Malam 1 Suro selalu identik dengan berbagai mitos dan cerita mistis yang berkembang di tengah masyarakat Jawa. Salah satu yang paling populer adalah anggapan bahwa Malam 1 Suro merupakan lebarannya makhluk gaib. Kepercayaan ini membuat banyak orang memilih mengurangi aktivitas di luar rumah, menghindari perjalanan malam, hingga melakukan berbagai ritual tertentu saat pergantian Tahun Baru Jawa.
Istilah tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan masih sering diperbincangkan hingga sekarang, terutama menjelang datangnya bulan Suro. Tak sedikit masyarakat yang percaya bahwa pada malam tersebut aktivitas makhluk gaib meningkat, arwah leluhur kembali berkunjung, atau dunia spiritual menjadi lebih terbuka dibandingkan hari-hari biasa.
Namun, benarkah Malam 1 Suro merupakan lebarannya makhluk gaib? Dari mana asal-usul kepercayaan tersebut, dan bagaimana faktanya menurut tradisi Jawa? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Malam 1 Suro?
Malam 1 Suro adalah malam yang menandai pergantian tahun dalam kalender Jawa. Bagi sebagian masyarakat Jawa, malam ini memiliki makna yang sangat penting karena dianggap sebagai waktu yang sakral.
Dalam artikel "Tradisi Malam 1 Suro dalam Perspektif Budaya Jawa: Studi Kasus antara Mitos dan Tradisi Spiritual di Desa Mojopahit Lampung Tengah" oleh Adelia Rahma Aryanti dijelaskan bahwa bulan Suro merupakan bulan yang dianggap keramat dalam tradisi masyarakat Jawa. Hal ini menyebabkan Malam 1 Suro kerap disambut dengan berbagai ritual dan kegiatan spiritual yang bertujuan memohon keselamatan, ketenteraman, serta keberkahan dalam menjalani kehidupan selama satu tahun ke depan.
Nama Suro sendiri berasal dari kata Asyura, yang merujuk pada hari ke-10 bulan Muharam. Dalam sejarah Islam, Hari Asyura memiliki kedudukan istimewa dan dikaitkan dengan berbagai peristiwa penting, termasuk syahidnya Sayyidina Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW. Pengaruh tradisi Islam inilah yang kemudian berakulturasi dengan budaya Jawa dan melahirkan berbagai tradisi Suroan yang masih dilestarikan hingga sekarang.
Dirujuk dari skripsi "Perspektif Akidah Islam Tentang Pantang Larang Malam Satu Suro di Masyarakat Suku Jawa Desa Karya Indah, Kabupaten Kampar" tulisan Muhammad Dandi Kurnia, masyarakat Jawa memandang Malam 1 Suro sebagai waktu yang sakral dan penuh kehati-hatian. Oleh karena itu, berkembang berbagai pantangan atau larangan yang dipercaya perlu dipatuhi agar terhindar dari kesialan dan musibah.
Beberapa pantangan yang masih dikenal hingga kini antara lain larangan mengadakan pesta atau hajatan besar, berkata kasar, bertindak sembarangan, hingga melakukan aktivitas yang dianggap tidak selaras dengan suasana perenungan dan tirakat.
Kenapa Malam 1 Suro Disebut Lebarannya Makhluk Gaib?
Istilah "lebarannya makhluk gaib" sering muncul ketika masyarakat membicarakan Malam 1 Suro. Sebutan tersebut telah lama dikenal dalam berbagai cerita rakyat dan kepercayaan masyarakat Jawa, sehingga membuat Malam 1 Suro identik dengan nuansa mistis dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia gaib.
Dikutip dari artikel "Tradisi Malam 1 Suro dalam Perspektif Budaya Jawa: Studi Kasus antara Mitos dan Tradisi Spiritual di Desa Mojopahit Lampung Tengah" oleh Adelia Rahma Aryanti, sebagian masyarakat Jawa meyakini bahwa Malam 1 Suro merupakan waktu ketika energi spiritual berada dalam kondisi yang kuat dan hubungan antara dunia manusia dengan alam gaib menjadi lebih terbuka dibandingkan hari-hari biasa.
Kepercayaan tersebut kemudian melahirkan berbagai pantangan dan tradisi yang masih dijalankan hingga saat ini. Sebagian masyarakat memilih untuk tetap berada di rumah, mengurangi aktivitas di luar, memperbanyak doa, serta menghindari kegiatan yang dianggap dapat mengundang kesialan.
Sementara itu, dalam buku 70 Tradisi Unik Suku Bangsa di Indonesia karya Fitri Haryani disebutkan bahwa Malam 1 Suro disebut sebagai lebarannya makhluk gaib karena adanya kepercayaan yang berkembang bahwa makhluk-makhluk halus keluar dari tempat persinggahannya pada malam tersebut. Kepercayaan ini juga dihubungkan dengan penampakan makhluk halus yang sering terlihat di Malam 1 Suro.
Kepercayaan lainnya tentang Malam 1 Suro adalah bahwa di malam ini arwah leluhur akan kembali dan mendatangi keluarganya di rumah. Tidak hanya itu, ada juga kepercayaan bahwa di Malam 1 Suro arwah dari orang-orang yang meninggal karena menjadi tumbal pesugihan akan dilepas lalu diberi kebebasan sebagai hadiah pengabdiannya selama satu tahun. Kepercayaan-kepercayaan inilah yang menjadi landasan utama penyebutan Malam 1 Suro sebagai lebarannya makhluk gaib dan menjadi sebuah tradisi lisan yang berkembang di masyarakat Jawa secara turun temurun.
Weton yang Dicari Makhluk Gaib di Malam 1 Suro
Sisi mistis dari Malam 1 Suro berkaitan erat dengan salah satu weton dalam kepercayaan Jawa. Berdasarkan perhitungan weton primbon, malam 1 Suro tahun 1960 Ba' atau 2026 bertepatan dengan weton Rabu Kliwon. Menurut kepercayaan primbon Jawa, Rabu Kliwon termasuk salah satu weton yang masuk dalam kelompok weton tulang wangi.
Istilah weton tulang wangi merujuk pada sejumlah kombinasi hari dan pasaran kelahiran yang dipercaya memiliki aura spiritual kuat serta lebih peka terhadap hal-hal yang bersifat gaib. Dalam tradisi Jawa, orang yang memiliki weton ini sering disebut memiliki "bau wangi" yang disukai oleh makhluk tak kasat mata.
Dikutip dari buku Tali Sukma karya Ifan Andriado, weton tulang wangi atau balung kuning merupakan istilah dalam primbon Jawa yang mengacu pada hari kelahiran tertentu yang dipercaya memiliki daya tarik khusus bagi makhluk gaib. Kepercayaan ini telah berkembang secara turun-temurun dan menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Jawa.
Menurut kepercayaan Jawa, orang dengan weton tulang wangi harus berhati-hati di Malam 1 Suro karena menjadi incaran makhluk gaib yang banyak berkeliaran. Oleh karena itu, berbagai pantangan seperti keluar rumah tanpa tujuan jelas, berkata sembarangan, atau mendatangi tempat-tempat yang dianggap angker sering kali ditekankan kepada pemilik weton ini.
Adapun weton yang termasuk tulang wangi antara lain Senin Kliwon, Senin Wage, Senin Pahing, Selasa Legi, Rabu Pahing, Rabu Kliwon, Kamis Wage, Sabtu Wage, Sabtu Legi, Minggu Pon, dan Minggu Kliwon.
Itulah penjelasan kenapa Malam 1 Suro dikenal sebagai lebarannya makhluk gaib. Kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun memang sulit untuk ditepis apalagi dilupakan. Meski begitu, kepercayaan ini termasuk warisan budaya lokal yang hendaknya dijaga sebagai bagian dari budaya Indonesia yang beragam. Semoga informasi ini bisa menjawab penasaranmu ya detikers!
Artikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik
(num/alg)

Komentar Terbanyak
Eks Ketua BEM UGM Temukan Alat Pelacak di Kendaraannya Usai Demo Gejayan
Misteri Alat Pelacak di Kendaraan Tiyo Eks Ketua BEM UGM Usai Demo Gejayan
Kronologi Lengkap Eks Ketua BEM UGM Tiyo Klaim Temukan 2 Alat Pelacak di Mobil