Gema Ramadan di Masjidil Haram selalu menghadirkan magnet spiritual yang tak tertandingi. Tahun ini, jutaan jemaah dari berbagai belahan dunia kembali memadati kota suci Makkah untuk melabuhkan doa dan kerinduan mereka di hadapan Ka'bah.
Kepadatan Masjidil Haram di bulan Ramadan dipicu oleh besarnya antusiasme umat Islam untuk meraih keutamaan pahala umrah yang setara dengan ibadah haji, sebagaimana tuntunan dalam hadits Rasulullah SAW.
Tradisi Ifthar: Simfoni Kebersamaan dalam Kesederhanaan
Suasana magis mulai terasa sekitar dua jam sebelum azan Magrib. Petugas kebersihan dan para relawan dengan sigap menggelar sufra atau taplak plastik panjang di setiap sudut pelataran masjid. Siapa pun yang duduk di depan sufra adalah tamu dan saudara kita. Tidak ada sekat antar negara, kita bisa melihat jemaah saling menawarkan makanan dengan tulus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Takjil buka puasa Ramadan 2026 di Masjidil Haram, Makkah. Foto: Dok Zulfikar Audia Pratama |
Para relawan membagikan snack berbuka di setiap sudut berupa kurma, roti, yogurt, biskuit hingga air putih. Meski suasana riuh, ketertiban tetap terjaga. Momen paling mengagumkan terjadi tepat setelah azan berkumandang, dalam waktu kurang dari 10 menit, ribuan meter sufra dibersihkan secara kilat, dan lantai masjid kembali steril untuk salat Magrib.
Lautan Manusia: Tarawih hingga ke Jalan dan Pertokoan
Setelah Magrib, banyak jemaah di dalam masjid mempertahankan tempat duduknya. Hal ini dikarenakan kapasitas Masjidil Haram yang sering kali mencapai titik puncaknya jauh sebelum salat Isya dimulai.
Kepadatan jemaah benar-benar tidak terbendung. Saat salat dimulai, shaf-shaf makmum tidak hanya memenuhi interior masjid dan pelataran saja, tetapi meluber hingga ke luar area masjid.
Pemandangan jemaah yang menggelar sajadah di jalan-jalan, di depan pertokoan, hingga di sela-sela area hotel menjadi pemandangan umum. Meski berada di luar bangunan utama, para jemaah tetap mengikuti gerakan imam dengan khusyuk melalui sistem tata suara (sound system) yang menjangkau radius luas sekitar masjid.
Puncak kekhusyukan terjadi saat lantunan ayat suci Al-Qur'an bergema. Dipimpin oleh imam-imam besar Masjidil Haram, salat berlangsung selama kurang lebih dua jam dengan target khatam Al-Qur'an pada malam ke-29.
Pemandangan jemaah yang bersujud serempak dari dalam masjid hingga ke jalanan kota adalah bukti nyata kekuatan iman dan kerinduan umat islam akan keberkahan. Ramadan di Makkah bukan sekadar rutinitas, melainkan manifestasi ukhuwah global di pusat peradaban Islam pertama kali lahir.
--
Zulfikar Audia Pratama
Mahasiswa S2 Jurusan Dakwah & Peradaban, di Kulliyah Dakwah Islamiyah Tripoli Libya
Artikel ini merupakan kolaborasi detikHikmah dengan PPI Dunia. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)
(kri/kri)


Komentar Terbanyak
Ramai Keluhan soal Tahlilan, Begini Penjelasan soal Jamuan di Rumah Duka
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat