Amerika Serikat (AS) disebut memulai operasi 'Project Freedom' atau Proyek Pembebasan. Washington memandu kapal-kapal yang hendak keluar melalui Selat Hormuz.
Dilansir BBC via detikNews Selasa (5/5/2026), operasi ini dimulai dengan serangan AS ke tujuh kapal cepat Iran di Selat Hormuz. Militer Negeri Paman Sam membombardir kapal-kapal itu menggunakan helikopter.
"Kami telah menembak tujuh kapal kecil atau, seperti yang mereka sebut, 'kapal cepat'. Itu saja yang mereka miliki," kata Presiden AS Donald Trump.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: AS Mulai Project Freedom Selat Hormuz |
Namun, Teheran membantah serangan itu. Kantor berita Tasnim, yang mengutip sumber militer, mengabarkan justru serangan itu menyasar dua kapal kargo kecil, dan menewaskan lima warga sipil.
Sudah di-Spill Trump
Trump sebenarnya sudah mengungkap mengenai operasi itu beberapa waktu lalu. Saat itu, dia berujar Angkatan Laut (AL) AS bakal mulai mengawal kapal-kapal yang terdampar di perairan Teluk Persia agar bisa keluar melintasi Selasa Hormuz, Senin (4/5).
Diketahui, kapal-kapal tersebut terdampar sejak Iran terlibat konflik dengan AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Pada Senin (4/5), perusahaan pelayaran Maersk mengatakan kapal berbendera AS, Alliance Fairfax, yang terdampar di Teluk sejak akhir Februari, telah keluar dari Selat Hormuz.
Perusahaan itu mengatakan telah dihubungi oleh pihak AS yang "menawarkan kesempatan bagi kapal tersebut untuk keluar dari Teluk dengan perlindungan militer AS".
"Kapal tersebut kemudian keluar dari Teluk Persia ditemani oleh aset militer AS tanpa insiden, dan semua awak kapal selamat serta tidak terluka, tambah Maersk.
Tidak Semua Kapal Keluar dari Teluk
Namun, tidak semua kapal bisa keluar dengan selamat. Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab melaporkan sebuah kapal tanker milik Adnoc, perusahaan minyak negara itu, terkena serangan di Selat Hormuz.
Korea Selatan juga melaporkan ledakan di salah satu kapal mereka yang berlabuh di dekat UEA.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan peristiwa di Selat Hormuz "menunjukkan dengan jelas bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik".
"Proyek kebebasan adalah proyek kebuntuan," imbuhnya.
Militer Iran mengatakan akan menyerang pasukan AS jika mereka memasuki Selat Hormuz.
Trump Ungkap Alasan 'Project Freedom' Digelar
Komando Pusat AS (CENTCOM), menyatakan operasi tersebut melibatkan 15.000 personel, kapal perusak bersenjata rudal kendali dan lebih dari 100 pesawat.
Dalam unggahan di media sosial, Trump menjelaskan "negara-negara dari seluruh dunia" telah meminta AS apakah mereka dapat membantu membebaskan kapal-kapal tersebut, yang ia gambarkan sebagai "sekadar pihak netral yang tidak bersalah".
Trump melanjutkan bahwa perwakilan AS tengah mengadakan pembicaraan yang "sangat positif" dengan Iran, dan bahwa pembicaraan tersebut "dapat mengarah pada sesuatu yang sangat positif bagi semua pihak".
Blokade Iran terhadap selat tersebut telah menyebabkan harga bahan bakar naik secara global karena sebagian besar minyak dunia tidak lagi dapat melewati rute tersebut.
Sekitar 20% dari minyak dan gas alam cair dunia biasanya melewati selat tersebut.
Selain itu, diperkirakan 20.000 pelaut telah terjebak di Teluk sejak dimulainya perang dengan Iran. Dampak perang dikhawatirkan akan berakibat buruk terhadap kesehatan fisik dan mental para pelaut. Apalagi, pasokan logistik mereka makin tipis.
Pada Minggu (3/5), United Kingdom Maritime Transportation Operation (UKMTO) melaporkan bahwa sebuah tanker telah terkena "proyektil yang tidak diketahui" di selat tersebut, seraya menambahkan bahwa awak kapal dalam keadaan selamat.
Iran Ancam Serang Militer Asing yang Mencoba Masuk Selat Hormuz
Kepala komando pusat Iran menegaskan, pihaknya bakal menyerang "setiap kekuatan bersenjata asing" yang mencoba mendekati atau memasuki selat itu, "terutama tentara AS yang agresif".
Mayor Jenderal Ali Abdollahi mengatakan bahwa Iran telah "berulang kali" menegaskan bahwa selat tersebut "berada di bawah kendali" angkatan bersenjata Iran. Adapun pelayaran melalui Selat Hormuz, tambahnya, harus dikoordinasikan dengan Iran "dalam segala keadaan".
Operasi "Project Freedom" diambil ketika kedua negara masih berada di bawah gencatan senjata sementara, yang dimulai pada 8 April, dan saat mereka berupaya menyepakati rencana perdamaian permanen.
Anggota parlemen senior Iran Ebrahim Azizi, mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, menulis di media sosial bahwa "setiap campur tangan Amerika" akan "dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata".
Iran sebelumnya menuduh AS melanggar gencatan senjata karena memblokade pelabuhannya.
Juru runding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan pada akhir April bahwa blokade tersebut sama dengan menyandera perekonomian global.
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja