Sejarah Ketupat, Makanan Ikonik Hari Raya Idul Fitri yang Sarat Filosofi

Sejarah Ketupat, Makanan Ikonik Hari Raya Idul Fitri yang Sarat Filosofi

Khofifah Azzahro - detikJogja
Selasa, 17 Mar 2026 14:04 WIB
Ketupat, Ketupat or rice dumpling is a local delicacy during Eid al-Fitr. A popular meal during Eid.
Ilustrasi Ketupat (Foto: Getty Images/iStockphoto/Tyas Indayanti)
Jogja -

Ketupat adalah salah satu hidangan khas yang mudah dijumpai pada saat perayaan Hari Raya Idul Fitri atau lebaran. Makanan ini merupakan hidangan yang cocok dipadukan dengan apa saja, kendati biasanya disandingkan dengan sayur berkuah santan.

Ketupat yang banyak ditemui ketika lebaran umumnya memiliki bentuk segi empat atau belah ketupat (wajik). Ketupat dianyam dari daun kelapa muda yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan nama janur.

Keterkaitan ketupat dengan Idul Fitri bukanlah tanpa alasan karena makanan dengan bahan utama nasi ini memiliki sejarah panjang dan makna filosofis mendalam. Karenanya, tidak mengherankan jika menjelang lebaran, keluarga-keluarga Indonesia mengepul dapurnya untuk menyiapkan ketupat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, pernahkah detikers penasaran bagaimana asal-muasalnya hingga ketupat ditalikan dengan Hari Raya Idul Fitri? Langsung saja, temukan pembahasan sejarah ketupat via uraian di bawah ini, yuk!

Ketupat Sudah Eksis Sejak Masa Kerajaan Hindu-Buddha

Secara historis, ketupat merupakan makanan tradisional yang telah ada sejak abad ke-13, pada masa hindu-buddha. Dikutip dari buku Indonesia Punya Cerita Kebudayaan dan Kebiasaan Unik di Indonesia oleh Yusuf dan Toet, ketupat sudah dicatat sejarah sejak masa kerajaan Majapahit.

Pada masa itu, ketupat terkenal digunakan sebagai hidangan khas untuk melaksanakan tradisi selamatan. Tradisi ini dilaksanakan oleh para petani pasca panen dan ditujukan untuk Dewi Sri yang dikenal sebagai dewi kemakmuran.

Menurut masyarakat Jawa, Dewi Sri adalah dewi terpenting yang perlu dihargai, khususnya oleh mereka yang bekerja sebagai petani. Tradisi selamatan dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur, mengingat, kebutuhan masyarakat sehari-hari kala itu masih mengandalkan hasil alam. Tradisi selamatan juga diharapkan dapat memberikan keselamatan dari bencana sehingga diberi kemakmuran dalam menjalankan kehidupan setelahnya.

Pada abad ke-15, ketupat telah digunakan sebagai simbol perayaan lebaran pada masa pemerintahan Kerajaan Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah. Bungkus ketupat yang terbuat dari daun kelapa muda atau janur mencerminkan identitas masyarakat pesisir saat itu yang banyak ditumbuhi pohon kelapa.

Makna Filosofis Ketupat sebagai Makanan Ikonik Lebaran

Pada dasarnya, kata "ketupat" atau "kupat" berasal dari kata bahasa Jawa ngaku lepat yang berarti "mengakui kesalahan". Dengan menyajikan ketupat, sesama umat Islam diharapkan dapat saling memaafkan, mengakui kesalahan, dan tentunya, melupakan kesalahan.

Ketupat yang biasanya disajikan bersama dengan sayur berkuah santan juga telah diperhitungkan maknanya, dalam bahasa Jawa "santan" disebut dengan santen yang mempunyai makna "pangapunten" alias memohon maaf.

Bagi masyarakat Jawa, ketupat yang dibungkus dengan janur kuning melambangkan penolak bala. Bentuk segi empat atau belah ketupat (wajik) mencerminkan falsafah kiblat papat lima pancer yang bermakna manusia harus menjaga keseimbangannya, termasuk ke mana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Allah SWT.

Sementara itu, anyaman pada bungkus ketupat yang rumit mencerminkan kompleksnya kesalahan manusia. Isi ketupat yang berwarna putih ketika dibelah menjadi dua melambangkan kebersihan dan kesucian setelah mohon ampun dari kesalahan. Beras sebagai bahan utama pembuat ketupat dimaksudkan sebagai simbol kemakmuran setelah hari raya.

Ketupat Tidak Hanya Muncul Saat Idul Fitri

Diringkas dari laman NU Online, ketupat terus hadir pada berbagai perayaan, termasuk pada masa Kerajaan Mataram Islam. Hal ini terlihat dari hadirnya ketupat di tengah masyarakat keraton di Solo, Jogja, dan Cirebon dalam melaksanakan tradisi upacara selamatan yang juga dikenal dengan nama sekaten atau grebeg mulud. Upacara ini berlangsung sebagai rangkaian peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW yang jatuh setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah.

Hingga kini, tradisi menyajikan ketupat tidak hanya digunakan oleh masyarakat Jawa, tetapi juga masyarakat Bali. Itu artinya, ketupat kerap disajikan sebagai makanan khas nusantara sebagai ikon upacara atau perayaan masyarakat yang beragama Islam, Hindu, maupun kepercayaan lokal lainnya.

Saat ini, ketupat telah terkenal hingga penjuru nusantara. Hal ini dapat dilihat dari berbagai macam masakan daerah yang menggunakan ketupat sebagai hidangan pelengkapnya. Di antaranya kupat tahu di Sunda, Coto Makassar, ketupat sayur di Padang, Sate Padang, Laksa di Cibinong, dan doclang di Cirebon.

Tidak hanya hadir sebagai makanan, dalam kebudayaan Jawa, dikenal pula Lebaran Ketupat. Perayaan Lebaran Ketupat biasanya digelar pada tanggal 7 atau 8 bulan Syawal, seminggu setelah Idul Fitri. Lebaran ketupat dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur telah berhasil melaksanakan enam hari berpuasa Syawal.

Dalam sejarahnya, masyarakat yang telah akrab dengan makanan khas berbungkus janur tersebut dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga sebagai media dakwah untuk menyebarkan agama Islam. Sang sunan bahkan menjadikan ketupat sebagai simbol Lebaran Ketupat.

Demikianlah penjelasan terkait sejarah ketupat sebagai makanan ikonik saat Hari Raya Idul Fitri dan makna filosofisnya. Semoga bermanfaat, detikers!

Artikel ini ditulis oleh Khofifah Azzahro peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik




(num/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads