Ramadan selalu saja punya kesan tersendiri bagi tiap orang, terutama bagi para perantau dengan berbagai latar belakangnya, menikah, mencari nafkah, maupun menuntut ilmu fisabilillah. Di negeri rantau, Ramadan selalu saja menyambut kita dengan rasa yang berbeda, biasanya diawali dengan haru yang menyentuh hati dan kemudian berubah menjadi rindu yang tidak bisa diobati.
Tetapi di baliknya, ia juga menawarkan nuansa baru dan suasana yang tidak biasa bagi para perantau, dari hal-hal unik sampai tradisi yang tidak kalah menarik. Salah satunya seperti Ramadan yang ditawarkan oleh negeri yang dikenal sebagai Negeri Seribu Wali, Hadramaut, Yaman, yaitu Dunia Terbalik (The Upside-Down World).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika di tempat-tempat lain menyajikan waktu kehidupan bulan Ramadan seperti bulan-bulan biasanya, maka di Hadramaut, Yaman, waktu itu diputar seratus delapan puluh derajat. Bukan tanpa alasan pastinya, nuansa ini terbentuk karena tradisi dan adat masyarakatnya, hal ini juga sebagai bentuk pengagungan masyarakat sekitar terhadap bulan suci Ramadan.
Selama bulan Ramadan, masyarakat Yaman terutama di wilayah Hadramaut menjadikan pagi dan siang mereka sebagai malam, begitu pun sebaliknya menjadikan petang dan malam mereka sebagai pagi dan siang. Dalam artian sederhana, mereka menghabiskan semua kegiatan mulai dari petang hingga menjelang fajar, dan kemudian istirahat yang dimulai dari setelah isyraq (matahari terbit) hingga menjelang tengah hari.
Suasana pagi bulan Ramadan 2026 yang sunyi di Tarim, Yaman. Foto: Dok Rizky Syahreyhan |
Suasana pagi bulan Ramadan di sini bak kota mati, suasana sunyi, bahkan hampir tidak ada kendaraan yang melintasi jalanan. Namun suasana ini seketika berubah ketika salat Asar selesai ditunaikan, kota mati tadi mendadak ramai, orang-orang memenuhi pandangan memburu waktu petang, hiruk pikuk kendaraan turut meramaikan jalanan. Suasana yang sangat terbalik dari pagi hari di sini.
Spesialnya ada di malam hari. Salat Tarawih menjadi ikon malam-malam di sini. Sebab, Tarawih di sini diadakan dalam waktu yang berbeda-beda, ada yang dimulai dari pukul 20.00 sampai pukul 02.00 dini hari. Hal itu sering dimanfaatkan masyarakat dan para pelajar untuk menunaikan seratus rakaat dalam satu malam (One Night One Hundred Rakaat), dan umumnya di sini juga menerapkan metode satu juz satu malam (One Night One Juz), hal-hal positif seperti ini yang masyarakat Yaman hidupkan di malam-malam Ramadan.
Semoga Ramadan kita selalu penuh dengan kebaikan, bukan hanya di Tanah Air tetapi di mana pun kita berada. Waallahu a'lam.
--
Rizky Syahreyhan
Mahasiswa Fikih Tahawwulat Fakultas Ushuluddin
Universitas Al-Wasathiyah Yaman
Artikel ini merupakan kolaborasi detikHikmah dengan PPI Dunia. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)
(kri/kri)


Komentar Terbanyak
Ramai Keluhan soal Tahlilan, Begini Penjelasan soal Jamuan di Rumah Duka
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat