- Materi tentang Lailatul Qadar 1. Materi Lailatul Qadar Berjudul: Tanda Turunnya Lailatul Qadar 2. Materi Lailatul Qadar Berjudul: Mengejar Kemuliaan Lailatul Qadar sesuai Anjuran Rasulullah 3. Materi Lailatul Qadar Berjudul: Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadan 4. Materi Lailatul Qadar Berjudul: Keutamaan Lailatul Qadar, Malam Penuh Kemuliaan 5. Materi Lailatul Qadar Berjudul: Waktu Turunnya Al-Quran di Bulan Ramadan 6. Materi Lailatul Qadar Berjudul: Ciri Muslim yang Berhasil Meraih Lailatul Qadar Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jilani 7. Materi Lailatul Qadar Berjudul: Amalan Malam Lailatul Qadar
Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan. Di dalamnya terdapat berbagai kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, memohon ampunan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu keistimewaan yang ada di bulan suci ini adalah hadirnya Lailatul Qadar.
Lailatul Qadar dikenal sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam tersebut, Allah SWT menurunkan banyak rahmat, keberkahan, serta ampunan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Oleh karena itu, banyak umat Islam yang berlomba-lomba meningkatkan amal ibadah, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadan, dengan harapan dapat meraih kemuliaan malam tersebut.
Memahami keutamaan Lailatul Qadar sangat penting agar kita tidak melewatkan kesempatan berharga yang hanya datang sekali dalam setahun ini. Melalui berbagai penjelasan dan kajian, kita dapat mengetahui tanda-tanda Lailatul Qadar, keutamaannya, serta amalan yang dianjurkan untuk menghidupkan malam yang penuh kemuliaan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi detikers yang sedang mencari materi tentang Lailatul Qadar yang cocok untuk ceramah, kultum, hingga khutbah jumat, detikJogja telah mengumpulkannya dari buku 'Kumpulan Kultum Terlengkap & Terbaik Sepanjang Tahun' oleh Shohibul Ulum, laman NU Online, laman Muhammadiyah, dan laman MUI Digital.
Materi tentang Lailatul Qadar
Adapun materi tentang 10 malam terakhir di bulan Ramadan atau Lailatul Qadar yang dapat digunakan sebagai referensi, cocok untuk ceramah, kultum, hingga khutbah Jumat, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Materi Lailatul Qadar Berjudul: Tanda Turunnya Lailatul Qadar
Malam Lailatul Qadar bagaikan permata sangat indah yang tersimpan di tempat sangat tersembunyi. Semua orang menginginkannya, tetapi hanya bisa memprediksi keberadaannya. Dalam satu hadits terkait malam Lailatul Qadar, Rasulullah bersabda,
إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ وَلاَ يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلَّا مَحْرُومٌ
Artinya, "Sesungguhnya bulan ini (Ramadan) telah datang kepada kalian. Padanya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalangi darinya, sungguh ia telah terhalangi dari semua kebaikan. Dan tidak ada yang terhalangi (darinya), kecuali orang yang memang terhalangi dari kebaikan)" (HR Ibnu Majah).
Ciri-ciri Malam Lailatul Qadar
Malam Lailatul Qadar merupakan malam yang sangat istimewa dalam bulan Ramadan. Namun, waktu terjadinya malam tersebut tidak dapat dipastikan secara pasti. Selain mengikuti penjelasan dan prediksi para ulama, sebagian orang juga mencoba mengenali kedatangannya melalui beberapa tanda atau gejala alam yang disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Berikut beberapa ciri-ciri malam Lailatul Qadar berdasarkan riwayat hadits:
Pertama, pada pagi harinya sinar matahari tidak terlalu terik dan cuaca terasa sejuk. Hal ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Kedua, pada malam harinya langit tampak bersih tanpa awan, suasana terasa tenang dan sunyi, serta udara tidak terlalu dingin dan tidak pula terlalu panas.
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:
لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَّمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء
Artinya: "Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin. Pada pagi harinya matahari terbit dengan cahaya yang lemah dan tampak kemerah-merahan." (HR. Ath-Thayalisi dan Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman).
Meski demikian, tanda-tanda alam tersebut tidak dapat dijadikan patokan pasti untuk menentukan datangnya malam Lailatul Qadar. Ulama besar Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa ciri-ciri tersebut biasanya tampak setelah malam Lailatul Qadar berlalu, bukan sebelumnya atau saat malam itu sedang berlangsung. Karena itu, tanda tersebut tidak dapat dijadikan persiapan untuk menyambut kedatangannya. (Ibnu Hajar, Fathul Bari, juz IV, hlm. 260).
Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa waktu pasti terjadinya malam Lailatul Qadar tetap menjadi rahasia Allah SWT. Yang dapat kita lakukan hanyalah berusaha dan bersungguh-sungguh memperbanyak ibadah selama bulan Ramadan, terutama pada sepuluh malam terakhir, dengan harapan dapat meraih kemuliaan malam yang lebih baik dari seribu bulan tersebut.
2. Materi Lailatul Qadar Berjudul: Mengejar Kemuliaan Lailatul Qadar sesuai Anjuran Rasulullah
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan, Nabi Muhammad SAW selalu menjadikan 10 malam terakhir bulan Ramadan sebagai kesempatan untuk beribadah dan berserah diri kepada Allah SWT.
Tidur di malam hari diibaratkan sebagai saudara kematian, karena saat tidur, aktivitas dan kesadaran manusia terhenti. Karena itu, dianjurkan bagi umat Islam untuk memanfaatkan waktu malam untuk beribadah, seperti shalat malam, membaca Al-Quran, atau berzikir.
وأحيا ليله أي : سهره فأحياه بالطاعة وأحيا نفسه بسهره فيه ؛ لأن النوم أخو الموت ، وأضافه إلى الليل اتساعا ؛ لأن القائم إذا حيي باليقظة أحيا ليله بحياته ، وهو نحو قوله : " لا تجعلوا بيوتكم قبورا " أي : لا تناموا فتكونوا كالأموات فتكون بيوتكم كالقبور
Artinya: "Dan ia menghidupkan malamnya". Maksudnya Nabi SAW berjaga sepanjang malam. Ia menghidupkannya dengan ketaatan dan menghidupkan dirinya sendiri dengan berjaga-jaga di dalamnya. Karena tidur itu saudara kematian. Tambahan kata "malam" di sini untuk memperluas makna. Karena orang yang bangun dan berjaga, maka dia menghidupkan malam dengan kehidupannya. Hal ini serupa dengan firman Allah:
لا تجعلوا بيوتكم قبورا
Artinya: "Janganlah kamu jadikan rumah-rumahmu seperti kuburan. Pengertiannya: janganlah kamu tidur di rumah-rumahmu, sehingga kamu menjadi seperti orang mati dan rumah-rumahmu menjadi seperti kuburan." [Ibnu Hajar Al-Asqallani, Fathul Bari, [Kairo; Dar Rayyan lit Turats: 1986 M], jilid IV, halaman 316]
Lebih dari itu, hadits ini menunjukkan keteladanan Rasulullah SAW dalam memanfaatkan 10 malam terakhir Ramadan dengan maksimal. Beliau meningkatkan intensitas ibadahnya dan mengajak keluarganya untuk turut serta dalam meraih malam-malam penuh berkah ini.
Selain memperbanyak shalat malam dan beribadah, Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk memperbanyak doa di malam-malam tersebut. Beliau mengajarkan kepada Aisyah ra doa yang bisa dipanjatkan untuk meraih Lailatul Qadar, yaitu:
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Latinnya: Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annī.
Artinya: "Ya Allah, sungguh Engkau maha pemaaf yang pemurah. Engkau juga menyukai maaf. Karena itu, maafkanlah aku."
3. Materi Lailatul Qadar Berjudul: Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadan
Mengisi malam Lailatul Qadar adalah dengan banyak ibadah terlihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda,
"Barang siapa yang beribadah pada malam al-Qadar karena iman dan mengharapkan keridhaan Allah, diampunilah dosa-dosanya yang terdahulu."
Secara ringkas, dapat disimpulkan beberapa amaliah menjaring dan 'memburu' malam Lailatul Qadar, malam seribu bulan adalah sebagai berikut:
Pertama, menghidupkan malam Lailatul Qadar adalah bukti keimanan seseorang. Dari Abu Hurairah, bersabda Nabi "Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosanya yang terdahulu." (HR. Bukhari no. 34)
Kedua, menggapai Lailatul Qadar hendaklah dalam keadaan berpuasa. Dari Abu Hurairah Nabi bersabda, "Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosanya yang terdahulu, dan barangsiapa berpuasa Ramadan dalam Iman dan mengharap ridha Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari no. 1768)
Ketiga, mencari Lailatul Qadar itu pada 10 malam yang terakhir. Dari 'Aisyah berkata: "Adalah Nabi biasa mencari Lailatul Qadar pada 10 malam yang terakhir." (HR Bukhari no. 1880)
Keempat, mencari Lailatul Qadar itu pada 10 terakhir tersebut terutama pada malam-malam witir-nya (ganjilnya). Dari Aisyah: "Adalah Nabi mencari Lailatul Qadar pada malam-malam witir di 10 hari terakhir." (HR Bukhari no. 1878)
Kelima, hadits paling seringnya tentang Lailatul Qadar adalah tanggal 27, tapi terjadi juga tanggal 23-nya. Dari Abdullah bin Unais, Nabi SAW bersabda: "Aku melihat Lailatul Qadar lalu aku dibuat lupa waktunya, dan ditampakkan padaku saat Subuhnya aku sujud di tanah yang basah, lalu kata Abdullah: Maka turun hujan atas kami pada malam 23, maka Nabi shalat Subuh bersama kami, lalu beliau pulang dan tampak bekas air dan tanah di dahi dan hidung beliau lalu dikatakan: Maka Abdullah bin Unais berkata tanggal 23 itulah Lailatul Qadar." (HR Muslim no. 1997)
Keenam, Lailatul Qadar itu bisa didapati dalam keadaan jaga maupun juga dalam kondisi tidur dalam bentuk mimpi yang benar. Dari Ibnu Umar: "Ada beberapa orang laki-laki sahabat Nabi yang bermimpi melihat Lailatul Qadar pada 7 malam terakhir, maka sabda Nabi: Aku juga melihat apa yang kalian mimpikan itu jatuhnya pada 7 malam terakhir, maka barangsiapa yang ingin mencarinya, maka carilah pada 7 malam terakhir tersebut." (HR Bukhari no. 1876)
Ketujuh, Lailatul Qadar hanya bermanfaat bagi orang yang iman dan mengharap ridha Allah. Dari Abu Hurairah, dari Nabi bersabda, "Barang siapa yang bangun saat Lailatul Qadar lalu pas melihatnya, lalu sabda Nabi : Dan orang tersebut beriman dan mengharap ridha Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Muslim hadits no. 1269)
Yang terakhir, saat Lailatul Qadar Malaikat yang turun ke bumi lebih banyak dari kerikil. Bersabda Nabi: "Lailatul Qadar itu pada malam 27 atau 29, sungguh malaikat yang turun pada saat itu ke bumi lebih banyak dari jumlah batu kerikil." (HR. Thayalisi dalam Musnad-nya no. 2545; juga Ahmad; dan Ibnu Khuzaimah)
4. Materi Lailatul Qadar Berjudul: Keutamaan Lailatul Qadar, Malam Penuh Kemuliaan
Lailatul Qadar merupakan malam istimewa yang Allah SWT anugerahkan kepada umat Nabi Muhammad SAW. Pada malam ini, ibadah yang dilakukan lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun lebih. Keutamaan ini menjadi karunia besar bagi umat Islam yang rata-rata memiliki usia antara 60 hingga 70 tahun. Karena itu, ada beberapa keutamaan dari malam Lailatul Qadar yang perlu kita ketahui.
Pertama, Lailatul Qadar adalah malam diturunkannya Al-Quran. Allah SWT menurunkan Al-Quran pada malam yang penuh kemuliaan ini. Sebagaimana firman Allah SWT:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam Lailatul Qadar." (QS. Al-Qadr: 1).
Kedua, Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan. Allah SWT berfirman:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ
Artinya: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang penuh berkah." (QS. Ad-Dukhan: 3).
Pada malam ini, Allah melimpahkan rahmat, ampunan, serta keberkahan yang sangat besar bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Ketiga, pada malam Lailatul Qadar Allah menetapkan berbagai urusan bagi makhluk-Nya selama satu tahun ke depan. Allah memberitahukan kepada para malaikat tentang berbagai ketetapan yang akan terjadi, seperti siapa yang akan lahir, siapa yang akan meninggal, siapa yang mendapatkan rezeki, serta berbagai takdir lainnya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
Artinya: "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." (QS. Ad-Dukhan: 4).
Keempat, amal saleh yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar lebih baik daripada amal yang dilakukan selama seribu bulan. Allah SWT berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya: "Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 3).
Ini menunjukkan betapa besar pahala yang diberikan Allah kepada orang-orang yang menghidupkan malam tersebut dengan ibadah seperti shalat malam, membaca Al-Quran, berdzikir, dan berdoa.
Kelima, pada malam Lailatul Qadar para malaikat turun ke bumi membawa rahmat dan keberkahan. Allah SWT berfirman:
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ
Artinya: "Pada malam itu turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan." (QS. Al-Qadr: 4).
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa malaikat Jibril bersama para malaikat turun ke bumi untuk mendoakan serta memberi salam kepada hamba-hamba Allah yang menghidupkan malam tersebut dengan dzikir dan ibadah.
Keenam, Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keselamatan hingga terbit fajar. Allah SWT berfirman:
سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Artinya: "Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr: 5).
5. Materi Lailatul Qadar Berjudul: Waktu Turunnya Al-Quran di Bulan Ramadan
Pertanyaan sederhana tetapi mendasar ialah kapan sebenarnya Al-Quran diturunkan? Apakah pada malam Lailatul Qadr di sepuluh hari terakhir Ramadan? Al-Quran sendiri menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan turunnya wahyu. Allah berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Artinya: "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)." (QS. Al-Baqarah: 185).
Ayat ini tegas menyatakan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadan. Namun, pada ayat lain disebutkan secara lebih spesifik bahwa penurunan itu terjadi pada malam tertentu. Allah berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan." (QS. Al-Qadr: 1).
Dan dalam surah lain ditegaskan:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
Artinya: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan." (QS. Ad-Dukhan: 3).
Malam yang diberkahi itu dipahami oleh para ulama sebagai Lailatul Qadar, yang terjadi di bulan Ramadan. Sampai di sini tampak jelas bahwa Al-Quran turun pada Ramadan, tepatnya pada malam Lailatul Qadar.
6. Materi Lailatul Qadar Berjudul: Ciri Muslim yang Berhasil Meraih Lailatul Qadar Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jilani
Seorang muslim sangat dianjurkan untuk menghidupkan 10 malam terakhir dengan ibadah kepada Allah SWT karena pada malam-malam inilah Lailatul Qadar diprediksi datang. Rasulullah SAW diriwayatkan di 10 malam terakhir bertambah semangat dan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah SWT.
كَانَ رَسُوْلُ الله إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Artinya: "Bila masuk 10 hari terakhir bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya." (HR Al-Bukhari)
Mendapatkan Lailatul Qadar adalah dambaan semua orang. Bagaimana tidak, karena ibadah di malam itu seperti ibadah seribu bulan. Artinya jika seseorang ibadah dan mendapatkan Lailatul Qadar berarti dia ibadah selama 83 tahun 4 bulan.
Jadi menurut pendapat yang dikutip Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, orang yang mendapatkan Lailatul Qadar akan mendapatkan ucapan salam serta jabatan tangan dari pemimpin para malaikat yakni Jibril.
Karena malaikat Jibril adalah makhluk ghaib, tentu ucapan salam dan jabatan tangannya berbeda halnya seperti kita manusia biasa. Namun itu semuanya dapat diketahui dari tanda-tandanya.
Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir Jilani kembali menjelaskan tanda orang yang mendapatkan ucapan salam dan jabatan tangan dari malaikat Jibril.
وعلامة ذلك اقشعرر جلده و ترقيق قلبه و تدميع عينيه
Artinya: "Tanda seseorang yang mendapatkan salam dan berjabat tangan dengan malaikat Jibril adalah gemetar kulitnya, hatinya menjadi lembut, dan air matanya senantiasa bercucuran." (Al-Jilani, II/23)
Jadi ada tiga tanda orang yang mendapatkan salam dan jabatan tangan dari malaikat Jibril sebagai bukti ia mendapatkan anugerah Lailatul Qadar, yakni: gemetar kulitnya, hatinya menjadi lembut dan banyak berurai air mata.
Kulitnya gemetaran karena ia telah bersalaman dengan sang pembawa wahyu mailaikat Jibril. Salam anugerah yang penuh makna dan tak biasa. Sementara hatinya lembut, tidak keras; ia lebih arif dan bijak dalam segala hal dan hatinya mendapatkan anugerah nur dari Allah SWT.
Berurai air mata atau matanya senantiasa bercucuran karena ia bergembira mendapatkan Lailatul Qadar, serta tangisan khauf yang tumbuh dari ketakwaan sebagai manifestasi rasa takut kepada Allah SWT.
7. Materi Lailatul Qadar Berjudul: Amalan Malam Lailatul Qadar
Dalam Hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, dijelaskan, Nabi SAW pernah ditanya tentang Lailatul Qadar. Beliau menjawab:
"Lailatul Qadar ada pada setiap bulan Ramadan," (HR Abu Dawud).
Namun, menurut hadits lainnya yang diriwayatkan Aisyah, Nabi Muhammad SAW memerintahkan:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: "Carilah Lailatul Qadar itu pada tanggal gasal dari sepuluh terakhir pada bulan Ramadan," (HR. Bukhari).
Dirahasiakanya tanggal pasti tentang Lailatul Qadar, menurut Kiai Nuril adalah untuk memotivasi umat agar terus beribadah, mencari rahmat dan ridha Allah kapan saja dan dimana saja, tanpa harus terpaku pada satu hari saja.
Profesor Muhammad Quraish Shihab mengungkapkan dua amalan agar seorang hamba bisa bertemu malam Lailatu Qadar, yaitu:
1. Memperbanyak amal baik Dalam QS Al-Qadr ayat 4 disebutkan dalam malam Lailatul Qadar, Malaikat turun. Ketika Malaikat turun dan mengunjungi seseorang, Malaikat senang dengan kebaikan, melingkupi kebaikan apa saja. Malaikat mendukung manusia yang berbuat baik. Dengan demikian, melakukan kebaikan secara terus-menerus bisa mengantarkan manusia mendapatkan malam Lailatul Qadar.
2. Menciptakan kedamaian Menciptakan kedamaian yang dimaksud adalah dengan melakukan hal-hal sederhana namun bermanfaat bagi orang lain. Dan, itu termuat dalam QS Al Qadr ayat 5, yang berbunyi, di malam Lailatul Qadar ada kedamaian sampai fajar.
Misalnya, ketika manusia naik bus, banyak orang di bus, lalu hanya duduk diam, tidak menyapa samping kiri dan samping kanannya. Hal itu termasuk damai, tetapi damai pasif. Lain halnya dengan damai aktif yaitu ketika saling menyapa atau memberi sesuatu kepada orang lain dengan tujuan yang baik.
Ini prinsip kedamaian yang dapat mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin seperti dijelaskan QS Al-Qadr ayat 5. Di saat itulah manusia mendapat malam kemuliaan, yaitu malam Lailatul Qadar.
Demikianlah beberapa materi tentang Lailatul Qadar yang dapat digunakan sebagai referensi, cocok untuk ceramah, kultum, hingga khutbah Jumat. Semoga membantu, detikers!
Artikel ini ditulis oleh Khofifah Azzahro peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.
(sto/dil)

Komentar Terbanyak
Serba-serbi SMA De Britto, Siswa Bebas Gondrong hingga Kelas Kandang Kuda
Duduk Perkara Danrem Pamungkas Cekcok dengan Marshal Saat Ikut Maraton
Mahasiswa Geruduk Diskusi Nusron-Budiman di UGM, Sempat Terjadi Kejar-kejaran