Tentang SMA De Britto, Sekolah Khusus Cowok Bebas Gondrong di Jogja

Tentang SMA De Britto, Sekolah Khusus Cowok Bebas Gondrong di Jogja

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Jumat, 19 Jun 2026 07:30 WIB
Suasana SMA Kolese De Britto di Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, Sleman, Senin (15/6/2026).
Suasana SMA Kolese De Britto di Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, Sleman, Senin (15/6/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Sleman -

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terkenal dengan Kota Pelajar karena memiliki banyak sekolah, salah satunya SMA Kolese De Britto. Salah satu SMA favorit di Jogja ini memiliki visi misi sekolah bebas yang bertanggung jawab, seperti apa ceritanya?

De Britto adalah sekolah khusus cowok yang berdiri di Jl. Laksda Adisucipto No. 161, Caturtunggal, Depok, Kabupaten Sleman.

SMA itu terkenal akan kebebasannya. Umum menjumpai murid gondrong dan mengenakan sepatu sandal di sekolah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wakil Kepala Bidang Humas dan Jejaring SMA Kolese De Britto, Christophorus Danang Wahyu Prasetio, menceritakan sejarah hingga visi De Britto yang mungkin bikin penasaran.

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan SMA De Britto erat kaitannya dengan sekolah misi yang awalnya adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) Kanisius, yang berdiri pada tanggal 19 Agustus 1948.

Murid angkatan pertama adalah campuran putra-putri berjumlah 65 orang. Selain itu, untuk lokasinya menumpang di ruang atas SMP Bruderan Kidul Loji.

"Itu kan tahun 1948 di Bintaran, yang waktu itu nama awalnya itu Kanisius, ya," katanya kepada detikJogja di SMA Kolese De Britto, Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, Sleman, Senin (15/6/2026).

Oleh sebab itu, ketika berbicara masalah SMA Kanisius, Stella Duce dan De Britto merupakan satu induk. Masing-masing berdiri dengan tujuan membentuk sekolah misi.

"Tapi waktu itu terus terjadi agresi militer tahun 1949 itu, maka terus dipisah. De Britto itu yang untuk laki-laki, Stella Duce (Stece) itu yang perempuan. Nah, De Britto itu di bawah Romo Jesuit dan Stece itu di bawah Suster CB (Carolus Borromeus)," ujarnya.

Selanjutnya, tahun 1953, SMA De Britto memiliki tempat yang baru dan mulai melakukan pembangunan di Demangan Baru, tepatnya Jalan Laksda Adisucipto No. 161. Hingga akhirnya SMA De Britto mulai melaksanakan kegiatan belajar mengajar tahun 1958.

"Maka untuk tahun 2028 itu kita genap 80 tahun atau bisa dikatakan dasawindu, itu kalau kita berbicara sejarah dari De Britto," ucapnya.

Danang lalu menjelaskan soal visi misi SMA De Britto yang menjadi pembeda dengan SMA lain di Jogja. Menurutnya, Jesuit merupakan ordo kongregasi pastor-pastor yang memang memiliki keunggulan di bidang pendidikan.

"Maka kalau kita berbicara Jesuit di internasional itu kan sekolah-sekolah yang di bawah Jesuit itu pasti memiliki keunggulan," katanya.

Di mana keunggulan tersebut tidak hanya sebatas di akademik, namun keunggulan yang utuh, yaitu menyeimbangkan antara karakter dan akademik.

"Maka kalau bisa dikatakan, kita di pendidikan Jesuit atau pendidikan Kolese De Britto itu pendidikan yang utuh. Menyeimbangkan antara olah pikir, olah rasa dan kehendak," ujarnya.

Suasana SMA Kolese De Britto di Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, Sleman, Senin (15/6/2026).Suasana SMA Kolese De Britto di Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, Sleman, Senin (15/6/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Pria berkacamata ini mengungkapkan SMA De Britto memiliki profil siswa yang kerap disebut dengan istilah 1L+5C. Secara rinci, Danang menyebut L adalah leadership atau pemimpin.

Namun, pemimpin itu harus memiliki lima C. Adapun secara berurutan lima C itu adalah competence, conscience, compassion, consistent dan commitment.

"Maka sering disebut 1L+5C. Pemimpin yang memiliki 5C tadi, competence itu terkait dengan pengetahuan, conscience itu hati nurani, compassion itu bela rasa, commitment itu memiliki sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan, terus consistent itu ya berkata benar dari apa yang dipikirkan," ucapnya.

Sekolah Bebas yang Bertanggung Jawab

Danang juga mengungkapkan bahwa SMA De Britto kerap disebut dengan sekolah bebas yang bertanggung jawab. Danang menjelaskan, semua itu karena pada tahun 60-an merupakan masa peralihan dari orde lama ke orde baru.

"Dan ketika di orde baru itu kan, dalam tanda kutip kan, terlalu mengedepankan aturan yang ketat atau bisa dikatakan saklek, gitu ya. Jadi, artinya pemimpin itu ya harus dihargai, pemimpin itu harus diikuti," katanya.

"Jadi, aturan-aturan yang dibuat pemerintah itu terkadang mengekang. De Britto membuat sesuatu yang berbeda dengan sekolah bebas bertanggung jawab," lanjut Danang.

Sekolah bebas bertanggung jawab, ungkap Danang, merupakan pemikiran dari romo-romo waktu itu. Di mana ketika orang itu dikekang, apalagi siswa, maka tidak akan muncul kreativitas hingga keberanian untuk menyampaikan ide dan gagasan.

"Maka terus dimunculkanlah sekolah bebas, tapi bebas yang bertanggung jawab. Artinya, bebas bertanggung jawab ini bukan bebas semau gue, bebas yang bukan tidak ada aturan," ujarnya.

Menurutnya, aturan untuk menekankan pentingnya berpikir terlebih dahulu sebelum mengambil langkah dalam hidup.

"Tetap ada aturan, tetap mengedepankan nilai-nilai, tapi yang selalu ditekankan adalah berpikir sebelum berbuat. Jadi, sebelum mengambil keputusan, sebelum mengambil pilihan, pikirkan terlebih dahulu apa yang akan kamu lakukan. Itu yang dimaksud bebas bertanggung jawab," ucapnya.

Salah satu ekspresi kebebasan itu adalah soal penampilan. Karena itu, di sekolah khusus cowok itu merupakan hal yang lazim jika menemukan siswa berambut gondrong.

"Pakai sandal boleh, tapi sandal yang di belakangnya ada pengaitnya itu," ujarnya.

"Mau rambut gondrong bebas, tapi rambut yang alami loh, tidak boleh diwarnai. Berarti kalau ada diwarnai ya konsekuensinya potong," ucapnya.

Sedangkan untuk pendidikan di SMA De Britto, Danang menyebut pendidikan yang memerdekakan manusia hingga pendidikan yang humanis. Pasalnya, bagaimana seorang bisa berkembang dengan baik ketika kemerdekaannya dirampas.

"Gimana siswa bisa berkembang dengan baik ketika tidak ada humanisme, maka di De Britto itu kita berbicara aturan tuh bukan mengekang, tapi aturan tuh untuk dilihat lebih jauh," ujarnya.

Danang mencontohkan, setiap kesalahan yang siswa De Britto lakukan bukannya langsung terkena hukuman. Danang menyebut siswa yang melakukan kesalahan akan mendapatkan konsekuensi dengan tujuan menyadari apa yang telah dilakukannya.

"Maka setiap kesalahan yang dilakukan anak itu modelnya bukan hukuman, tapi konsekuensi. Konsekuensi itu tujuannya adalah apa? Supaya anak itu bisa menyadari atas apa kesalahan yang dihadapi. Maka di De Britto enggak ada yang namanya skor seperti telat skornya sekian, berkelahi skornya sekian tidak ada," katanya.

Teknisnya, jika siswa melakukan kesalahan maka guru akan mengajaknya diskusi. Seperti halnya guru akan menanyakan alasan siswa terlambat datang ke sekolah.

"Jadi, lebih mencari sebetulnya apa sih di balik keputusan yang kamu buat itu? Maka mengajari anak untuk berpikir sebelum berbuat," ujarnya.

"Maka ada konsekuensi. Konsekuensi itu bukan untuk menjatuhkan, bukan untuk menghukum, enggak. Tapi untuk memberi pemikiran pada anak, mindset pada anak, bahwa apa yang kita lakukan itu harus selalu dipikirkan terlebih dahulu. Itu visi misinya seperti itu, Mas. Jadi, sekolah bebas yang bertanggung jawab," imbuh Danang.

Alasan Pakai Logo JB Bukan DB

Salah satu yang juga bikin penasaran adalah logo SMA De Britto yang menggunakan huruf JB dan bukan DB. Danang mengungkap penggunaan JB berasal dari kenamaan Johannes De Britto.

"Kalau kita berbicara masalah De Britto, itu kan santo pelindung kita Johannes De Britto. Karena itu disingkat dengan JB," katanya.

Perlu diketahui, Santo Johannes De Britto adalah seorang misionaris dan martir Jesuit dari Portugis, sering dipanggil sebagai Francis Xavier Portugis. Britto sendiri bergabung dengan Yesuit pada tahun 1662, dan mengambil studi di Kolese Coimbra.

Suasana SMA Kolese De Britto di Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, Sleman, Senin (15/6/2026).Suasana SMA Kolese De Britto di Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, Sleman, Senin (15/6/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Hal tersebut berdampak pada logo sekolah tersebut. Di mana menggunakan huruf J dan B ketimbang DB sebagai singkatan De Britto.

"Memang nama sekolah kan Kolese De Britto, DB, tapi enggak ada yang menyebut dengan nama pasti. Karena JB karena lebih ke santo pelindung sekolahnya," ujarnya.

Selain itu, kebanyakan orang khususnya alumni De Britto sudah lekat dengan istilah JB ketimbang DB.

"Apalagi orang-orang dari dulu sampai sekarang lebih bisa memaknai ketika menyebutnya JB," ucapnya.

Sedangkan pencipta logo tersebut, lanjut Danang, adalah salah satu lulusan De Britto. Bahkan, murid tersebut menjadi lulusan angkatan pertama De Britto.

"Yang membuat logonya siswa De Britto tahun 1949 sampai 1951, namanya Raden Nawawi Hadikusumo. Itu angkatan pertama De Britto," katanya.

Ciptakan Akademisi, Pengusaha, hingga Menteri

Menyoal lulusan SMA De Britto, Danang mengatakan bahwa banyak yang menjadi akademisi, pengusaha hingga pejabat negara dan partai politik. Untuk akademisi, Danang menyebut banyak lulusan De Britto yang menjadi dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY).

"Terus Rektor ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya itu juga alumni De Britto," ujarnya.

Sedangkan berbicara pengusaha lulusan De Britto, Danang menyebut seperti pendiri jaringan Apotek K-24 hingga pemilik dan pendiri Natasha Skin Clinic Center. Selain itu, pengusaha Quick Tractor juga merupakan alumni De Britto.

"Terus kalau kita berbicara masalah pejabat, Menteri PU Dody Hanggodo itu alumni De Britto. Terus kalau kita berbicara di politik, Sekjen PDI-Perjuangan itu Mas Hasto Kristiyanto juga alumni De Britto," ucapnya.

Bahkan, Danang mengungkapkan cucu Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga merupakan alumni De Britto. Adapun dua cucu Sultan itu adalah Gustilantika Marrel Suryokusumo dan RM. Drasthya Wironegoro.

Halaman 2 dari 3
(ahr/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads