Sejak musim liburan tiba, kawasan Malioboro Jogja menjadi lebih ramai dari biasanya. Kesempatan ini turut dimanfaatkan Bu Tina yang menyediakan jasa pijat keliling di Malioboro.
Bu Tina, mengaku bisa pulang lebih larut saat musim liburan tiba. Libur Nataru tahun ini, dirinya yang biasa mulai menawarkan pijat sore hari bisa pulang hingga pagi.
"Kalau lagi ramai, kadang sampai jam empat baru pulang," katanya saat ditemui di Malioboro, Rabu (24/12/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perempuan paruh baya ini biasa datang dengan tas selempang kecil di pundaknya. Dia akan berkeliling dengan cekatan menyisir kanan kiri jalan, suaranya lirih menawarkan jasa.
Kala bertemu pelanggan, Bu Tina akan memintanya untuk mencari posisi duduk yang nyaman. Biasanya, mereka duduk di bangku trotoar.
"Kalau minyak saya bawa dua, ada minyak zaitun dan minyak panas. Karena tidak semuanya tahan panas, jadi selalu saya antisipasi dengan minyak zaitun," ujarnya di sela perbincangan.
Bu Tina tak banyak bicara selama bekerja. Suaranya baru terdengar ketika pelanggan membuka pembicaraan.
Tukang pijat keliling, Bu Tina, saat memijat pelanggan di kawasan Malioboro, Jogja, Rabu (24/12/2025). Foto: Ikfina Kamalia Rizki/detikJogja |
Ia paham betul bahwa tidak semua orang senang diajak berbincang. Bu Tina lebih banyak bicara lewat sentuhan jari-jarinya yang bergantian mengurut bahu dan bagian belakang leher.
Berulang kali ia menuangkan minyak pada telapak tangannya, membalurkannya ke tubuh pelanggan dengan gerakan memutar. Tangannya terus bergerak, memijat bagian-bagian tubuh yang diminta, dari kaki hingga kepala.
Ia mulai menekuni pijat sejak lima belas tahun lalu, tepatnya pada tahun 2010. Bu Tina mengawali pekerjaan sebagai tukang pijat karena pada masa itu, bisnisnya mengalami kemunduran.
"Awalnya saya ikut pelatihan dari dinkes (Dinas Kesehatan). Waktu itu, tukang pijat di kawasan sini hanya sekitar 15 orang. Sekarang sudah tambah banyak sampai ratusan," katanya.
"Kalau pijat 'kan saya hanya memberikan jasa, jadi nggak perlu modal besar," ujarnya sambil tersenyum.
Selepas waktu Asar, Bu Tina mulai berangkat kerja. Ia mengendarai sepeda motor tua dari wilayah Bantul dan tiba di kawasan Malioboro saat matahari mulai merambat turun.
Pada hari-hari biasa, ia bekerja hingga pukul satu malam. Namun jika ramai, dia bisa pulang hingga dini hari.
Berbeda dengan kebanyakan orang, puncak kerjanya justru terjadi pada malam hari, saat Malioboro telah menyerap sisa-sisa energi wisatawan. Dalam satu malam, Bu Tina bisa melayani lima hingga sepuluh pelanggan.
Ia mematok tarif mulai dari Rp 50 ribu tergantung durasi dan banyaknya area pijat. Menurutnya, penghasilan sebagai tukang pijat cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.
Meski telah bertahun-tahun mengadu nasib di keramaian yang sama, tiap harinya, Bu Tina menjumpai cerita dan wajah-wajah yang berbeda. Mereka adalah pelanggan yang ditemui Bu Tina di sepanjang jalan, tanpa adanya papan nama maupun akun media sosial.
Sebagian datang dan pergi tanpa sempat diingat. Bu Tina mengaku kerap lupa terhadap wajah-wajah pelanggannya. Namun, di luar ingatannya, ada yang menyimpan namanya lebih lama.
Beberapa pelanggan masih ingat Bu Tina, bahkan mencarinya lagi. Mereka biasanya meminta nomor telepon Bu Tina lalu menghubunginya setelah sekian lama.
"Saya malah lupa pernah mijat," katanya sambil tertawa.
Artikel ini ditulis oleh Ikfina Kamalia Rizki peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik
(afn/afn)


Komentar Terbanyak
Eks Ketua BEM UGM Temukan Alat Pelacak di Kendaraannya Usai Demo Gejayan
Misteri Alat Pelacak di Kendaraan Tiyo Eks Ketua BEM UGM Usai Demo Gejayan
Kronologi Lengkap Eks Ketua BEM UGM Tiyo Klaim Temukan 2 Alat Pelacak di Mobil