Mencicipi Lempeng Juruh, Jajanan Jadul Nan Langka dari Gunungkidul

Mencicipi Lempeng Juruh, Jajanan Jadul Nan Langka dari Gunungkidul

Adji G Rinepta - detikJogja
Minggu, 29 Mar 2026 08:00 WIB
Penampakan Lempeng Juruh, panganan khas Gunungkidul di Syawalan Pasar Kangen 2026 Jogja, Jumat (27/3/2026).
Penampakan Lempeng Juruh, panganan khas Gunungkidul di Syawalan Pasar Kangen 2026 Jogja, Jumat (27/3/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Jogja rupanya masih mempunyai kuliner yang tidak hanya unik, namun sudah lumayan langka eksistensinya. Seperti Lempeng Juruh, jajanan khas Gunungkidul yang bisa ditemui di Syawalan Pasar Kangen 2026 di Jogja.

Lempeng sendiri adalah camilan berbahan dasar singkong yang bertekstur renyah seperti keripik. Lembaran keripik bulat berukuran cukup lebar ini diguyur legitnya gula merah cair yang disebut Juruh. Jadilah Lempeng Juruh yang gurih-manis.

Meski terlihat simpel, ternyata proses pembuatan Lempeng Juruh tak sesimpel itu. Penjual Lempeng Juruh di Pasar Kangen, Nita, pun nye-pill proses pembuatannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Singkong dikukus, ditumbuk, baru dicetak, setelah itu dikeringkan. Kalau udah bener-bener kering baru digoreng dengan minyak yang panas, tapi minyaknya agak banyak biar bisa ngembang," jelasnya saat ditemui detikJogja di lapaknya, Jumat (27/3/2026).

"Gula jawa yang dicairkan ini namanya Juruh, tapi kita membuatnya agak kental ya supaya lumer," sambung Nita.

Penampakan Lempeng Juruh, panganan khas Gunungkidul di Syawalan Pasar Kangen 2026 Jogja, Jumat (27/3/2026).Penampakan Lempeng Juruh, panganan khas Gunungkidul di Syawalan Pasar Kangen 2026 Jogja, Jumat (27/3/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja

Nita mengatakan, Lempeng Juruh sekarang cukup susah ditemukan. Ia pun mengaku harus mengambil Lempeng siap goreng dari perajinnya langsung di Gunungkidul yang menurutnya juga sudah tak lagi banyak.

Nita memang tak membuat langsung Lempeng ini. Keotentikan bahan baku Lempeng menjadi alasan utamanya. Menurutnya, Lempeng harus terbuat dari singkong asal Gunungkidul.

"Ini kalau nggak musim susah banget, musim singkongnya, karena singkongnya harus dari sana, tanahnya beda katanya. Saya ini ambil langsung ke pengerajinnya, tidak buat sendiri," papar Nita.

"Kalau buat sampai segini banyak ya ndak mumpuni. Ambil langsung dari Gunungkidul, di sana masih ada pengerajinnya, cuma tinggal beberapa. Karena ini seperti turun temurun ya, dari simbah-simbahnya yang membuat," sambungnya.

Selain cukup langka, kata Nita, Lempeng Juruh tergolong camilan yang legendaris dan sudah eksis sejak zaman dulu. Ia sendiri sudah menikmati jajanan ini sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Hal ini ternyata juga diamini para pembelinya.

Meski jadul dan langka, ternyata Lempeng Juruh tak pernah kehilangan penggemarnya. Nita bilang, sehari ia bisa menjual ratusan bahkan ribuan keping Lempeng di event setara Pasar Kangen ini.

"Makanan jadul banget ini, setiap ada yang beli itu mesti bilang 'ini makanan ibu jaman dulu, ini makanan nenek jaman dulu', berarti memang jadul banget. Kalau saya sendiri (pertama mencoba Lempeng Juruh) ya waktu SD lah," ujar Nita.

"Penggemarnya memang banyak banget ini. Kalau di event yang paling gede, kalau hari biasa sekitar 500-600 keping, kalau rame-ramenya itu Jumat, Sabtu, Minggu itu 2-3 ribu keping," imbuhnya.

Pun soal keputusan menjajakan Lempeng Juruh, Nita mengaku jajanan yang ia kenal sejak SD ini adalah favoritnya. Atas dasar itu lah ia memutuskan untuk mengobati kekangenan masyarakat akan Lempeng Juruh seperti yang ia rasakan.

Namun saat ini Nita hanya menjual Lempeng Juruh di acara-acara serupa pasar kangen. Tapi ia tak menutup pintu bagi masyarakat yang ingin memesan Lempeng Juruh sekadar untuk nostalgia.

"Boleh bisa pesen, dulu ada yang pesen untuk acara keluarga tapi menu-menunya dibuat jadul. Yang susah dicari ya ini (Lempeng Juruh), kalau klepon, cenil kan masih ada di pasar," ungkap Nita.

"Dulu waktu saya belum jadi peserta tenant-nya di pasar kangen, yang saya cari (saat jadi pengunjung pasar kangen) ya ini (Lempeng Juruh), memang saya suka ini. Awalnya dari suka dulu," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(apu/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads