Kebakaran yang melanda rumah warga Padukuhan Kasuran Mriyan X, Seyegan, Sleman, masih belum usai. Kini, lokasi kebakaran bahkan meluas.
Pemilik rumah, Agus, mengungkapkan titik api muncul di sebelah utara rumahnya. Tepatnya di halaman belakang ruko tempatnya dan keluarganya mengungsi.
"Untuk merembetnya itu sudah merembet ke sebelah. Yang mana untuk medianya bukan kaus, bukan kain, tapi dia kayu, kayu. Kayu terbakar," kata Agus ditemui wartawan di rumahnya, Selasa (2/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus, orang tua Mutfiana, menyampaikan peristiwa itu terjadi kemarin sore setelah Magrib. Selain tripleks, tumpukan kayu di halaman belakang ruko juga terbakar.
Ia mencatat, sampai hari ke-11 ini total 81 kali kejadian kebakaran dengan lokasi acak.
"81 kali, waktunya acak tempatnya berbeda-beda. Jadi ada yang satu titik tiga kali, ada yang seperti itu," katanya.
Sampai hari ini, proses pemeriksaan ahli dari universitas masih terus dilakukan untuk mencari penyebab kebakaran berulang tersebut. Hari ini, tim dari UPN 'Veteran' Yogyakarta yang melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Di lokasi yang sama, Dekan FTME UPN "Veteran" Yogyakarta, Prof Basuki Rahmad menyebut temuan tripleks yang terbakar di luar rumah semakin menguatkan dugaan adanya gas metana yang keluar dari bawah permukaan tanah.
"Jadi gas yang pertama tentunya kami diduga kuat semakin menguatkan ini memang di bawah permukaan ini ada gas metan, yang terus keluar ke udara," kata Basuki.
Ia menjelaskan, gas metana memiliki sifat suka menempel pada molekul H2O. "Seperti kelembapan, lembap, daerah yang lembap-lembap gitu, itu senang di situ," ujarnya.
Temuan ini kemudian akan ditindaklanjuti oleh tim Geofisika UPN Jogja besok pagi. Ia menyebut tim akan bekerja memetakan lapisan batuan di bawah tanah yang diduga membawa gas metana.
Sebelumnya, Basuki dan tim menemukan indikasi sumber gas berada di kawasan sungai yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah tersebut. Di lokasi itu terdapat singkapan batuan berwarna gelap dengan genangan air yang mengeluarkan gelembung gas.
"Maka, batu lanau itu nyebarnya ke mana, apakah sampai ke rumah? Maka, kita perlu rekaman geofisika. Apakah sebenarnya sampai di bawah?. Nah, itulah besok validasi akan kita gunakan rekaman geofisika, besok mulai bekerja pagi dari Geofisika UPN Veteran," ujarnya.
Basuki juga mendapat informasi dari warga yang menyebutkan adanya kejadian kebakaran rumpun bambu secara alami sekitar 1 tahun yang lalu di dekat rumah Mutfiana. Selain itu sekitar 4 bulan yang lalu juga terjadi kejadian kebakaran di parit.
Termasuk, saat warga hendak memperdalam sumur namun saat proses penggalian tercium bau gas dan akhirnya tidak dilanjutkan.
"Jadi, itulah data-data yang sangat penting bagi kami untuk melokalisir besok rekaman geofisika akan dibuat line-line lah kita kita coba sebaran batuan pembawa gas itu berapa luas, sebarannya arah ke mana," pungkasnya.
(afn/apu)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja