Nuansa Ramadan di Negeri Seribu Wali, Tarawih sampai 100 Rakaat

Ramadan di Negeri Rantau

Nuansa Ramadan di Negeri Seribu Wali, Tarawih sampai 100 Rakaat

Rizky Syahreyhan - detikHikmah
Kamis, 26 Feb 2026 20:45 WIB
Suasana malam bulan Ramadan 2026 yang hidup di Tarim, Yaman.
Suasana malam bulan Ramadan 2026 yang hidup di Tarim, Yaman. Foto: Dok Rizky Syahreyhan
Tarim -

Ramadan selalu saja punya kesan tersendiri bagi tiap orang, terutama bagi para perantau dengan berbagai latar belakangnya, menikah, mencari nafkah, maupun menuntut ilmu fisabilillah. Di negeri rantau, Ramadan selalu saja menyambut kita dengan rasa yang berbeda, biasanya diawali dengan haru yang menyentuh hati dan kemudian berubah menjadi rindu yang tidak bisa diobati.

Tetapi di baliknya, ia juga menawarkan nuansa baru dan suasana yang tidak biasa bagi para perantau, dari hal-hal unik sampai tradisi yang tidak kalah menarik. Salah satunya seperti Ramadan yang ditawarkan oleh negeri yang dikenal sebagai Negeri Seribu Wali, Hadramaut, Yaman, yaitu Dunia Terbalik (The Upside-Down World).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika di tempat-tempat lain menyajikan waktu kehidupan bulan Ramadan seperti bulan-bulan biasanya, maka di Hadramaut, Yaman, waktu itu diputar seratus delapan puluh derajat. Bukan tanpa alasan pastinya, nuansa ini terbentuk karena tradisi dan adat masyarakatnya, hal ini juga sebagai bentuk pengagungan masyarakat sekitar terhadap bulan suci Ramadan.

Selama bulan Ramadan, masyarakat Yaman terutama di wilayah Hadramaut menjadikan pagi dan siang mereka sebagai malam, begitu pun sebaliknya menjadikan petang dan malam mereka sebagai pagi dan siang. Dalam artian sederhana, mereka menghabiskan semua kegiatan mulai dari petang hingga menjelang fajar, dan kemudian istirahat yang dimulai dari setelah isyraq (matahari terbit) hingga menjelang tengah hari.

ADVERTISEMENT
Suasana pagi bulan Ramadan 2026 yang sunyi di Tarim, Yaman.Suasana pagi bulan Ramadan 2026 yang sunyi di Tarim, Yaman. Foto: Dok Rizky Syahreyhan

Suasana pagi bulan Ramadan di sini bak kota mati, suasana sunyi, bahkan hampir tidak ada kendaraan yang melintasi jalanan. Namun suasana ini seketika berubah ketika salat Asar selesai ditunaikan, kota mati tadi mendadak ramai, orang-orang memenuhi pandangan memburu waktu petang, hiruk pikuk kendaraan turut meramaikan jalanan. Suasana yang sangat terbalik dari pagi hari di sini.

Spesialnya ada di malam hari. Salat Tarawih menjadi ikon malam-malam di sini. Sebab, Tarawih di sini diadakan dalam waktu yang berbeda-beda, ada yang dimulai dari pukul 20.00 sampai pukul 02.00 dini hari. Hal itu sering dimanfaatkan masyarakat dan para pelajar untuk menunaikan seratus rakaat dalam satu malam (One Night One Hundred Rakaat), dan umumnya di sini juga menerapkan metode satu juz satu malam (One Night One Juz), hal-hal positif seperti ini yang masyarakat Yaman hidupkan di malam-malam Ramadan.

Semoga Ramadan kita selalu penuh dengan kebaikan, bukan hanya di Tanah Air tetapi di mana pun kita berada. Waallahu a'lam.

--

Rizky Syahreyhan

Mahasiswa Fikih Tahawwulat Fakultas Ushuluddin
Universitas Al-Wasathiyah Yaman

Artikel ini merupakan kolaborasi detikHikmah dengan PPI Dunia. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)




(kri/kri)
Puasa di Tanah Rantau

Puasa di Tanah Rantau

30 konten
Nuansa Ramadan di negeri orang tentunya berbeda dengan suasana Ramadan di tanah air. Hal itu dilatarbelakangi banyak faktor terutama budaya lokal setempat.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads