Perjuangan Ramlah Jemaah Asal Gowa Penuhi Wasiat Suami untuk Berhaji

Kabar Haji Bersama BSI

Perjuangan Ramlah Jemaah Asal Gowa Penuhi Wasiat Suami untuk Berhaji

Rachmatunnisa - detikHikmah
Selasa, 19 Mei 2026 12:30 WIB
Ramlah Sija (duduk paling kiri memakai syal) saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) bersama jemaah haji dari Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu (7/5/2026).
Ramlah Sija (duduk paling kiri memakai syal) saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) bersama jemaah haji dari Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu (7/5/2026). Foto: Dok MCH 2026
Makkah -

Di sela-sela kesibukan jemaah yang lalu-lalang di pelataran hotel kawasan Jarwal, Ramlah Sija bercerita pelan tentang perjalanan hidupnya menuju Tanah Suci. Sesekali matanya berkaca-kaca saat mengingat almarhum suaminya, sosok yang pertama kali menanamkan impian haji dalam hidupnya.

Perempuan asal Gowa, Sulawesi Selatan itu tak pernah membayangkan dirinya benar-benar bisa berada di Makkah. Baginya, berhaji terasa seperti mimpi yang terlalu jauh untuk dijangkau. "Karena saya berasal dari orang-orang kecil, orang miskin," ucap Ramlah lirih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun di tengah keterbatasan itu, ada satu pesan sang suami yang terus ia simpan rapat-rapat hingga sekarang. Sebelum meninggal dunia pada 2007, suaminya pernah meminta Ramlah menggunakan sawah mereka untuk mendaftar haji suatu hari nanti.

"Akhirnya karena ada wasiat dari suami itu, sawah dijual lah. Terus saya ingat suami pesan, pakai saja mendaftar haji," tuturnya.

Saat sang suami wafat, hidup Ramlah berubah total. Anak bungsunya baru berusia tiga tahun, sementara anak sulungnya masih duduk di bangku SMP. Sejak saat itu, ia harus menjalani peran sebagai ibu sekaligus kepala keluarga.

"Jadi saya ini perempuan, berumah tangga juga, sekaligus sebagai kepala keluarga," katanya.

Untuk menyambung hidup, Ramlah melanjutkan usaha batu bata milik suaminya sambil bertani. Namun pekerjaan itu terasa terlalu berat dijalani seorang diri. Ia kemudian mencoba pekerjaan baru sebagai sales elektronik keliling kampung.

Selama kurang lebih 13 tahun, Ramlah berkeliling menjual barang elektronik dan perabot rumah tangga dari satu daerah ke daerah lain di Sulawesi Selatan. "Keliling kampung. Naik mobil kantor. Dari kampung satu ke kampung lain," tutur perempuan berusia 53 tahun ini.

Rutinitas itu dijalaninya nyaris setiap hari. Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat, lalu pulang menjelang malam setelah berjam-jam menawarkan barang kepada warga. Kadang ia harus menempuh perjalanan hingga Kabupaten Jeneponto yang berjarak sekitar tiga jam dari Gowa.

"Kadang kemalaman sampai jam 7 malam, jam 8 malam. Begitu setiap hari," katanya.

Tak semua perjuangan itu berbuah manis. Ada hari-hari ketika dagangannya tak laku sama sekali. "Iya pernah juga ada yang nggak laku. Tapi kita sabar, tunggu besok lagi kan," katanya sambil tersenyum kecil.

Di tengah kerasnya hidup, Ramlah tetap menyimpan niat berhaji yang diwariskan suaminya. Pada 2011, empat tahun setelah sang suami meninggal, ia akhirnya memberanikan diri mendaftar haji menggunakan hasil penjualan sawah.

Meski begitu, ia mengaku sempat merasa dirinya tak pantas menjadi tamu Allah karena kondisi ekonominya yang serba pas-pasan. "Saya menganggap diri saya mungkin tidak pantas. Karena saya, dari mana saya dapat uangnya itu? Karena orang bilang daftar haji itu mahal," ujarnya.

Namun ia memilih terus bekerja sambil menyerahkan semuanya kepada Allah. "Ya tidak apa-apa lah. Kita berusaha sambil berdoa, siapa tahu Allah berkehendak lah itu," katanya.

Hari-hari berikutnya diisi dengan perjuangan membesarkan anak-anaknya. Ia terus bertani, menjadi sales, dan bekerja apa saja demi biaya sekolah hingga kuliah anak-anaknya. Waktu berjalan begitu lama. Lima belas tahun penantian terasa seperti perjalanan yang nyaris tak berujung.

Hingga suatu hari, kabar itu akhirnya datang. Lucunya, Ramlah justru tak tahu namanya sudah masuk daftar keberangkatan haji tahun ini. Ia bahkan sempat mengira orang-orang yang mencarinya berniat kredit barang. "Masa (orang) mau kredit," katanya sambil tertawa mengenang momen itu.

Tak lama kemudian, telepon dari kantor Departemen Agama (Depag) setempat datang memastikan dirinya berangkat haji tahun ini. "Iya Pak, dengan siapa ini saya bicara? Air mata langsung keluar," tuturnya mereka ulang momen tersebut dengan haru.

Kini, setelah bertahun-tahun bekerja tanpa kenal lelah, Ramlah akhirnya bisa memandang Ka'bah secara langsung. Di Tanah Suci, doa-doanya sebagian besar ia panjatkan untuk anak-anaknya.

Kita sebagai ibu itu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak. Diberikan kesehatan, keselamatan, rezeki, anak-anak dapat jodoh baik semua. Saya rasa semua orang tua begitu," tutup Ramlah.




(rns/kri)
Kisah Haji Para Tamu Allah

Kisah Haji Para Tamu Allah

30 konten
Menunaikan ibadah haji jadi hal yang sangat ditunggu banyak umat Islam. Di balik suksesnya haji, ada cerita unik dan juga perjuangan di belakangnya.
Berita Terkait