Tahun Baru 1448 H, Menag Nasaruddin Umar Pesan Jangan Umbar Kebencian

Tahun Baru 1448 H, Menag Nasaruddin Umar Pesan Jangan Umbar Kebencian

Hanif Hawari - detikHikmah
Kamis, 11 Jun 2026 17:45 WIB
Menteri Agama Nasaruddin Umar
Menteri Agama Nasaruddin Umar (Foto: Kemenag)
Jakarta -

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak umat Islam memaknai Tahun Baru Hijriah 1448 H tidak hanya sebagai pergantian kalender, tetapi sebagai momentum melakukan perubahan diri menuju kehidupan yang lebih baik. Menurutnya, semangat hijrah harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama dan lingkungan sekitar.

"Hijrah itu bukan sekadar perpindahan tempat dari satu titik ke titik lain, melainkan sebuah transformasi spiritual dan sosial menuju pribadi yang lebih baik. Semangat hijrah kita saat ini harus tecermin dari seberapa peduli kita kepada sesama, bagaimana kita menjaga lingkungan, serta komitmen kita untuk selalu menghadirkan kemaslahatan di tengah masyarakat," ujar Nasaruddin Umar, dikutip dari laman Kemenag, Kamis (11/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menag menegaskan bahwa hakikat beragama adalah menebarkan kasih sayang dan kebaikan kepada sesama. Karena itu, ia mengingatkan agar agama tidak dijadikan alat untuk menyebarkan kebencian maupun memecah belah persatuan bangsa.

Menurutnya, ukuran keberagamaan seseorang tidak hanya terlihat dari ritual ibadah yang dijalankan. RTetapi juga dari seberapa besar rasa cinta dan kepedulian terhadap orang lain.

ADVERTISEMENT

"Kalau kita mau mengukur apakah kita beragama atau tidak, lihatlah seberapa besar rasa cinta kita terhadap sesama. Kalau ada orang berbicara tentang agama tetapi mengumbar kebencian, maka sesungguhnya ia sedang menjauh dari substansi ajaran agama itu sendiri," tuturnya.

Selain mengajak umat melakukan refleksi diri, Menag juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali peran strategis masjid di era modern. Ia merujuk pada sejarah penetapan kalender Hijriah pada masa Khalifah Umar bin Khattab yang menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai tonggak lahirnya peradaban baru umat Islam.

Menurut Nasaruddin, pada masa Rasulullah SAW, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas sosial, pendidikan, musyawarah, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

"Masjid harus terus menjadi pusat peradaban yang menghadirkan manfaat bagi umat dan memperkuat persatuan serta kepedulian sosial," ungkapnya.

Ia menilai masjid tidak boleh bersikap pasif dan hanya digunakan untuk kegiatan ritual keagamaan semata. Sebaliknya, masjid harus menjadi ruang yang hidup dan mampu menjawab berbagai kebutuhan umat di tengah perkembangan zaman.

Dengan semangat Tahun Baru 1448 H, Menag berharap masjid-masjid di Indonesia dapat semakin aktif berkontribusi dalam membangun masyarakat yang harmonis, berdaya, dan penuh kepedulian sosial.

Momentum hijrah, kata dia, seharusnya menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran untuk memperbaiki diri, lalu diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi lingkungan dan kehidupan bersama.




(hnh/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads