Anti Ribet! Sawah dari Galon-Kaleng di Ponjong Lebih Mudah Pantau Hama

Anti Ribet! Sawah dari Galon-Kaleng di Ponjong Lebih Mudah Pantau Hama

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Selasa, 07 Jul 2026 17:13 WIB
Sawah rongsok milik Suhantara di Ponjong Gunungkidul, Selasa (7/7/2026).
Sawah rongsok di Ponjong Gunungkidul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Gunungkidul -

Suhantara (82), warga Susukan II, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul, mengungkap sederet keuntungan dari menanam padi menggunakan media galon dan kaleng bekas. Selain tak perlu cangkul dan bajak, serangan hama seperti tikus dan wereng jadi lebih mudah dipantau.

"Menanam padi pakai galon, kaleng bekas hingga ember bekas itu banyak keuntungannya," kata Suhantara saat ditemui di kediamannya di Susukan II, Ponjong, Gunungkidul, Selasa (7/7/2026).

Pertama, lanjut Suhantara, adalah tidak perlu biaya besar untuk memulainya. Secara rinci, dia menyebut masyarakat hanya perlu membeli galon bekas. Jika memiliki lahan tidak produktif, bisa diambil tanahnya, dan benih padi bisa diproduksi sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Paling ditambah beli pupuk, baik pupuk kandang dan pupuk kimia. Kalau air kan pasti semua punya air, dan menyiraminya juga tidak setiap hari. Jadi ini (menanam padi di galon) sangat-sangat terjangkau," ujarnya.

Selain itu, penanaman padi menggunakan galon tidak perlu mencangkul dan membajak tanah. Terlebih, masyarakat bisa memantau langsung tanamannya.

ADVERTISEMENT

"Keuntungan lainnya bisa dipantau langsung terkait hama dan penyakitnya. Misalnya ada hama wereng atau tikus ya kita bisa segera tahu dan ditindaklanjuti," ucapnya.

Sawah rongsok milik Suhantara di Ponjong Gunungkidul, Selasa (7/7/2026).Sawah rongsok milik Suhantara di Ponjong Gunungkidul, Selasa (7/7/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Suhantara juga mengungkapkan, galon bekas itu bisa digunakan secara berulang. Begitu pula dengan media tanamnya juga bisa digunakan dua kali.

"Macul tidak perlu, lalu kalau sudah kering (pascapanen) itu tinggal dibalik media tanamnya terus tinggal kasih pupuk dan bisa ditanami lagi. Selain itu galonnya kan awet juga, tidak sekali pakai," katanya.

Diberitakan sebelumnya, Suhantara mengembangkan 'sawah rongsok', yakni menanam padi dengan menggunakan galon hingga kaleng bekas di pekarangan. Setiap galon mampu menghasilkan ratusan gram gabah kering saat panen.

Suhantara menjelaskan ide awal menggunakan galon bekas sebagai media tanam padi. Menurut Suhantara, semua itu berawal saat dirinya memanen padi di sawah pada 2025 lalu.

"Lalu gabah kering saya bawa ke rumah dan ternyata ada yang tercecer di tanah. Yang gabah tercecer itu tumbuh jadi benih (padi)," kata Suhantara saat ditemui detikJogja.

Dia menyebut padi miliknya berjenis Inpari-24. Dia lalu terinspirasi menanam benih padi itu dengan menggunakan beberapa kaleng bekas. Tanaman itu pun dia beri pupuk dan dirawat.

"Kaleng isi benih itu saya siram dengan rutin dan ternyata bisa tumbuh baik. Nah, karena tumbuh baik terus punya ide lagi untuk memperbesar medianya, karena kalau kaleng itu kan kecil," ujarnya.

Dari hal tersebut, kakek berkacamata ini lalu mencoba untuk membeli galon bekas dengan jumlah banyak. Pemilihan galon, lanjut Suhantara, karena dapat dibelah menjadi dua.

"Saya beli sekitar 100 galon ada sepertinya, harganya Rp 2 ribu per galon. Lalu galon-galon itu saya isi tanah, tanahnya sembarang saja dan diberi pupuk kandang sama sedikit pupuk kimia lalu diberi benih padi," ucapnya.

Setelah itu, Suhantara menyirami dengan air hingga penuh. Tidak berhenti di situ, galon-galon berisi padi itu dia letakkan di ruang terbuka untuk mendapatkan sinar matahari.

"Jadi seperti menanam padi di sawah sebenarnya, hanya kalau ini pakai galon. Nanti kalau airnya habis disiram lagi sampai penuh. Nah karena pakai galon dan kaleng bekas maka ini saya sebut sawah rongsok," katanya.

Penyiraman air ini dilakukan saat dia pulang dari bertani di sawah, tepatnya saat sore atau malam hari. Namun, penyiraman air tidak dilakukan setiap hari.

"Untuk benih padinya bebas, tidak ada yang khusus. Nanti kalau sudah tiga bulan padi bisa dipanen," ujarnya.

Ia mengaku sudah memanen padi di galon sebanyak empat kali. Dalam satu galon, bisa ditanami dua hingga tiga padi.

"Hasil panen satu galon dengan isi tiga tanaman padi bisa menghasilkan sekitar 130 gram gabah kering panen. Untuk jenis padi hibrida yang sudah dicobakan tanam lebih lebat dengan 1 bibit bisa mencapai 30 anakan, itu belum umur panen, kalau sudah panen bisa 300-400 gram gabah kering panen per galon," ucapnya.

Menurut perhitungannya, dengan 100 galon saja bisa menghasilkan 30-40 kilogram gabah kering panen. Namun, semua itu jika menggunakan padi hibrida.

"Karena itu, saya berharap banyak orang yang mengikuti apa yang saya lakukan. Kalau mau belajar, monggo datang ke rumah saya nanti belajar bersama. Apalagi biayanya murah, paling hanya beli galon saja sama beli pupuk," kata Ketua Kelompok Gapoktan Genjahan Makmur ini.

Suhantara menambahkan saat ini sudah ada delapan orang anggotanya yang menanam padi menggunakan galon di pekarangan rumah. Ia berharap jumlah tersebut terus meningkat karena tidak memerlukan modal besar.




(dil/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads