Bendesa Adat Lepang di Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali tengah berupaya mengubah lahan kering (tegalan) seluas 1,17 hektare jadi produktif. Hal ini dilakukan sebagai solusi untuk mengatasi persoalan maraknya pembangunan perumahan dan pertokoan di kawasan tersebut.
Bendesa Adat Lepang, I Made Merta, mengatakan perubahan tata guna lahan semakin masif sejak beroperasinya Jalan Bypass Ida Bagus (IB) Mantra. Sudah begitu banyak pengembang yang menawar lahan milik desa adat Lepang untuk disulap menjadi perumahan.
"Kalau di sepanjang bypass, memang hampir 90 persen sudah beralih fungsi menjadi perumahan dan pertokoan," kata Merta saat dikonfirmasi awak media pada Sabtu (30/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Merta, sejumlah pengembang properti pernah mengajukan permohonan untuk memanfaatkan lahan tersebut sebagai kawasan hunian. Namun permintaan itu tidak mendapat persetujuan dari desa adat.
Alasannya, tanah tersebut merupakan aset milik desa adat yang memiliki fungsi sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat. "Kami tidak mengizinkan karena tanah itu aset desa adat. Selain itu, banyak warga kami yang masih menggantungkan hidup dari sektor pertanian," ujarnya.
Memang upaya ini tidak semudah membalik telapak tangan. Lahan yang akan dicetak menjadi sawah saat ini berupa tegalan karena posisinya lebih tinggi dibanding area persawahan di sekitarnya. Sehingga belum terjangkau saluran irigasi.
Rencana penataan lahan sendiri sudah disepakati dalam paruman desa adat yang digelar pada April 2026 lalu. Selain mencetak sawah baru, desa adat juga menyiapkan pembangunan pasar desa adat yang akan dikelola melalui Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA).
Untuk merealisasikan program tersebut, desa adat menggandeng pihak swasta guna membantu penataan lahan dan pembangunan sarana pendukung, termasuk jaringan irigasi agar lahan yang selama ini kering bisa ditanami.
Hasil kerja sama itu nantinya juga dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan pasar baru yang dinilai lebih representatif dibanding pasar yang ada saat ini.
Pasar yang saat ini beroperasi di kawasan Balai Banjar Adat Lepang disebut sudah tidak mampu menampung aktivitas perdagangan yang terus meningkat. Kondisi parkir yang terbatas dan tingginya volume kendaraan menuju Bypass Ida Bagus Mantra juga kerap menimbulkan kemacetan.
Menurut Merta, relokasi pasar menjadi salah satu solusi yang disiapkan desa adat untuk meningkatkan kenyamanan pedagang maupun pengunjung.
"Kalau pagi sangat padat. Beberapa kali juga terjadi kecelakaan karena lalu lintas ramai. Di lokasi baru nanti kendaraan bisa langsung masuk ke area parkir sehingga lebih aman," pungkasnya.
Sementara itu, Perbekel Takmung, I Nyoman Mudita, juga menekankan pentingnya sinergitas semua pihak dalam mewujudkan pengelolaan tanah milik desa adat tersebut.
"Upaya ini juga sudah kami laporkan ke pemerintah Kabupaten. Dan Pak Bupati memberikan dukungan," jelas Mudita.
Pantauan detikBali, kawasan di sepanjang jalur strategis itu kini hampir seluruhnya berubah menjadi area permukiman dan usaha. Sementara lahan yang dipertahankan tersebut berupa gundukan yang dalam waktu dekat akan diratakan.
(hsa/hsa)

