Menyusuri Kampung Mati di Prambanan Sleman Imbas Gempa 2006 Kini Jadi Hutan

Menyusuri Kampung Mati di Prambanan Sleman Imbas Gempa 2006 Kini Jadi Hutan

Achmad Husein Syauqi - detikJogja
Minggu, 28 Jun 2026 15:20 WIB
Penampakan kampung mati di Sumberharjo, Prambanan, Sleman yang ditinggal penghuninya imbas gempa 2006.
Penampakan kampung mati di Sumberharjo, Prambanan, Sleman yang ditinggal penghuninya imbas gempa 2006. Foto: Achmad Husein Syauqi/detikJogja
Sleman -

Gempa bumi dahsyat yang mengguncang Jogja pada 27 Mei 2006 silam meninggalkan jejak kampung mati di Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Pramabanan, Sleman. Kawasan kampung mati itu berubah menjadi hutan yang ditumbuhi pepohonan tinggi.

Kampung yang ditinggalkan penduduknya itu ada di Padukuhan Nglepen dan Sengir. Jaraknya sekitar 17 kilometer dari Kota Jogja ke arah timur.

Berada pada koordinat 7° 49' 5,5" LS dan 110° 30' 22,4" BT, pedukuhan tersebut merupakan permukiman di tengah bukit. Meski begitu, bagian atas dan di bawah padukuhan itu masih berpenghuni.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akses jalan menuju ke kampung mati itu cukup menanjak dengan ketinggian sekitar 150-200 meter. Tampak kanan-kiri jalan dikelilingi pepohonan berakar tunggang dan semak terlihat sangat rimbun.

ADVERTISEMENT

Rimbunnya pepohonan membuat jalan beraspal itu sulit ditembus sinar matahari. Meski begitu, di sela-sela batang pohon masih terlihat sisa puing bangunan rumah seperti tembok, bekas tandon air, dan jalan setapak bekas permukiman.

Sisa puing itu tampak ada yang miring bahkan ambles karena perbedaan tinggi tanah. Tidak ada aktivitas kehidupan manusia lagi dan lebih menyerupai hutan.

"Nggih dados alas, pun mboten dinggeni (ya sudah jadi hutan karena sudah tidak dihuni)," ungkap warga Dukuh Nglepen, Lasiyem (70), kepada detikJogja di rumahnya yang baru di Nglepen Baru atau kampung dome, Sabtu (27/6/2026).

Lasiyem menceritakan saat gempa tahun 2006, dirinya sedang memasak dan anaknya mandi bersiap sekolah. Begitu guncangan terjadi, seisi rumah keluar lari menyelamatkan diri.

"Ya lari keluar semua. Alhamdulillah tidak ada yang luka, satu RT Nglepen juga tidak ada korban karena lari keluar rumah," kenangnya.

Dijelaskan Lasiyem, meskipun tidak ada yang terluka atau meninggal akibat gempa di pagi buta itu tetapi seluruh bangunan tembok rusak. Bahkan ada rumah yang roboh sebagian.

"Lemahe niku ambles, temboke pedot-pedot (tanahnya ambles dan tembok rumah putus). Setelah itu tinggal di tenda dan 2009 dipindah ke sini (rumah dome/ Teletubbies)," lanjut Lasiyem.

Lasiyem mengaku tinggal di rumah dome itu sejak 2009 lalu. Dia bersama keluarga dan 50 warga lainnya dari Nglepen pindah ke rumah dome itu.

"Sudah jadi hutan ditutup kayu dan pohon, tidak lagi di sana, tidak boleh dihuni lagi. Ya ke sana cuma kadang cari pakan," ucap Lasiyem.

Warga lainnya, Samijo (71), mengaku masih sering ke lokasi kawasan kampung mati tersebut. Meskipun hanya sekadar cari pakan ternak.

"Paling cari pakan, karena sudah jadi hutan, penuh dengan pohon besar. Ya cuma jadi tegalan saja untuk cari pakan," kata Samijo kepada detikJogja.

Penampakan kampung mati di Sumberharjo, Prambanan, Sleman yang ditinggal penghuninya imbas gempa 2006.Penampakan kampung mati di Sumberharjo, Prambanan, Sleman yang ditinggal penghuninya imbas gempa 2006. Foto: Achmad Husein Syauqi/detikJogja

Samijo menyebut kawasan kampung mati itu tak bisa ditanami palawija. Sebab, pepohonan yang tumbuh sudah terlalu rimbun.

"Sampun sertifikat (sudah bersertifikat). Ya kadang kala yang generasi muda masih nengok ke sana," lanjut Samijo.

"Sudah tidak berani kita tinggal di sana, sudah jadi hutan. Seperti jadi papan wingit," imbuhnya.

Pindah ke Domes

Sejak 2009 lalu, Lasiyem dan Samijo beserta warga lainnya menempati rumah dome di bawah bukit. Jaraknya sekitar satu kllometer dari rumah lama mereka yang kini sudah menjadi hutan.

Rumah baru mereka ini dibangun melengkung mirip iglo dengan cat warna-warni. Sebagian tampak sudah ditambah bangunan baru.

Di kampung yang sering disebut kampung Teletubbies itu dilengkapi fasilitas yang juga berbentuk dome, termasuk masjidnya. Kampung baru tersebut selain dihuni para penyintas gempa, juga menjadi desa wisata.

Lurah Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Kurniawan Widiyanto menjelaskan dampak gempa 2006 membuat warga di dua dukuh, yakni Sengir dan Nglepen, direlokasi. Dia menyebut semua warga di Dukuh Nglepen dipindahkan.

"Dukuh lama yang Dukuh Sengir sebagian masih ditempati. Yang Dukuh Nglepen semua pindah, tidak ada yang ditempati lagi," kata Kurniawan saat diminta konfirmasi detikJogja.

Kurniawan menyebut tak ada korban jiwa imbas gempa 2006 silam. Namun, tanha di Dukuh Nglepen ambles sehingga membahayakan penduduk.

"Tidak ada korban jiwa, selamat semua tapi di dukuh sekitarnya malah ada korban jiwa," ungkap Kurniawan.

Setelah gempa, jelas Kurniawan, warga di dua dukuh tersebut dipindahkan ke rumah dome. Ada sekitar 70 rumah kubah dengan konsep hunian.

"Datanya pasti saya tidak hapal, tapi sekitar 70-an untuk dua dukuh. Untuk hunian tapi juga jadi desa wisata," imbuhnya.




(ams/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads