Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Nurmandi, turut mengomentari polemik pembubaran kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita'. Ia menegaskan tak melarang jika ada kegiatan nobar di UMY.
Nurmandi mengaku sudah menonton film dokumenter garapan Ekspedisi Indonesia Baru itu. Berdasarkan trailer yang diunggah di channel YouTube Indonesia Baru, film ini menceritakan tentang perjuangan masyarakat adat di selatan Papua yang menghadapi masifnya ekspansi industri dan proyek negara di tanah leluhur mereka.
"Sudah, sudah nonton, bagus. Ya memang itu keadaannya, jadi kalau apa, pemerintah harusnya menerima to, karena memang masyarakat Papua tidak selalu siap menerima industrialisasi yang cepat seperti itu. Jadi kita harus ngerti lah kondisi lokal, nah itu kan yang tidak diantisipasi oleh pemerintah," ujar Nurmandi saat ditemui di Ballroom Gedung UMY Student Dormitory, Sabtu (16/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nurmandi pun tak akan melarang jika kegiatan nobar film Pesta Babi digelar di UMY.
"Sampai sekarang kita kan belum menyelenggarakan itu, nonton bareng. Tapi kalau ada yang menyelenggarakan nonton bareng ya silakan aja," ungkap Nurmandi.
"Itu kan semacam kritik sosial melalui seni, kritik terhadap pemerintah, terhadap kebijakan, terhadap apapun melalui seni, yaitu film. Ya, silakan aja, nggak apa-apa," sambungnya.
Nurmandi juga mengaku tidak setuju dengan pembubaran kegiatan nobar film Pesta Babi yang terjadi di sejumlah kampus. Menurutnya, hal itu merupakan bentuk pembungkaman ekspresi karya seni.
Nurmandi menilai materi yang tersaji dalam film Pesta Babi merupakan bentuk kritik dalam medium karya seni. Hal itu, menurutnya, tak ada bedanya dengan karya-karya dari penyanyi kawakan, Iwan Fals.
"Ya saya tidak setuju lah, pembubaran-pembubaran itu. Karena itu kan orang berkarya, kok dibubarkan. Kecuali karya itu melanggar nilai-nilai moral, sopan santun, norma-norma ketimuran," ujar Nurmandi.
"Misalnya ya, (melanggar) norma-norma ketimuran itu misalnya ada LGBT, ada seks bebas, semacam itu. Di situ (Partai Babi) kan nggak ada, semacam kritik sosial terhadap kebijakan pemerintah. Ya nggak beda dengan Iwan Fals, Iwan Fals kan nyanyinya mengkritik keadaan," jelas dia.
Diberitakan detikNews, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, buka suara soal pembubaran kegiatan nobar film dokumenter 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita'. Yusril menegaskan pemerintah tidak pernah mengeluarkan kebijakan melarang pemutaran ataupun nobar film tersebut.
Pembubaran itu terjadi di beberapa kampus dengan penyelenggara yang berbeda-beda. Di antaranya, Universitas Khairun (Unkhair), Ternate; Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma), NTB; kemudian Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Tak hanya di universitas, nobar film 'Pesta Babi' yang digelar di kafe Seminyak dan Tabanan juga dibubarkan.
Yusril bicara adanya persoalan administrasi di balik pembubaran itu. Nyatanya, kata Yusril, kampus di Bandung dan Sukabumi nobar film 'Pesta Babi' berjalan lancar tanpa hambatan.
"Tidak semua kampus melarang pemutaran film dokumenter tersebut. Di Universitas Mataram dan UIN Mataram, Lombok, nobar film itu dilarang karena persoalan prosedur administratif saja. Sementara di kampus lain di Bandung dan Sukabumi, nobar film tersebut berjalan tanpa halangan apa pun," ujar Yusril dalam keterangan tertulisnya, Kamis (14/5).
Yusril menegaskan pembubaran atau penghentian nobar film itu bukan merupakan arahan dari pemerintah ataupun aparat penegak hukum secara terpusat.
"Melihat pola demikian, pembubaran nobar film 'Pesta Babi' bukanlah arahan dari pemerintah ataupun aparat penegak hukum yang biasanya terpusat," katanya.
Film dokumenter tersebut berisi kritik terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan yang dianggap mengganggu kelestarian alam, hak ulayat masyarakat Papua, dan lingkungan hidup. Yusril menganggap wajar adanya kritik tersebut.
"Saya menganggap kritik semacam itu wajar saja, walaupun memang terdapat narasi yang provokatif. Judul film dokumenter itu sendiri memang kontroversial. 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita' tampak bersifat provokatif," ujarnya.
(apu/ams)
Komentar Terbanyak
Prodi Unggulan Mulai Turun Peminat, Rektor USD Soroti Sistem Penerimaan PTN
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Resmi Naik! Ini Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026 di Jogja