Jumlah Maba UMY Terus Menyusut Buntut Seleksi PTN, Ini Strateginya

Jumlah Maba UMY Terus Menyusut Buntut Seleksi PTN, Ini Strateginya

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Selasa, 09 Jun 2026 16:04 WIB
Ilustrasi lulus kuliah wisuda pendidikan beasiswa
Ilustrasi kuliah. Foto: Getty Images/iStockphoto/Liliboas
Bantul -

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengakui tren penurunan jumlah mahasiswa baru dalam beberapa tahun terakhir mulai berdampak pada kondisi kampus. Pihak kampus pun menyusun strategi khusus, mulai dari langkah efisiensi hingga membuka program studi (prodi) baru yang dibutuhkan masyarakat.

Hal ini disampaikan Rektor UMY, Prof Dr Achmad Nurmandi. Dia mengatakan jumlah pendaftar mahasiswa baru di UMY terus mengalami penurunan sejak 2022. Jika sebelumnya jumlah pendaftar mencapai sekitar 25 ribu orang, kini angkanya turun menjadi sekitar 18 ribu orang.

"Sejak 2022 itu menurun. Dulu pendaftar kita hampir 25 ribu, lalu menurun-menurun. Tahun kemarin pendaftar hanya 18 ribu. Jadi turun hampir 4.000 sampai 5.000 pendaftar sejak lima tahun belakangan ini," kata Nurmandi saat ditemui di Kampus UMY, Bantul, Selasa (9/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, penurunan jumlah pendaftar berdampak langsung pada jumlah mahasiswa yang diterima.

Nurmandi mengakui berkurangnya jumlah mahasiswa baru membuat kampus harus melakukan penyesuaian anggaran. Namun, efisiensi tidak menyentuh sektor-sektor utama yang berkaitan dengan kualitas pendidikan.

"Ya otomatis kita menyesuaikan berbagai cost. Terutama cost-cost yang berkaitan dengan selain gaji dosen," ujarnya.

Ia menegaskan anggaran untuk gaji dosen, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta mobilitas mahasiswa tetap dipertahankan.

"Tapi kalau gaji dosen, penelitian, pengabdian, mobilitas mahasiswa itu tetap, tidak ada penyesuaian. Tapi yang lain-lain yang tidak perlu, sudah tentu ada efisiensi," katanya.

Salah satu bentuk efisiensi yang dilakukan, kata Nurmandi, seperti mengurangi aktivitas yang membutuhkan biaya besar, termasuk sebagian kegiatan mobilitas internasional.

"Efisiensi misalnya mobilitas ke luar negeri dikurangi karena mahal sekarang," ucapnya.

Meski demikian, UMY tetap mempertahankan program internasional yang menjadi salah satu unggulan kampus. Tahun ini, UMY tetap mengirim lebih dari seribu mahasiswa untuk mengikuti program ke luar negeri dengan dukungan subsidi dari kampus.

"Itu merupakan keunggulan kita. Tahun ini yang masuk 1.000-an lebih, yang keluar 1.000-an lebih. Itu kan kita kasih subsidi tiket dan sebagainya," jelasnya.

Menurutnya, tantangan semakin besar karena biaya perjalanan dan biaya hidup di luar negeri terus meningkat. Kondisi tersebut diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

"Terutama ke Eropa kan mahal sekali sekarang. Dengan kenaikan harga tiket dan biaya hidup karena dolar, rupiah melemah, ini agak sulit," tuturnya.

Di sisi lain, UMY juga mengambil langkah strategis untuk menyiasati penurunan mahasiswa baru. Salah satunya dengan membuka program studi baru yang dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

"Strategi kita secara internal itu menambah prodi-prodi yang kita anggap dibutuhkan masyarakat. Misalnya kepelatihan olahraga, AI (artificial intelligence), bisnis digital, psikologi, mungkin nanti kriminologi dan peace and conflict," pungkasnya.




(alg/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads