampai terbit HKI-nya," ujarnya

Lulus dengan IPK tertinggi adalah buah manis dari perjuangan Revan. Banyak bantuan yang ia terima. Ia pun menceritakan pengalaman saat menjadi asisten praktikum mendongkrak nilainya. Posisi tersebut membuatnya lebih peka memahami pola pikir pengajar serta standar pengerjaan tugas.

"Karena saya selama 3,5 tahun menjadi asisten praktikum, saya jadi paham pola pikir dosen. Sebetulnya, bapak-ibu dosen mengutamakan kerajinan dari mahasiswa, apakah tepat waktu dan pengerjaannya maksimal atau alakadarnya," paparnya.

Revan berpesan pada rekan-rekan mahasiswa lain untuk terus konsisten pada mimpi yang ingin diraih.

"Jangan pernah minder dengan progres orang lain. Karena terkadang kita hanya melihat depannya saja. Yang terpenting bukan seberapa cepat kita lari, tapi seberapa lama kita tetap melangkah sebelum berhenti," pungkasnya.




(aku/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads