Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan) mengatakan Kota Makkah saat ini sudah sepenuhnya bersih dari jemaah haji Indonesia. Seluruh jemaah telah digeser ke Madinah maupun dipulangkan ke Tanah Air, kecuali mereka yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
Gus Irfan mengungkapkan masih ada seratusan jemaah haji RI yang tertinggal di Arab Saudi karena harus menjalani perawatan medis.
"Sudah tidak ada jemaah haji di Makkah, kecuali yang dirawat di rumah sakit di Arab Saudi. Masih ada 121 jemaah yang dirawat," ujar Gus Irfan di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (23/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gus Irfan menegaskan, 121 jemaah yang tengah dirawat tersebut tetap menjadi tanggung jawab penuh pemerintah. Mereka baru akan diterbangkan kembali ke Indonesia jika tim medis di Arab Saudi telah memberikan lampu hijau.
"Mereka akan dipulangkan jika sudah dinyatakan layak untuk terbang. Sekalipun kloternya sudah pulang, pasti kita akan pulangkan selama dokter mengatakan sudah layak terbang," tegasnya.
Pergerakan Jemaah dan Kepulangan Petugas
Hingga hari, Selasa (23/6), Gus Irfan memaparkan data sebanyak 149.736 jemaah haji Indonesia dari 87 kloter telah tiba dengan selamat di Tanah Air. Saat ini, jemaah yang berada di Arab Saudi tinggal 29 persen saja.
"Masih tersisa 130 kloter yang ada di Madinah. Di Makkah sudah bersih dari jemaah kita," jelasnya.
Seiring berkurangnya jumlah jemaah di Tanah Suci, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) mulai pulang secara bertahap. Kedatangan petugas haji yang dijemput Gus Irfan hari ini merupakan rombongan kloter pertama dari Makkah.
"Hari ini kloter pertama dari petugas haji kita, besok kemudian sampai terakhir nanti. Tiga hari setelah kedatangan jemaah haji terakhir kita tanggal 1 Juli, petugas haji kita terakhir akan datang sekitar tanggal 4 Juli 2026," tuturnya.
Gus Irfan juga menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada para petugas atas performa luar biasa mereka selama operasional haji berlangsung. Pemerintah bahkan tengah menyiapkan "rapor" penilaian untuk memberikan reward atau penghargaan bagi petugas dengan kinerja terbaik.
Kendati secara keseluruhan berjalan lancar, Kementerian Haji dan Umrah langsung menetapkan sejumlah langkah evaluasi untuk musim haji 2027 mendatang. Dua poin utama yang menjadi sorotan adalah penyetaraan kualitas petugas dan standarisasi istitha'ah kesehatan jemaah.
Gus Irfan mengakui ada ketimpangan masa persiapan antara petugas haji pusat dan petugas haji di daerah. Ke depan, waktu pembekalan akan disamaratakan.
"PPIH kita siapkan satu bulan, sementara petugas di daerah dipersiapkan sekitar seminggu sampai sepuluh hari. Jadi ini juga catatan kami, insyaallah tahun depan, 2027, keduanya akan kita lakukan persiapan yang sama, sama-sama satu bulannya. Petugas insyaallah tidak akan kita tambah, tapi akan kita tingkatkan kualitasnya," beber Gus Irfan.
Selain itu, standarisasi pemeriksaan kesehatan (istitha'ah) jemaah sebelum berangkat juga akan diperketat dan disamaratakan di seluruh wilayah Indonesia agar tidak ada lagi perbedaan kualitas penapisan medis antar-daerah.
(hnh/kri)

Komentar Terbanyak
37 Organisasi Tolak Desakan MUI Soal Pidana Pelaku dan Kampanye LGBT
MUI Tegaskan Orientasi Seksual Sesama Jenis Bukan Kodrat, Tapi Penyimpangan
Liga Muslim Dunia Kecam Serangan Pemukim Israel terhadap Warga Palestina