Fenomena mengonsumsi ikan sapu-sapu belakangan ini kembali viral di media sosial, gara-gara menjadi bahan campuran siomay karena harganya yang ekonomis. Namun, di balik populernya ikan "pembersih kaca" ini, tersimpan perdebatan panjang mengenai keamanannya bagi kesehatan manusia. Sebagai ikan yang dikenal tangguh hidup di perairan kotor dengan kadar oksigen rendah, detikers perlu memahami bahwa apa yang dimakan oleh ikan ini akan berpengaruh langsung pada kualitas dagingnya.
Ikan yang populer dengan nama panggung janitor fish ini sejatinya merupakan spesies invasif asal Amerika Selatan yang kini merajai perairan Indonesia, sebagaimana dipetakan dalam laman Digitani IPB. Meski secara morfologi penampakannya menyeramkan dengan kulit keras bersisik, banyak orang justru tergiur mengonsumsinya karena tekstur dagingnya dianggap mirip dengan ikan lele atau ikan lundu, sebagaimana dijelaskan dalam penelitian The nutrient content of Plecostomus (Pterygoplichthys pardalis) flesh from Ciliwung River Jakarta, Indonesia karya Dewi Elfidasari dkk. Pertanyaannya, apakah kandungan gizi di dalamnya sebanding dengan risiko polutan yang mungkin mengendap di tubuhnya?
Untuk menjawab keraguan tersebut, penting bagi kita membedah fakta berdasarkan riset ilmiah dan pandangan para ahli. Mulai dari kandungan proteinnya yang tinggi hingga ancaman logam berat yang mengintai dari sungai-sungai besar yang tercemar. Simak ulasan lengkapnya berikut ini agar detikers bisa lebih bijak sebelum memutuskan untuk menyantapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kandungan Gizi Ikan Sapu-sapu, Protein Tinggi di Balik Sisik Keras
Berdasarkan publikasi ilmiah berjudul The nutrient content of Plecostomus (Pterygoplichthys pardalis) flesh from Ciliwung River Jakarta, Indonesia karya Dewi Elfidasari dkk., ikan sapu-sapu ternyata memiliki nilai nutrisi yang tidak bisa disepelekan. Riset tersebut mengungkapkan bahwa daging ikan sapu-sapu kering mengandung:
- Protein: Berkisar antara 45,09% hingga 50,05%. Angka ini menunjukkan bahwa secara biologis, ikan ini adalah sumber protein hewani yang sangat baik untuk jaringan tubuh.
- Lemak: Tergolong rendah, hanya sekitar 1,1%, sehingga masuk kategori ikan rendah lemak.
- Karbohidrat: Mengandung sekitar 47% hingga 52% (berdasarkan metode by difference).
Dewi Elfidasari dkk menyimpulkan bahwa secara nutrisi, ikan ini sebenarnya layak dikonsumsi. Namun, riset ini juga memberikan catatan tebal mengenai faktor lingkungan tempat ikan tersebut hidup.
Kenapa Kita Tidak Boleh Makan Ikan Sapu-sapu?
Meski bergizi, habitat ikan sapu-sapu menjadi "kartu mati" bagi keamanannya. Mengutip laman Digitani IPB, ikan ini bersifat eurifagik atau pemakan segala, mulai dari alga, lumut, hingga materi organik di dasar sungai yang sering kali sudah tercemar.
Pakar dari Universiti Putra Malaysia, Professor Mohammad Noor Amal Azmai, melalui laporan di The Straits Times, memperingatkan bahwa ikan ini bertindak seperti spons yang menyerap polutan. Jika hidup di sungai tercemar seperti Sungai Ciliwung atau Sungai Klang, ikan ini kemungkinan besar mengandung logam berat berbahaya seperti:
- Merkuri (Hg)
- Timbal (Pb)
- Kadmium (Cd)
Konsentrasi logam berat yang melebihi ambang batas ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius jangka panjang jika dikonsumsi manusia secara rutin.
Alternatif untuk Industri Kecantikan karena Kolagennya Melimpah
Jika detikers ragu memakannya, ikan ini ternyata punya potensi besar di bidang lain. Menurut penelitian Rifqa Danisha Ramlan dkk, kulit ikan sapu-sapu mengandung kolagen yang melimpah. Penelitian ini menemukan bahwa:
- Ekstraksi kulit ikan sapu-sapu menghasilkan rendemen kolagen sebesar 10%.
- Kolagen ini berpotensi menjadi alternatif sumber kolagen halal untuk industri farmasi, nutrasetikal, dan kosmetik.
Pemanfaatan secara industri dianggap sebagai cara yang lebih efektif dan aman untuk mengontrol populasi invasif ini daripada mendorong masyarakat mengonsumsinya secara bebas dari alam liar.
Jadi, apakah aman makan ikan sapu-sapu? Jawabannya sangat bergantung pada asal perairannya. Laman Digitani IPB menegaskan bahwa ikan ini aman dikonsumsi hanya jika berasal dari budidaya yang terkontrol atau perairan yang benar-benar bersih. Namun, untuk ikan yang ditangkap dari sungai-sungai perkotaan yang sudah terkontaminasi limbah, sangat tidak disarankan.
Alih-alih mendapatkan manfaat protein, risiko keracunan logam berat justru lebih mengancam. Lebih baik detikers memilih ikan air tawar lain yang sudah jelas asal-usulnya demi kesehatan jangka panjang. Stay safe and smart!
Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik
(sto/ahr)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja