Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal memberi karpet merah untuk investor tambak udang sebagai upaya menggenjot hilirisasi industri di Bumi Gora. Hal itu disampaikan Iqbal di hadapan para pelaku usaha dan Shrimp Club Indonesia (SCI) Wilayah Lombok.
Iqbal mengungkapkan NTB berupaya menjadi provinsi yang ramah untuk investor. Meski begitu, Iqbal menekankan industri perikanan tetap harus memperhatikan kelestarian lingkungan.
"Jangan ragukan komitmen kami untuk mendorong industri perikanan di daerah kami. Kami sadar teman-teman berbisnis bukan untuk sosial, tetapi kami ingin teman-teman untung, masyarakat senang, dan lingkungan tetap terjaga," ujar Iqbal saat menghadiri Ramah Tamah dan Diskusi Hilirisasi Industri Tambak Udang di Hotel Aston Inn Mataram, Jumat (19/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya bisa berikan jaminan empat tahun ke depan kami tidak akan membuat regulasi yang tidak ramah investor di tingkat provinsi," imbuhnya.
Iqbal menilai hilirisasi perlu dilakukan agar hasil perikanan NTB tidak hanya dijual mentah, tetapi diproses dan dapat diekspor langsung dari NTB. Menurutnya, langkah ini akan meningkatkan nilai tambah sekaligus penerimaan daerah secara signifikan.
"Supaya bisnis ini sustainable, kami juga butuh sustainability. Kita tidak ingin dapat uang sekarang, tapi besok semua mati karena lingkungan rusak. Kami ingin tambak bisa berdampingan dengan pariwisata," imbuhnya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB, Muslim, menambahkan Pemprov NTB kini tengah menyusun peraturan daerah (perda) sebagai turunan dari kebijakan strategis nasional terkait hilirisasi. Muslim mengatakan Pemprov NTB menyediakan lahan seluas 100 hektare di sekitar kawasan Bandara Internasional Lombok untuk hilirisasi udang.
"Untuk percepatan perizinan pembentukan tim terpadu untuk memangkas birokrasi perizinan agar investasi berjalan lebih cepat," kata Muslim.
Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI), Andi Tamsil, menyambut positif langkah Pemprov NTB tersebut. Andi mengatakan kepastian regulasi menjadi faktor krusial bagi pengusaha tambak udang.
"Selama ini kontribusi sektor udang masih belum sepenuhnya memberikan nilai tambah maksimal di daerah. Karena itu, kita perlu mendorong agar manfaat ekonomi tetap berputar di daerah," kata Andi.
Hal senada disampaikan Ketua SCI Wilayah Lombok, Suryadi Adinata. Ia berharap iklim investasi yang kondusif, penyederhanaan izin, dan fokus pada hilirisasi ini mampu menjawab tantangan global yang dihadapi industri tambak udang.
"Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah dan pelaku usaha, NTB optimistis dapat menjadi pemain kunci dalam industri udang nasional sekaligus mendongkrak daya saing di pasar global," kata Suryadi.
(iws/iws)

