Kisah Djoko Kuliah di Usia 68 Tahun: Sempat Merasa Gaptek hingga Lulus IPK 3,98

Kisah Djoko Kuliah di Usia 68 Tahun: Sempat Merasa Gaptek hingga Lulus IPK 3,98

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Jumat, 22 Mei 2026 06:58 WIB
Wisudawan UGM berusia 68 tahun, Djoko Slamet Pudjorahardjo
Wisudawan UGM berusia 68 tahun, Djoko Slamet Pudjorahardjo. Foto: Dok UGM
Sleman -

Semangat belajar sepanjang hayat ditunjukkan Djoko Slamet Pudjorahardjo. Di usia 68 tahun, peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu berhasil menyelesaikan studi Magister Teknik Fisika di Universitas Gadjah Mada dengan capaian akademik membanggakan.

Djoko menyelesaikan studi melalui program Magister by Research (MBR) dalam waktu 1 tahun 11 bulan 29 hari dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98. Ia diwisuda pada program pascasarjana UGM pada 22-23 April 2026 di Grha Sabha Pramana.

Tesis yang disusunnya berjudul Analisis Desain Sumber Ion Tipe Multicusp untuk Siklotron 30 MeV. Djoko mengatakan keputusan melanjutkan studi didorong keinginan meningkatkan kompetensi diri sekaligus dukungan dari institusi tempatnya bekerja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya termotivasi melanjutkan studi mengambil gelar magister di UGM karena saya berdomisili dan bekerja di Yogyakarta, kemudian ada kesempatan peningkatan kompetensi SDM dari tempat saya bekerja melalui program Degree by Research," ujar Djoko dilansir dari laman resmi UGM, Rabu (20/5/2026).

Djoko yang tergabung dalam Kelompok Riset Teknologi Akselerator Linier di BRIN menilai Program Studi Magister Teknik Fisika UGM relevan dengan bidang pekerjaannya yang berfokus pada teknologi akselerator atau pemercepat partikel.

"Karena bidang pekerjaan saya berkaitan dengan teknik fisika, maka saya memilih melanjutkan studi Magister Teknik Fisika," katanya.

Selama menjalani perkuliahan, Djoko mengaku menghadapi tantangan dalam mengikuti perkembangan teknologi informasi yang digunakan di lingkungan kampus. Menurutnya, sistem pembelajaran digital dan penggunaan aplikasi akademik menjadi tantangan tersendiri di usianya yang tidak lagi muda.

"Tantangan selama studi di UGM adalah mahasiswa harus familiar dengan teknologi informasi yang digunakan di UGM, sehingga kadang saya merasa gaptek bila dibandingkan dengan mahasiswa lainnya yang rata-rata usianya lebih muda dari saya," ujarnya.

Ia menyebut beberapa mata kuliah bahkan mengharuskan mahasiswa menggunakan bahasa pemrograman untuk menyelesaikan tugas. Meski demikian, Djoko tetap berusaha beradaptasi dan bersyukur mendapat dukungan dari mahasiswa lain.

"Mereka sangat menghormati mahasiswa senior. Kalau saya mengalami kesulitan, biasanya mereka dengan senang hati membantu," ungkapnya.

Bagi Djoko, keberhasilan meraih gelar magister di usia mendekati purna tugas menjadi bukti bahwa usia bukan penghalang untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi diri.

"Di usia saya yang sudah tidak muda dan hampir purna tugas, saya terdorong untuk bisa menyelesaikan studi dalam waktu yang ditentukan dan membuktikan bahwa saya masih bisa meningkatkan kompetensi melalui studi lanjutan," katanya.

Kelulusan tersebut juga menjadi hadiah istimewa menjelang masa pensiunnya sebagai peneliti BRIN.

"Kelulusan ini merupakan hadiah besar menjelang purna tugas saya. Ini juga menjadi bukti bahwa saya telah berusaha memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang diberikan institusi untuk kuliah lagi," ujarnya.

Djoko pun berpesan kepada generasi muda agar selalu menjaga semangat belajar dan percaya terhadap kemampuan diri sendiri.

"Studi harus dijalani dengan penuh semangat, bersungguh-sungguh, dan percaya diri bahwa kita bisa menyelesaikan program studi tepat waktu," pesannya.

Menurutnya, menuntut ilmu tidak dibatasi usia selama seseorang masih memiliki kemauan untuk belajar.

"Menuntut ilmu tidak terbatas oleh usia, selama kita masih mampu melaksanakannya," pungkasnya.




(afn/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads