Cendekiawan Muslim asal Indonesia di New York, Amerika Serikat (AS), Ustaz H Muhammad Syamsi Ali, memberi pandangan terkait penembakan di kompleks masjid di Clairemont, San Diego, yang menewaskan 3 orang. Ia menilai, situasi politik di AS turut memicu meningkatnya sentimen anti-Islam.
Imam Besar Islamic Center of New York periode 2002-2014 itu mengatakan hiruk-pikuk politik di Amerika saat ini membawa arus sentimen agama, terutama terhadap komunitas Muslim dan imigran. Ia menyinggung retorika politik yang berkembang menjelang pemilihan presiden di AS.
"Saya kira tantangannya memang seringkali hiruk-pikuk politik ini membawa arus sentimen agama ya. Dan sayangnya saja bahwa Donald Trump (Presiden AS saat ini) saat ini memang cukup anti-imigran," kata Syamsi saat ditemui di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Bantul, Sabtu (23/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syamsi Ali menjelaskan, insiden penembakan di San Diego tidak bisa dilepaskan dari situasi politik AS yang memanas jelang pemilu sela (midterm election) yang dihelat Selasa 3 November 2026 mendatang. Diketahui, pemilu sela adalah pemilihan untuk menentukan anggota Kongres AS, baik DPR (House of Representatives) maupun Senat (Senate).
"Berarti penembakan kemarin itu tidak lepas dari suasana perpolitikan yang lagi naik sekarang, karena akan ada pemilihan Presiden (pemilu sela, red-) di bulan November ini. Jadi itu akibat dari retorika seorang politisi yang anti kepada Islam, anti kepada imigran," katanya.
"Islam dianggap sebagai agama imigran, dan karenanya kita menjadi bulan-bulanan juga," lanjut Syamsi Ali.
Syamsi juga menyoroti pelaku penembakan yang disebut masih berusia remaja. Menurutnya, generasi muda saat ini rentan terpengaruh narasi kebencian yang beredar di media sosial.
"Remaja kita banyak terbakar oleh informasi-informasi di internet, media sosial khususnya. Dan mereka ini termakan dengan buaian-buaian atau pernyataan-pernyataan yang membangkitkan kemarahan itu," ujarnya.
Terkait keamanan dakwah Islam di Amerika Serikat pascapenembakan, Syamsi mengaku tetap memiliki kekhawatiran, terutama menjelang pelaksanaan salat Iduladha di Amerika Serikat.
"Tentu sesuatu yang kita khawatirkan. Apalagi kita akan melaksanakan salat Iduladha ini. Di jemaah kami itu puluhan ribu di lapangan nantinya," ujarnya.
"Tapi kami sudah menjalani kehidupan ini sejak Tragedi 9/11 dan kita tetap going on, berjalan terus-menerus," katanya.
Dilansir detikNews, penembakan dilaporkan di terjadi di kompleks masjid di Clairemont, San Diego, Amerika Serikat (AS). Polisi melaporkan 3 korban tewas dalam insiden itu.
Dilansir BBC, Selasa (19/5), Polisi San Diego mengatakan "ancaman di pusat Islam telah dinetralisir", setelah laporan tentang penembak aktif di kota AS tersebut.
Kepala Polisi San Diego, Scott Wahl, mengatakan bahwa 3 orang dewasa meninggal di Pusat Islam tersebut. Dia menyampaikan duka cita.
"Hati kami turut berduka cita kepada keluarga yang saat ini sedang diberi tahu tentang apa yang telah terjadi pada orang yang mereka cintai," katanya.
Wahl menambahkan polisi berhasil melumpuhkan pelaku dan 2 tersangka telah "tewas". Dia menambahkan tidak ada ancaman lebih lanjut di daerah tersebut.
(apu/ahr)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja