Penelitian Ilmiah Usai, Fenomena 'Rumah Api' di Seyegan Sleman Masih Misterius

Penelitian Ilmiah Usai, Fenomena 'Rumah Api' di Seyegan Sleman Masih Misterius

Tim detikJogja - detikJogja
Rabu, 17 Jun 2026 09:50 WIB
Tim Geologi UGM mengecek penyebab kebakaran misterius berulang kali di rumah warga Seyegan, Sleman, Sabtu (30/5/2026).
Tim Geologi UGM mengecek penyebab kebakaran misterius berulang kali di rumah warga Seyegan, Sleman, Sabtu (30/5/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Penelitian yang dilakukan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan UPN 'Veteran' Jogja mengenai fenomena rumah api di kediaman seorang warga bernama Mutfiana di Seyegan, Sleman, rampung dilakukan. Namun, asal muasal api yang 'meneror' rumah Fia, sapaan Mutfiana, masih misterius.

Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Bambang Kuntoro, menerangkan kesimpulan dari munculnya api misterius itu tidak ada kaitannya dengan fenomena alam. Pernyataan itu muncul usai Bambang rapat bersama tim UGM, BPPTKG, UPN, dan instansi terkait lainnya di Kantor Bupati Sleman.

"Intinya bahwa dari fenomena api yang muncul di Seyegan ini, dari hasil penelitian semua sampaikan tadi, tidak ada hubungannya (fenomena alam) dengan api yang muncul. Fenomena alam itu tidak menimbulkan api yang muncul di Seyegan," kata Bambang kepada wartawan di kantor Bupati Sleman, Senin (15/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil Penelitian UGM

Ketua tim Pusat Kajian Pelambaran Entropi (PKPE) FT UGM, Prof Alva Edy Tontowi, sebelumnya menyatakan pihaknya menduga, api terkait dengan resin poly vinyl chloride (PVC).

ADVERTISEMENT

"Sumber api bukan dari rembesan gas alam dari bawah permukaan (lantai), tidak ada anomali termal dan tidak ditemukan gas yang dapat menyala sendiri secara alami (self-ignition) pada suhu kamar," jelas Prof Alva, Sabtu (13/6).

Merujuk pada prinsip Teori Segitiga Api serta hasil penelitian, Alva berujar pihaknya menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik terukur pada level aman yang berarti bukan pemantik nyala api.

Api yang membakar material pada kasus ini kemungkinan berasosiasi dengan adanya resin PVC yang mudah terbakar jika bertemu sumber api (ignition). Dugaan ini muncul usai ditemukan resin PVC pada material terbakar.

Pada Jumat (12/6), tim melakukan pengambilan sampel lagi dari residu kebakaran yang ada di permukaan dinding keramik maupun kayu/tripleks, dan menganalisis menggunakan metode FTIR.

"Hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa sampel-sampel tersebut menunjukkan kandungan poly vinyl chloride (PVC) yang tidak umum dijumpai di permukaan dinding keramik maupun kayu/tripleks," jelasnya.

Hasil Penelitian UPN

Sementara tim geolog UPN menyatakan, tidak menemukan hubungan gas yang ditemukan di Sungai Nepen dengan kasus kebakaran di rumah Mutfiana.

"Kami resmi menutup (penelitian). Jadi tidak ada hubungan sekali lagi gas yang ada di Sungai Nepen dengan rumah yang terbakar," kata Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN "Veteran" Jogja, Prof. Dr. Ir. RM. Basuki Rahmad ditemui wartawan di Pemkab Sleman, Senin (15/6).

Basuki menjelaskan, timnya melakukan serangkaian penelitian. Meliputi, pertama pengamatan geologi permukaan. Dari situ tim mendapatkan petunjuk awal berupa batu lempung gelap yang diduga kuat sebagai sumber gas rawa ketika itu.

"Namun ternyata memang gas itu, ketika kami cek dengan api, tidak mau menyala. Jadi gelembung itu memang kuat," lanjutnya.

Data lain juga menunjukkan adanya beberapa patahan yang kemudian divalidasi dengan metode geolistrik dan geomagnet. Hasil pengamatan keduanya ditemukan patahan tepat di bawah rumah Fia.

"Jadi kami mengerucut bahwa gas yang terbakar dengan gelembung gas yang jaraknya 250 meter itu, kami mengerucut menyimpulkan kami tidak menemukan hubungan antara rumah yang terbakar dengan gelembung gas yang kami temukan di Sungai Nepen," pungkasnya.

Hasil Uji BPPTKG

Kalak BPBD Sleman Bambang Kuntoro melanjutkan, berdasarkan hasil uji BPPTKG tidak menemukan adanya indikasi gas dari alam yang membahayakan hingga menyebabkan kebakaran, serta berdasarkan pengukuran suhu, belum ditemukan anomali suhu yang signifikan yang menunjukkan pemicu timbulnya api.

"Kandungan gasnya baik metana, kemudian hidrogen, gas fosfin, gas rawa, dari masing-masing ini tadi, itu tidak bisa atau di bawah ambang batas untuk bisa menimbulkan api," tegasnya.

Polisi Bakal Mencari Fakta Sebenarnya

Kasat Reskrim Polresta Sleman, AKP Mateus Wiwit Kustiyadi, mengatakan pihaknya akan menggelar penyelidikan untuk mengungkap fakta sebenarnya.

"Dalam hal ini, kita mencari fakta-fakta. Apakah fakta ini nanti akan membawa kita ke mana? Jadi, kita mengumpulkan fakta yang ada di lapangan," kata Wiwit ditemui di Kantor Bupati Sleman, Senin (15/6/2026).

Polisi, kata Wiwit, belum melakukan penyelidikan terkait kemungkinan adanya unsur pidana dalam kasus ini. Sebelum masuk ke situ, polisi akan mencari terlebih dahulu apakah ada unsur kesengajaan atau tidak dalam peristiwa ini.

"Nanti, apakah ada hal-hal yang di luar fenomena alam, ini kami masih akan kumpulkan, sehingga fakta akan terungkap setelah ini," pungkasnya.

Diketahui, api misterius itu muncul berkali-kali di rumah Fia beberapa waktu belakangan ini. Beberapa barang di rumah itu tiba-tiba terbakar.

Kejadian itu terus berulang nyaris setiap hari. Dalam sehari, ada 7-9 barang yang tiba-tiba terbakar. Hingga kini belum ada kepastian mengenai penyebab fenomena tersebut.




(apu/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads