detikBali

Sampah Gili Trawangan Menumpuk 20 Ton per Hari, Menteri LH Janji Cari Solusi

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

Sampah Gili Trawangan Menumpuk 20 Ton per Hari, Menteri LH Janji Cari Solusi


Ahmad Viqi - detikBali

Menteri LH Muhammad Jumhur Hidayat bersama Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal ditemui di Mataram, Selasa (7/7/2026). (Foto: Ahmad Viqi/detikBali).
Foto: Menteri LH Muhammad Jumhur Hidayat bersama Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal ditemui di Mataram, Selasa (7/7/2026). (Foto: Ahmad Viqi/detikBali).
Mataram -

Kondisi sampah di destinasi wisata Gili Trawangan mendapat perhatian serius dari Kementerian Lingkungan Hidup (LH). Produksi sampah di kawasan pariwisata andalan NTB tersebut saat ini dilaporkan telah mencapai 18 hingga 20 ton per hari. Angka ini memicu terjadinya penumpukan.

Menteri LH Muhammad Jumhur Hidayat mengaku siap membantu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Utara mencari solusi terkait optimalisasi alat pemusnah sampah atau insinerator di Gili Trawangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Intinya insinerator boleh (digunakan), tapi harus yang memenuhi standar. Kalau insinerator malah menambah masalah pencemaran udara, itu juga problem di sana," ujar Jumhur di Mataram, Selasa (7/7/2026).

Mantan aktivis asal Bandung itu mengungkapkan bahwa saat ini baru ada satu alat insinerator yang dinyatakan lulus uji standar yang beroperasi di Gili Trawangan. Sementara itu, dua alat lainnya masih belum mengantongi izin operasional.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, Kementerian LH akan mengirim tenaga ahli untuk membantu memodifikasi dua insinerator tersebut agar memenuhi standar lingkungan dan segera dapat dioperasikan.

"Nanti segera kami pastikan deh, nggak usah berlama-lama ya. Kami bantu juga teknisnya, apakah kami datangi orang ahli gitu, tapi langsung segera," tegasnya.

Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar, membenarkan kendala belum terbitnya izin operasional untuk dua alat insinerator menjadi pemicu utama menumpuknya sampah di Gili Trawangan.

"Kami punya engineering-nya, tapi dua-duanya itu masih belum punya izin. Yang punya izin hanya satu, sehingga hanya satu yang kami jalankan. Nah, itu sebabnya makanya sampah kami di Gili Trawangan sekarang ini menumpuk," jelas Najmul.

Sebagai langkah antisipasi darurat, Najmul berujar, Pemkab Lombok Utara terus melakukan pengangkutan sampah secara berkala dari Gili Trawangan menuju daratan utama Lombok Utara. Sampah-sampah tersebut dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jugil di Kecamatan Kayangan, Lombok Utara.

"Kami tetap melakukan pengangkutan dari Gili Trawangan menuju ke pinggir (daratan). Di pinggir itu ada TPA Jugil, tempat pengumpulan semua sampah yang ada di Lombok Utara," tambah Bupati.

Najmul mengatakan pengelolaan sampah di Lombok Utara tergolong cukup besar. Selain pasokan bervolume belasan hingga puluhan ton dari Gili Trawangan, TPA Jugil di daratan utama harus menampung total hingga 160 ton sampah per hari secara keseluruhan.

Untuk itu, Pemkab Lombok Utara bakal meminta bantuan Kementerian LH untuk dapat segera merealisasikan modifikasi alat dari yang direncanakan.

"Kami optimis ya. Pak Menteri minta saya menghadap ya. Mudahan ada solusi konkret dalam waktu dekat demi menyelamatkan ekosistem pariwisata Gili Trawangan,' tandas Najmul.




(nor/nor)










Hide Ads