Kisah inspiratif datang dari tanah suci Madinah. Sabar Munasir (35), seorang jemaah haji asal Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan pendidikan bukan penghalang untuk menjemput berkah Allah SWT.
Pria yang hanya mengenyam pendidikan hingga bangku Sekolah Dasar (SD) ini berangkat haji menggantikan sang ayah, Munasir (71), yang dinyatakan tidak memenuhi syarat istitaah kesehatan. Namun, keberangkatan Sabar bukan sekadar pelimpahan porsi biasa. Ada tanggung jawab besar dan pengorbanan luar biasa di baliknya.
Sebelum menginjakkan kaki di Arab Saudi, Sabar membuat keputusan mengejutkan dengan menyerahkan uang Rp 50 juta kepada ayahnya. Uang itu merupakan pengganti biaya haji yang telah disetor sang ayah sejak belasan tahun silam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya menganggap ini hutang kepada bapak. Walaupun saya yang berangkat, saya tetap mengganti biaya yang sudah dikeluarkan bapak sebesar Rp 50 juta," ujar Sabar saat ditemui di Mirage Taiba Hotel, Madinah, Sabtu (20/6/2026).
Perjalanan Sabar menuju Tanah Suci tidaklah mulus. Dalam dua tahun terakhir, ia harus memeras keringat demi melunasi utang usaha di bank yang nilainya fantastis untuk ukuran seorang pedagang kecil yang jumlahnya sekitar Rp 500 juta!
Sabar bersikeras melunasi seluruh utang tersebut sebelum jadwal keberangkatannya. Baginya, haji adalah sebuah perjalanan spiritual yang penuh dengan risiko.
"Haji ini medan jihad. Kita tidak pernah tahu bisa pulang lagi atau tidak. Karena itu saya berusaha melunasi semua hutang sebelum berangkat," tegasnya.
Bahkan, menjelang BeritaKlik-BeritaKlik keberangkatan, Sabar masih harus melunasi sisa utang terakhir sebesar Rp 125 juta. Alhasil, setelah semua kewajiban lunas, uang yang tersisa di dompetnya untuk bekal di Tanah Suci hanya berkisar Rp 5 juta.
"Yang penting utang selesai dulu. Soal bekal nanti Allah yang cukupkan," ucapnya optimis.
Faktor utama Sabar rela mengambil alih porsi haji sang ayah adalah sang ibu, Painah. Ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai penjual daun pisang, juga berangkat haji dalam kloter yang sama.
Sabar mengaku tidak tega jika sang ibu harus berjuang sendirian di Arab Saudi, terlebih sang ibu hanya bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa.
"Saya kasihan ibu kalau berangkat sendiri. Beliau hanya bisa bahasa Jawa. Akhirnya keluarga bermusyawarah dan saya yang menggantikan bapak," ungkap anak dari empat bersaudara ini.
Prinsip hidup Sabar yang kuat ditempa dari masa lalunya saat merantau ke Jakarta. Ia pernah bekerja pada seorang juragan yang mengajarkannya arti disiplin, ketekunan, dan pentingnya tirakat (menahan hawa nafsu) dalam mencari rezeki.
Kini, Sabar sukses mengelola toko kelontong di wilayah Sambek, Wonosobo. Meski hanya lulusan SD, ia tidak gagap teknologi. Tokonya sudah memanfaatkan sistem pembayaran digital QRIS yang membuat usahanya berkembang pesat.
"Saya selalu siap melayani pembeli kapan pun. Mau datang malam atau pagi, kalau soal rezeki jangan ditolak," katanya meniru kegigihan sang ibu yang dulu rela mencari daun pisang hingga larut malam demi pesanan pelanggan.
Ketika ditanya mengenai rahasia bisa melunasi utang ratusan juta dalam waktu singkat, Sabar mengaku tidak punya resep khusus. Kuncinya hanya dua, menghormati orang tua dan menjaga kepercayaan orang lain.
"Tidak ada doa yang lebih hebat daripada doa orang tua," cetusnya.
Selain berbakti, Sabar juga rutin menjalankan puasa sunah Senin dan Kamis selama 40 hari berturut-turut yang diakhiri dengan syukuran. Sebuah amalan yang diajarkan oleh mantan majikannya di Jakarta.
Hasilnya? Luar biasa. Dagangannya laris manis dan rezeki datang dari arah yang tak disangka-sangka hingga ia mampu melunasi utang Rp 500 juta, mengganti uang ayahnya Rp 50 juta, dan kini bisa khusyuk beribadah mendampingi sang ibu di bawah langit Madinah.
(lus/lus)

Komentar Terbanyak
37 Organisasi Tolak Desakan MUI Soal Pidana Pelaku dan Kampanye LGBT
MUI Tegaskan Orientasi Seksual Sesama Jenis Bukan Kodrat, Tapi Penyimpangan
Liga Muslim Dunia Kecam Serangan Pemukim Israel terhadap Warga Palestina