Wasekjen PBNU: Muktamar di Tambakberas Panggilan Para Muassis

Wasekjen PBNU: Muktamar di Tambakberas Panggilan Para Muassis

Hanif Hawari - detikHikmah
Rabu, 08 Jul 2026 17:45 WIB
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, KH Mashum Faqih atau Gus Mashum
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, KH Ma'shum Faqih atau Gus Ma'shum (Foto: Dok. PBNU)
Jakarta -

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyambut baik terpilihnya Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sebagai lokasi pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang akan digelar pada 27-31 Agustus 2026 mendatang. Momentum ini dinilai membawa pesan spiritual yang kuat untuk internal organisasi.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU KH Ma'shum Faqih atau yang akrab disapa Gus Ma'shum menyebut penunjukan lokasi ini bukan sekadar urusan teknis tempat acara. Menurutnya, ada makna historis dan spiritualitas mendalam bagi perjalanan satu abad lebih Nahdlatul Ulama.

"Alhamdulillah, saya merasa sangat lega. Saya memandang keputusan ini sebagai karomah Mbah Yai Abdul Wahab Chasbullah," ujar Gus Ma'shum dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (8/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gus Ma'shum menilai, kembalinya Muktamar NU ke Tambakberas layaknya sebuah undangan batin dari para pendiri NU. Hal ini diharapkan menjadi titik balik bagi seluruh pengurus dan warga Nahdliyin untuk merapatkan barisan.

ADVERTISEMENT

"Muktamar di Tambakberas seperti menjadi panggilan para muassis agar seluruh keluarga besar NU kembali kepada rumah perjuangan, kembali memperkuat ukhuwah, adab, dan khidmah," tuturnya.

Anggota Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan ini kemudian mengulas balik rekam jejak KH Abdul Wahab Chasbullah. Mbah Yai Wahab merupakan sosok kunci, inisiator, sekaligus motor penggerak lahirnya NU yang berembrio dari Komite Hijaz pada 1926.

Meski menjadi arsitek utama lahirnya NU, Mbah Yai Wahab menunjukkan keteladanan dan ketawaduan luar biasa dengan tetap memohon restu sang guru, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari, sebelum organisasi resmi dideklarasikan.

Di tengah berbagai dinamika yang melanda internal organisasi belakangan ini, Gus Ma'shum meyakini dipilihnya Tambakberas merupakan pengingat agar NU tidak melenceng dari jalur perjuangan para ulama terdahulu.

"Saya meyakini para muassis tidak pernah meninggalkan NU. Seakan-akan Mbah Yai Wahab sedang mengajak kita semua pulang, kembali meneguhkan persatuan dan mengutamakan kemaslahatan jam'iyah di atas kepentingan apa pun," kata tokoh yang juga pernah menjabat Wakil Katib Syuriyah PWNU Jawa Timur ini.

Lebih lanjut, Gus Ma'shum menjelaskan eratnya tali sejarah antara KH Abdul Wahab Chasbullah dan Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari dengan Tambakberas. Keduanya merupakan keturunan dari keluarga besar Pondok Pesantren Tambakberas yang didirikan oleh KH Abdussalam atau Mbah Shoichah. Uniknya, kedua tokoh besar tersebut juga tercatat pernah sama-sama menimba ilmu di Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban.

"Semoga momentum Muktamar di Tambakberas membuat seluruh warga NU kembali menjadi satu dengan kesadaran masing-masing. Kalau Muktamar digelar di rumah Mbah Yai Wahab, tentu kita semua merasa sedang ditunggu untuk kembali memperkuat persaudaraan dan khidmah kepada Nahdlatul Ulama," harapnya.

Pendiri Forum Gawagis Nusantara yang juga mantan Wakil Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PWNU Jatim ini menitipkan harapan besar agar Muktamar ke-35 nanti bisa mengembalikan tata kelola organisasi sesuai dengan Khittah NU. Struktur kepengurusan diharapkan dapat berfungsi secara harmonis dan proporsional.

"Para muassis telah memberikan teladan bahwa ulama adalah penuntun arah perjalanan jam'iyah. Karena itu, saya berharap Muktamar di Tambakberas menjadi momentum memperkuat kembali peran Mustasyar dan Syuriyah sebagai penjaga nilai, hikmah, dan arah organisasi, sementara Tanfidziyah menjalankan amanah organisasi sesuai kewenangannya. Harmoni itulah yang menjadi kekuatan NU selama lebih dari satu abad," pungkas Gus Ma'shum.




(hnh/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads