- Kisah Raden Mas Rangsang 1. Dari Raden Mas Jetmiko ke Raden Mas Rangsang 2. Sosok yang Tajam dan Punya Pandangan Jauh 3. Taat Beragama dan Tetap 'Njawani' 4. Naik Takhta di Usia Muda
- Kejayaan Mataram di Bawah Kepemimpinan Sultan Agung 1. Politik 2. Ekonomi 3. Agama
- Sultan Agung Menyerang VOC di Batavia
- FAQ 1. Siapakah Raden Mas Rangsang? 2. Siapa Sultan Agung yang memerintah Kesultanan Mataram pada abad ke-17? 3. Siapakah raja terkenal di Mataram?
Di balik nama besar Sultan Agung Hanyokrokusumo, terdapat kisah seorang pemuda yang tumbuh dari lingkungan keraton Jawa, ditempa oleh tradisi, ambisi, dan disiplin kekuasaan. Sebelum dikenal sebagai raja terbesar Mataram Islam, ia adalah Raden Mas Rangsang, putra raja yang sejak muda sudah dipersiapkan untuk memikul beban besar sejarah.
Pergantian dari putra raja menjadi penguasa tertinggi Mataram tidak terjadi dalam ruang hampa. Raden Mas Rangsang tumbuh di masa ketika kerajaan membutuhkan figur kuat untuk menata kekuasaan, memperluas wilayah, dan menghadapi ancaman dari dalam maupun luar Jawa.
Dari titik inilah kisah Raden Mas Rangsang menjadi penting untuk dipahami, bukan hanya sebagai biografi raja, tetapi sebagai potret lahirnya pemimpin terbesar dalam sejarah Mataram Islam. Baca selengkapnya untuk memahami bagaimana pemuda ini menjelma menjadi Sultan Agung, detikers.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin utamanya:
- Raden Mas Rangsang adalah putra Panembahan Krapyak yang naik takhta pada usia muda dan kemudian dikenal sebagai Sultan Agung.
- Di bawah kepemimpinannya, Mataram mencapai puncak kejayaan melalui ekspansi politik, kekuatan ekonomi agraris, dan penataan agama.
- Meski gagal menaklukkan Batavia, perlawanan Sultan Agung terhadap VOC menegaskan sikap anti-dominasi asing di Jawa abad ke-17.
Kisah Raden Mas Rangsang
Riwayat hidup Raden Mas Rangsang sangat menarik untuk kita pelajari secara mendalam. Berikut penjelasan lengkapnya.
1. Dari Raden Mas Jetmiko ke Raden Mas Rangsang
Dalam skripsi Perlawanan Sultan Agung terhadap VOC 1628-1629 karya Ma'rifah (Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya), disebutkan bahwa Raden Mas Rangsang lahir dengan nama kecil Raden Mas Jetmiko, yang bermakna sopan dan rendah hati. Seiring bertambah usia, namanya berubah menjadi Pangeran Rangsang, yang berarti bergairah atau penuh semangat.
Ia merupakan putra Prabu Hadi Hanyakrawati atau Panembahan Krapyak, raja kedua Mataram, dan Ratu Mas Adi Dyah Banawati. Sejak kecil, Rangsang tumbuh dalam lingkungan keraton yang sarat disiplin, hierarki, dan tuntutan kepemimpinan. Ia bukan sekadar anak raja, tetapi pewaris harapan dinasti.
Soal tahun kelahiran, sumber-sumber sejarah memang berbeda. Ada yang menyebut 1593 M di Jogja, ada pula yang menyebut 1591 M di Kotagede. Perbedaan ini, sebagaimana dicatat Ma'rifah, kerap muncul dalam historiografi Jawa, tetapi tidak mengaburkan satu hal penting, yaitu Raden Mas Rangsang tumbuh pada masa Mataram sedang menguat dan membutuhkan pemimpin kuat.
2. Sosok yang Tajam dan Punya Pandangan Jauh
Penokohan Raden Mas Rangsang banyak tercermin dari kesaksian orang-orang Eropa yang pernah bertemu langsung dengannya. Seorang saudagar Belanda, Balthasar van Eyndhoven, menggambarkannya sebagai sosok yang tidak bisa dianggap remeh. Dalam catatan yang dikutip Ma'rifah, wajahnya disebut keras dan wibawanya menyerupai kaisar yang memerintah kerajaan besar.
Kesaksian lain datang dari dokter H de Haen yang menggambarkan Raden Mas Rangsang sebagai pria bertubuh bagus, berwajah tenang, dan terlihat cerdas. Namun, tatapannya bisa berubah tajam seperti singa ketika memandang orang di sekelilingnya. Gambaran ini menegaskan satu hal: di balik ketenangan, tersimpan kewaspadaan tinggi.
Ia dikenal memiliki rasa ingin tahu besar. Dalam catatan De Graff yang juga dirujuk Ma'rifah, Raden Mas Rangsang kerap menanyakan peta dunia, letak negeri-negeri Eropa, hingga kekuatan militer kerajaan lain. Pengetahuan bukan baginya sekadar wawasan, melainkan alat kekuasaan.
Namun, kecerdasan itu berjalan beriringan dengan ketegasan ekstrem. Raden Mas Rangsang dikenal keras terhadap pelanggaran, baik kecil maupun besar. Kisah tentang hukuman berat terhadap para pembesar yang dianggap curang atau prajurit yang melanggar perintah sering muncul dalam sumber-sumber sezaman.
Menurut catatan sejarah yang dikutip Ma'rifah, ketegasan ini bukan semata luapan emosi. Ia percaya bahwa pengawasan keras lebih baik daripada membiarkan kekuasaan rapuh. Di mata Raden Mas Rangsang, ketertiban adalah fondasi kerajaan.
Sikap ini pula yang membuatnya tidak mudah percaya, bahkan kepada orang-orang terdekatnya. Ia selalu waspada terhadap kemungkinan pengkhianatan, sebuah sikap yang terbentuk dari kerasnya dunia politik Jawa abad ke-17.
3. Taat Beragama dan Tetap 'Njawani'
Meski dikenal keras, Raden Mas Rangsang juga dikenal sebagai penguasa yang taat beragama. Dalam berbagai catatan, ia digambarkan rajin ke masjid dan menegakkan praktik Islam di lingkungan Mataram. Namun, ketaatannya tidak serta-merta menghapus identitas Jawanya.
Ma'rifah mencatat bahwa Raden Mas Rangsang tetap menghormati tradisi leluhur, sebuah sikap khas raja-raja Jawa yang memadukan Islam dengan adat. Ia adalah muslim yang taat, sekaligus pewaris budaya panjang tanah Jawa.
Penampilannya pun mencerminkan itu. Kadang digambarkan mengenakan batik sederhana, kuluk putih, keris di badan, serta perhiasan yang menunjukkan status raja. Ada pula catatan lain yang menggambarkannya berpakaian lebih mewah. Ragam gambaran ini justru menegaskan fleksibilitasnya sebagai penguasa.
4. Naik Takhta di Usia Muda
Raden Mas Rangsang naik takhta pada usia sekitar 20 tahun, pada 1613, menggantikan ayahnya Panembahan Krapyak. Proses pengangkatannya tidak sepenuhnya mulus. Dalam Babad Tanah Jawi yang juga dirujuk Ma'rifah, diceritakan bahwa adiknya, Martapura, sempat dinobatkan sebagai raja sehari sebelum menyerahkan takhta kepada Rangsang.
Setelah penobatan, ia menyandang gelar panjang yang kelak dikenang sejarah: Sultan Agung Senapati Ingalaga Ngabdurrahman. Sejak saat itu, Raden Mas Rangsang tidak lagi sekadar putra raja. Ia menjelma menjadi figur sentral Mataram Islam.
Buku Bedug-bedug Penguasa karya Sastrawan X menegaskan bahwa di tangan Raden Mas Rangsang, Mataram Islam mencapai puncak kejayaannya. Ia memerintah hingga wafat pada 1645 dan dimakamkan di Imogiri.
Namun, sebelum menjadi simbol kejayaan Mataram, Raden Mas Rangsang adalah pemuda yang dibentuk oleh disiplin keraton, rasa ingin tahu yang besar, dan keyakinan bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan tangan kuat.
Kejayaan Mataram di Bawah Kepemimpinan Sultan Agung
Ketika Raden Mas Rangsang resmi menyandang gelar Sultan Agung, Mataram tidak hanya mengalami pergantian raja, tetapi memasuki fase baru sebagai kekuatan terbesar di Jawa. Di tangannya, Mataram berkembang cepat dan menampilkan wajah kerajaan yang kuat secara politik, luas secara wilayah, mandiri secara ekonomi, dan kokoh secara keagamaan. Berikut gambaran kondisi Kerajaan Mataram menurut artikel Politik Ekspansi Sultan Agung di Wilayah Timur Tanah Jawa 1614-1625 M karta Nurul Lailia dkk.
1. Politik
Dalam bidang politik, Sultan Agung membangun konsep kekuasaan yang tegas melalui doktrin Kagunganbinataraan. Seperti dijelaskan dalam Kitab Terlengkap Mataram karya Abimanyu, konsep ini menempatkan raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi yang bersifat tunggal, utuh, dan tidak terbagi.
Raja berada di puncak piramida kekuasaan, tidak tersaingi, sekaligus menjadi pusat kendali negara. Sultan Agung memadukan ajaran Islam tentang raja sebagai khalifatullah dengan pandangan Jawa mengenai raja sebagai pemegang wenang wisesa ing sanagari, kekuasaan tertinggi dalam negara.
Kekuasaan yang terpusat itu kemudian ditopang oleh ekspansi wilayah besar-besaran. Sejak awal pemerintahannya, Sultan Agung secara bertahap menundukkan daerah-daerah penting.
Wilayah-wilayah seperti Wirasaba, Lasem, Pasuruan, Tuban, Gresik, Madura, Surabaya, hingga Giri dan Blambangan akhirnya berada di bawah pengaruh Mataram. Di barat Jawa, hampir seluruh wilayah dikuasai kecuali Banten dan Batavia. Bahkan pengaruh Mataram meluas ke luar Jawa, termasuk Palembang, Jambi, Banjarmasin, dan Makassar.
Keberhasilan ekspansi ini tidak dilepaskan dari strategi matang. Sultan Agung memahami medan, musim, dan cuaca, serta menerapkan disiplin militer yang ketat. Perang tidak dijalankan secara serampangan, tetapi sebagai bagian dari strategi politik jangka panjang untuk menyatukan Jawa di bawah Mataram.
2. Ekonomi
Di bidang ekonomi, Mataram tumbuh sebagai kerajaan agraris yang kuat. Karena wilayahnya di pedalaman, Sultan Agung menjadikan pertanian sebagai tulang punggung ekonomi negara. Mataram menguasai daerah-daerah persawahan luas dan menjadikan beras sebagai komoditas utama.
Beras bukan hanya sumber pangan, tetapi juga alat diplomasi dan senjata ekonomi. Selama abad ke-17, Mataram menjadi pemasok beras penting bagi wilayah Nusantara, Portugis di Malaka, hingga Belanda di Batavia. Bahkan, monopoli beras Mataram sempat memaksa Belanda mencari pasokan dari India, Siam, dan Jepang.
3. Agama
Sementara itu, di bidang agama, Sultan Agung menegaskan Islam sebagai agama resmi kerajaan. Ia menyandang gelar Sayyidin Panatagama, yang berarti pengatur kehidupan keagamaan. Rakyat mengikuti agama rajanya, sebuah konsep yang dikenal sebagai agama ageming aji.
Namun Sultan Agung tidak berhenti di situ, ia juga melakukan reformasi, termasuk menata ulang posisi ulama agar tidak berada di atas kekuasaan raja, sekaligus menjadikan Islam sebagai simbol kemenangan politik setiap kali Mataram menaklukkan wilayah baru. Warisan penting lainnya adalah penyusunan kalender Jawa-Islam, yang memadukan penanggalan Hijriah dan Saka.
Sultan Agung Menyerang VOC di Batavia
Sultan Agung tercatat pernah melakukan dua kali serangan besar terhadap VOC di Batavia, yakni pada tahun 1628 dan 1629. Dikutip dari artikel Penyerangan Sultan Agung terhadap VOC di Batavia Tahun 1628 dan 1629 oleh Triwahana dan Siswanta, serangan ini dilatarbelakangi oleh memburuknya hubungan antara Kerajaan Mataram dan VOC akibat praktik monopoli perdagangan yang merugikan rakyat, khususnya di wilayah pesisir utara Jawa.
Sejak VOC berdiri pada 1602, Belanda mulai memaksakan monopoli dagang dan bertindak sewenang-wenang terhadap kerajaan-kerajaan Nusantara. Dikutip dari kajian Sartono Kartodirdjo dan De Graaf, VOC tidak hanya menguasai perdagangan, tetapi juga mencampuri urusan politik penguasa lokal. Sikap ini bertentangan dengan pandangan Sultan Agung yang menempatkan raja Mataram sebagai penguasa tertinggi yang tidak boleh ditandingi oleh kekuatan asing.
Serangan pertama ke Batavia pada 1628 dipimpin Tumenggung Baurekso dari Kendal. Pasukan Mataram sempat menekan pertahanan VOC, tetapi akhirnya gagal merebut benteng karena kuatnya pertahanan Belanda dan masalah logistik. Banyak prajurit Mataram gugur akibat kelaparan dan kekurangan perbekalan.
Tidak menyerah, Sultan Agung kembali melancarkan serangan kedua pada 1629 dengan persiapan yang lebih matang, terutama di bidang logistik dan persenjataan. Pasukan besar kembali dikerahkan dan pertempuran berlangsung sengit. Namun, VOC berhasil mematahkan serangan dengan cara membakar gudang-gudang perbekalan Mataram, sehingga pasukan kembali melemah karena kelaparan.
Meski kedua serangan tersebut berakhir gagal, penyerangan ke Batavia menunjukkan sikap tegas Sultan Agung dalam menentang dominasi VOC. Upaya ini juga menegaskan cita-citanya untuk mempersatukan Jawa di bawah kekuasaan Mataram dan mengusir kekuatan asing yang dianggap mengancam kedaulatan kerajaan.
Demikian kisah Raden Mas Rangsang atau Sultan Agung, salah satu raja terbesar Mataram Islam. Semoga bermanfaat!
FAQ
1. Siapakah Raden Mas Rangsang?
Raden Mas Rangsang adalah nama kecil Sultan Agung, raja terbesar Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-17.
2. Siapa Sultan Agung yang memerintah Kesultanan Mataram pada abad ke-17?
Sultan Agung adalah penguasa Mataram Islam yang memerintah sejak 1613 hingga 1645 dan membawa Mataram ke puncak kejayaan.
3. Siapakah raja terkenal di Mataram?
Raja Mataram yang paling terkenal adalah Sultan Agung, karena keberhasilan politik, militer, dan reformasi budayanya.
(sto/aku)

Komentar Terbanyak
Apakah Gigitan Orong-orong Berbahaya? Cari Tahu Bekas dan Cara Mengobatinya
14 Orang Jadi Tersangka Baru Kasus Penyiksaan Anak Daycare Little Aresha Jogja
MBG Libur, Harga Ayam Hidup di Gunungkidul Anjlok Jadi Rp 17 Ribu/Kg