Kepergian mendadak I Nyoman Cita (50) alias Man Colik meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kerabatnya. Sebelum tewas, pria asal Desa Negari, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, itu sempat menyampaikan pesan terakhir yang begitu membekas bagi putra sulungnya, I Gede Rangga Winata (17).
Rangga, yang kini duduk di bangku kelas XII SMAN 1 Banjarangkan, mengaku masih terpukul. Ia tak menyangka obrolan santai mengenai masa depannya menjadi kenangan terakhir bersama sang ayah.
Salah satu pesan yang paling diingat Rangga adalah motivasi dari ayahnya agar menjaga kondisi fisik. Man Colik meminta putranya mulai rutin berolahraga angkat beban ke tempat gym.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bapak sempat bilang ke saya buat rutin nge-gym. Biar badannya bagus dan sehat. Karena dilihat sudah mulai gemukan," tutur Rangga saat ditemui detikBali di warung Lawar Godel milik mendiang ayahnya, Selasa (7/7/2026).
Rangga mengaku telah menuruti permintaan sang ayah dan mulai rutin menjalani aktivitas gym dalam beberapa waktu terakhir. Namun, ia tak menyangka perhatian sang ayah terhadap kesehatannya menjadi bentuk kasih sayang terakhir yang bisa ia rasakan secara langsung.
Dikenang Sosok Ceria
Di mata keluarga dan orang-orang terdekatnya, Man Colik dikenal sebagai pribadi yang baik. Kepergiannya yang mendadak dan tragis memunculkan tanda tanya besar karena semasa hidup almarhum dikenal sangat pandai bergaul.
Hal itu diungkapkan sepupu sekaligus sahabat dekat almarhum, Putu Budiarsa. Menurutnya, Man Colik merupakan sosok yang ceria dan supel kepada siapa saja, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat menjalankan usaha.
"Beliau itu orangnya sangat ceria dan supel. Pandai sekali bergaul dengan siapa saja. Makanya kami dari pihak keluarga dan teman-teman sangat yakin kalau almarhum ini tidak punya musuh, baik di lingkungan rumah maupun di urusan bisnisnya," ungkap Putu Budiarsa saat ditemui di rumah duka.
Kini, Rangga yang tengah bersiap menghadapi ujian kelulusan di SMAN 1 Banjarangkan harus tegar menghadapi kenyataan pahit tersebut. Keinginan sang ayah agar dirinya tumbuh menjadi pemuda yang sehat akan terus ia pegang sebagai warisan terakhir dari Man Colik.
Sebelumnya, kematian Man Colik menggegerkan warga Klungkung. Pedagang lawar godel itu ditemukan tewas mengapung di Sungai Bubuh pada Kamis (2/7) sekitar pukul 08.00 Wita. Saat ditemukan, di tubuh korban terdapat sejumlah luka tusukan. Selain itu, kalung emas yang biasa dikenakannya juga raib.
Peristiwa itu bermula sekitar pukul 17.30 Wita saat Man Colik berpamitan menuju Sungai Bubuh yang berada di Jalan Perumahan Pesona Lepang, Desa Adat Lepang, Kecamatan Banjarangkan. Berdasarkan keterangan keluarga, seusai bekerja Man Colik memang biasa mandi di sungai tersebut untuk melepas penat.
Namun, malam itu Man Colik tak kunjung pulang. Padahal, ia biasanya sudah berada di rumah sebelum pukul 20.00 Wita. Merasa khawatir, putranya kemudian mencari ke lokasi tempat korban biasa mandi.
Sesampainya di lokasi, putra Man Colik hanya menemukan sepeda motor Honda Scoopy milik ayahnya dalam kondisi terkunci. Pakaian dan ponsel korban juga tidak ditemukan. Kabar hilangnya Man Colik kemudian membuat keluarga, kerabat, dan warga sekitar melakukan pencarian.
Hilangnya Man Colik sempat diyakini sebagian warga berkaitan dengan ulah roh jahat. Karena itu, proses pencarian juga dilakukan dengan menggunakan gong. Sekitar pukul 12.00 Wita, warga menemukan ponsel korban dalam kondisi tenggelam di sungai.
Pencarian dilakukan hingga pukul 03.00 Wita dan dilanjutkan keesokan harinya. Man Colik kemudian ditemukan oleh warga bersama tim gabungan dalam kondisi mengapung tanpa busana. Di tubuhnya terdapat sejumlah luka tusukan, kalung emas yang biasa dikenakannya telah raib, sementara pada leher korban ditemukan bekas luka jeratan.
(dpw/dpw)

