Kampung Mati di Sleman Jadi Langganan Ngonten, Warga Pasang Papan Peringatan

Kampung Mati di Sleman Jadi Langganan Ngonten, Warga Pasang Papan Peringatan

Achmad Husein Syauqi - detikJogja
Minggu, 28 Jun 2026 17:54 WIB
Penampakan kampung mati di Sumberharjo, Prambanan, Sleman yang ditinggal penghuninya imbas gempa 2006.
Penampakan kampung mati di Sumberharjo, Prambanan, Sleman yang ditinggal penghuninya imbas gempa 2006. Foto: Achmad Husein Syauqi/detikJogja
Sleman -

Padukuhan Nglepen dan sebagian Sengir, Kelurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, kini menjadi kampung mati karena terdampak gempa bumi tahun 2006. Permukiman itu kini dikenal wingit atau dianggap angker karena menjadi hutan rimbun.

Kawasan kampung mati bak hutan ini pun menjadi langganan orang untuk membuat konten di media sosial. Namun, hal ini justru membuat warga risau hingga memasang papan larangan di tepi jalan ke arah jalan setapak di dukuh tersebut.

Papan larangan dari tripleks itu bertulisan larangan ngonten. "Dilarang ngonten, pengin ayem lur..," demikian bunyi tulisan di papan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sudah jadi hutan. Kayunya memang tidak besar tetapi rapat," ungkap warga asli Nglepen, Rubingan (62) kepada detikJogja di desa wisata Rumah Domes, Sleman, Sabtu (27/6/2026).

"Yang kadang sering ada yang datang malam-malam buat konten. Ya sering," imbuh Rubingan.

ADVERTISEMENT

Rubingan menyebut sejak ditinggalkan penduduknya, kampung itu menjadi hutan rimbun. Warga pun sudah semakin jarang ke kampung mati itu, selain untuk mencari rumput untuk pakan ternak.

"Ya paling cari rumput pakan ternak. Ya tidak dikelola lagi, cuma jadi hutan," katanya.

Penampakan kampung mati di Sumberharjo, Prambanan, Sleman yang ditinggal penghuninya imbas gempa 2006.Papan larangan ngonten di kampung mati di Sumberharjo, Prambanan, Sleman yang ditinggal penghuninya imbas gempa 2006. Foto: Achmad Husein Syauqi/detikJogja

Kawasan kampung mati itu pun tak bisa ditanami sayur maupun palawija. Hal ini karena warga sudah dilarang kembali ke kawasan itu karena tanahnya rawan ambles.

"Iya sertifikat. Nggak ada ingin ke sana lagi ya kan sudah tidak diizinkan lagi, sebagian sudah ambles," lanjut Rubingan.

Warga lainnya, Samijo (71), mengatakan warga enggan menanami lahan lama karena banyak ditumbuhi pohon. Dia menyebut Dukuh Nglepen sering didatangi warga dari luar kampungnya.

"Kados gumuk, sakniki kaya papan (tempat) wingit. Ya kadang mriku (kadang ke sana)," katanya kepada detikJogja.

"Nggih, sering ada orang ke sana tapi warga sendiri malah pada tidak tahu, " imbuh Samijo.

Sebelumnya diberitakan, gempa bumi dahsyat yang mengguncang Jogja pada 27 Mei 2006 silam meninggalkan jejak kampung mati di Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Sleman. Kawasan kampung mati itu berubah menjadi hutan yang ditumbuhi pepohonan tinggi.

Kampung yang ditinggalkan penduduknya itu ada di Padukuhan Nglepen dan Sengir. Jaraknya sekitar 17 kilometer dari Kota Jogja ke arah timur.

Berada pada koordinat 7° 49' 5,5" LS dan 110° 30' 22,4" BT, pedukuhan tersebut merupakan permukiman di tengah bukit. Meski begitu, bagian atas dan di bawah padukuhan itu masih berpenghuni.

"Nggih dados alas, pun mboten dinggeni (ya sudah jadi hutan karena sudah tidak dihuni)," ungkap warga Dukuh Nglepen, Lasiyem (70), kepada detikJogja di rumahnya yang baru di Nglepen Baru atau kampung dome, Sabtu (27/6).

Lasiyem menceritakan saat gempa tahun 2006, dirinya sedang memasak dan anaknya mandi bersiap sekolah. Begitu guncangan terjadi, seisi rumah keluar lari menyelamatkan diri.

"Ya lari keluar semua. Alhamdulillah tidak ada yang luka, satu RT Nglepen juga tidak ada korban karena lari keluar rumah," kenangnya.

Dijelaskan Lasiyem, meskipun tidak ada yang terluka atau meninggal akibat gempa di pagi buta itu tetapi seluruh bangunan tembok rusak. Bahkan ada rumah yang roboh sebagian.

"Lemahe niku ambles, temboke pedot-pedot (tanahnya ambles dan tembok rumah putus). Setelah itu tinggal di tenda dan 2009 dipindah ke sini (rumah dome/ Teletubbies)," lanjut Lasiyem.

Lasiyem mengaku tinggal di rumah dome itu sejak 2009 lalu. Dia bersama keluarga dan 50 warga lainnya dari Nglepen pindah ke rumah dome itu.

"Sudah jadi hutan ditutup kayu dan pohon, tidak lagi di sana, tidak boleh dihuni lagi. Ya ke sana cuma kadang cari pakan," ucap Lasiyem.




(ams/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads