Prediksi Lebaran 2026 Pemerintah, BMKG, NU, dan Muhammadiyah, Tanggal Berapa?

Prediksi Lebaran 2026 Pemerintah, BMKG, NU, dan Muhammadiyah, Tanggal Berapa?

Khofifah Azzahro - detikJogja
Senin, 16 Mar 2026 12:07 WIB
Bulan sabit di langit malam.
Ilustrasi Hilal (Foto: Dijanynni Kiratza/Pexels)
Jogja -

Memasuki penghujung Ramadan, penetapan tanggal 1 Syawal menjadi hal yang paling dinanti oleh umat Islam. Kepastian ini akan menentukan kapan Hari Raya Idul Fitri 1447 H atau Lebaran 2026 dirayakan sekaligus menandai selesainya kewajiban berpuasa setelah menunaikannya selama sebulan penuh.

Di Indonesia, proses penentuan awal Syawal selalu diwarnai perbedaan metode perhitungan. Perbedaan ini dilakukan oleh beberapa pihak di antaranya terdapat Pemerintah, BMKG, dan dua organisasi besar Islam, yaitu NU dan Muhammadiyah.

Perbedaan metode perhitungan tersebutlah yang akhirnya berpotensi memunculkan variasi dalam waktu pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri 1447 H atau Lebaran 2026. Karena itu, simak informasi berikut untuk mengetahui prediksinya menurut Pemerintah, BMKG, NU, dan Muhammadiyah, yuk!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prediksi Lebaran 2026 Menurut Pemerintah

Sampai sekarang, pemerintah belum menetapkan secara resmi tanggal perayaan Lebaran 2026. Dilansir detikNews, kepastian mengenai hari raya Idul Fitri baru akan diputuskan melalui sidang isbat yang rencananya digelar pada Kamis, 19 Maret 2026 di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB.

ADVERTISEMENT

Di Indonesia, penentuan hilal mengacu pada kriteria yang telah disepakati oleh Menteri Agama dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Dikutip dari laman Kemenag RI, kriteria terbaru MABIMS menetapkan bahwa hilal dinyatakan memenuhi syarat imkanur rukyat apabila memiliki ketinggian minimal 3 derajat dengan sudut elongasi mencapai 6,4 derajat.

Meski keputusan resmi masih menunggu sidang isbat, gambaran mengenai perkiraan tanggal Lebaran dapat dilihat melalui Kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag RI. Dalam kalender tersebut, 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Prediksi Lebaran 2026 Menurut BMKG

Dalam penentuan awal bulan Hijriah, konjungsi atau ijtimak penting diperhatikan karena menandai fase bulan baru secara astronomi. Menurut BMKG, konjungsi atau ijtimak akan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23.23 WIB.

Berdasarkan perhitungan BMKG, posisi hilal saat Matahari terbenam di Indonesia pada 19 Maret 2026 diperkirakan masih cukup rendah. Ketinggian hilal berkisar antara 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang. Sementara itu, elongasi atau jarak sudut antara bulan dan matahari diperkirakan berkisar antara 4,54 derajat di Waris, Papua, hingga 6,1 derajat di Banda Aceh. Adapun umur bulan saat Matahari terbenam diperkirakan berkisar antara 7,41 jam hingga 10,44 jam.

Artinya, perhitungan tersebut menunjukkan posisi hilal masih berada di posisi batas minimal pengamatan. Karena itu, hasil rukyatul hilal yang akan dilaksanakan di berbagai titik di Indonesia sangat menentukan hilal dapat terlihat atau tidak.

Prediksi Lebaran 2026 Menurut NU

Senada dengan pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU) juga belum menetapkan tanggal Lebaran 2026. NU akan mengeluarkan keputusan awal Syawal 1447 H alias Lebaran 2026 usai melakukan pemantauan hilal pada akhir Ramadan mendatang. Apabila hilal terlihat, maka Syawal dimulai saat itu juga. Namun jika tidak, maka Ramadan 2026 digenapkan 30 hari.

Disadur dari laman NU Online, Nahdlatul Ulama menggunakan metode Rukyatul Hilal Bil Fi'li. Metode ini serupa dengan perhitungan yang dilakukan oleh Pemerintah dan BMKG. Oleh sebab itu, keputusan NU biasanya sejalan dengan hasil sidang isbat pemerintah.

Menurut keterangan dari Almanak NU, 1 Syawal 1447 H bertepatan dengan Sabtu, 21 Maret 2026. Itu artinya, NU memprediksi Ramadan 2026 berjalan genap 30 hari, persis prediksi pemerintah.

Penetapan Lebaran 2026 Muhammadiyah

Berbeda dengan Pemerintah dan NU yang menitikberatkan rukyat atau penglihatan, Muhammadiyah menggunakan metode hisab Hakiki Wujudul Hilal dalam menentukan awal bulan Hijriah. Metode ini mengandalkan perhitungan astronomi secara matematis tanpa menunggu pengamatan langsung terhadap hilal.

Karena menggunakan sistem perhitungan tersebut, tanggal hari besar Islam versi Muhammadiyah umumnya sudah dapat diketahui jauh-jauh hari. Melalui perhitungan ini, penentuan awal bulan Hijriah dapat diprediksi lebih awal tanpa harus menunggu proses rukyat.

Oleh sebab itu, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan jadwal Idul Fitri 1447 H/2026 melalui Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang penetapan hasil hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H. Dalam maklumat tersebut, disebutkan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Artinya, bagi detikers yang mulai berpuasa Ramadan 1447 H pada Rabu, 18 Februari 2026 atau singkatnya mengikuti Muhammadiyah, Lebaran 2026 bakal jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Dengan demikian, terdapat kemungkinan perbedaan jadwal perayaan Lebaran 2026 di Indonesia. Muhammadiyah telah menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 berdasarkan metode hisab. Sementara itu, pemerintah melalui Kemenag RI dan NU masih menunggu hasil rukyat sebelum mengambil keputusan. Namun, keduanya memperkirakan Lebaran 2026 bertepatan dengan Sabtu, 21 Maret 2026.

Itulah penjelasan mengenai jadwal Lebaran 2026 menurut Pemerintah, BMKG, NU, dan Muhammadiyah. Semoga membantu, detikers!

Artikel ini ditulis oleh Khofifah Azzahro peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik




(num/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads