Dunia maya tampak disibukkan pembahasan soal kapan malam 1 Suro 2026 tiba. Ada yang beranggapan bahwasanya malam 1 Suro dimulai pada Senin malam, 15 Juni 2026, alias kemarin malam. Ada pula yang mengatakan momen sakral pergantian tahun Jawa itu tiba malam ini, Selasa, 16 Juni 2026. Mana yang benar?
Muh Arif Royyani dalam bukunya, Dinamika Sejarah Ilmu Falak di Indonesia, menjelaskan bahwa kalender Jawa Islam yang sampai sekarang dipedomani dibuat oleh Sultan Agung. Karenanya, tidak mengherankan jika banyak hal yang sama atau mirip antarkedua kalender, seperti waktu pergantian hari dan nama bulan.
Salah satunya adalah Suro, bulan pertama kalender Jawa Islam. Nama bulan ini terinspirasi dari tanggal 10 Muharam yang disebut Asyura, seperti halnya dijelaskan Sri Herminingrum dalam buku Kearifan Lokal Masyarakat Tradisional Gunung Kelud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aspek historis inilah yang turut 'mendukung' berkembangnya pandangan bahwa 1 Suro dan 1 Muharam itu selalu jatuh pada tanggal sama. Apakah benar begitu? Lantas, Malam 1 Suro 2026 nanti malam atau bukan? Berikut pembahasan ringkasnya.
Apakah Nanti Malam 1 Suro 2026?
Perlu detikers ketahui, kalender Jawa Islam tersusun atas 12 bulan. Masing-masingnya memiliki jumlah hari yang pasti, kecuali untuk bulan terakhir, yakni Besar. Di bawah ini rincian jumlah harinya:
- Suro: 30 hari
- Sapar: 29 hari
- Mulud: 30 hari
- Bakda Mulud: 29 hari
- Jumadilawal: 30 hari
- Jumadilakir: 29 hari
- Rejeb: 30 hari
- Ruwah: 29 hari
- Poso: 30 hari
- Sawal: 29 hari
- Selo: 30 hari
- Besar: 29 atau 30 hari
Di sisi lain, kalender Hijriah tidak memiliki ketetapan serupa. Tanggal tiap bulannya bisa jadi 29 atau 30, tergantung kemunculan hilal (bulan sabit baru) di langit malam.
Oleh karena itu, 1 Suro, dan dengannya malam 1 Suro, tidak selalu berbarengan dengan 1 Muharam. Keduanya mungkin saja datang pada tanggal yang sama, tetapi bukan sebuah keniscayaan.
Tahun ini, berdasar Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 dari Kementerian Agama, 1 Muharam 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Dengan demikian, malam 1 Muharam-nya dimulai pada Senin, 15 Juni 2026 karena pergantian hari Hijriah terjadi saat Matahari terbenam.
Sementara itu, 1 Suro 1960 Ba' jatuh hari Rabu, 17 Juni 2026. Itu berarti, malam 1 Suro tahun ini dimulai nanti malam, Selasa, 16 Juni 2026. Pasalnya, sama seperti kalender Hijriah, kalender Jawa Islam berganti hari ketika Matahari surut.
Singkatnya, nanti adalah Malam 1 Suro 2026.
Larangan-larangan Malam 1 Suro 2026
detikers mungkin sudah tahu bahwasanya ada banyak larangan pada malam 1 Suro yang sampai sekarang masih diyakini orang Jawa. Di antaranya yang termasyhur adalah menggelar hajatan. Tahukah kamu, selain itu, masih banyak larangan lain?
Diringkas dari artikel 'Larangan Beserta Tradisi Malam 1 Suro di Surakarta' oleh Riskha Nadia Ayuputri yang terbit di Jurnal TANDA, di bawah ini beberapa larangannya:
- Menggelar Hajatan: Acara besar seperti pernikahan atau pesta dianggap tabu untuk digelar pada bulan Suro dan terkhusus malam 1 Suro. Sebab, bulan pertama Jawa ini dipandang sebagai bulan menyepi dan berdoa.
- Bepergian Jauh: Larangan ini muncul dari kepercayaan akan adanya kecelakaan atau musibah bila dilanggar. Siapa yang coba-coba bepergian jauh diyakini akan menjadi tumbal.
- Berkata Kasar: Mereka yang berkata kasar atau buruk diyakini akan dicari makhluk ghaib pada malam 1 Suro. Pasalnya, pada malam pergantian tahun ini, makhluk dunia sebelah akan keluar dan mencari manusia yang 'lalai'.
- Memindahkan Rumah: Larangan lain malam 1 Suro adalah pindah rumah. Konon, bila nekat, si empunya rumah akan mendapat kesialan.
- Menjauhi Hal-Hal Duniawi: Suro sering dianggap sebagai bulan untuk berpuasa, meditasi, maupun berdoa. Karenanya, mengutamakan hal-hal duniawi dianggap tidak selaras dan pantas.
- Keluar Rumah: Orang Jawa percaya lebih baik berdiam diri di rumah ketimbang keluar pada malam 1 Suro. Ditakutkan, orang yang bepergian keluar ditimpa kesialan atau hal negatif.
Tradisi Mubeng Beteng Tapa Bisu 2026 di Jogja
Berbicara tentang malam 1 Suro pasti tidak bisa dilepaskan dari tradisi Mubeng Beteng dan Tapa Bisu di Jogja. Apa itu?
Sederhananya, Mubeng Beteng adalah tradisi berjalan mengelilingi benteng keraton Jogja. Sembari berjalan, para peserta dilarang berbicara atau berisik (Tapa Bisu). Tujuan tradisi ini adalah merenung sekaligus mengintrospeksi diri atas setahun yang lalu.
Tahun ini, dilansir Instagram Dinas Kebudayaan DIY, @dinaskebudayaandiy, Mubeng Beteng akan digelar nanti malam, Selasa, 16 Juni 2026. Berikut jadwal lengkapnya bagi detikers yang ingin mengikuti:
- 20.00-21.00 WIB: Kehadiran Peserta
- 21.00-23.00 WIB: Macapat
- 23.00-23.30 WIB: Pembukaan
- 23.30-23.50 WIB: Persiapan Pemberangkatan
Peserta Mubeng Beteng Malam 1 Suro 2026 akan mulai perjalanan dan mengakhirinya di Kagungan Dalem Kamandungan Lor. Rutenya melewati:
- Jalan Rotowijayan
- Jalan Kauman
- Jalan H Agus Salim
- Jalan KH Wahid Hasyim
- Jalan Suryowijayan
- Jalan MT Haryono
- Jalan Mayjend Sutoyo
- Jalan Brigjend Katamso
- Jalan Ibu Ruswa
- Jalan Pekapalan Alun-Alun Utara
- Jalan Rotowijayan
Masyarakat bebas mengikuti tanpa harus mendaftar atau membayar biaya sepeserpun. Namun, peserta mesti mematuhi aturan yang diberlakukan, yakni berpakaian rapi dan sopan, tidak membawa atribut organisasi/komunitas/lembaga/partai tertentu, serta menjaga ketertiban dan kebersihan.
Nah, itulah sekilas mengenai benar tidaknya nanti Malam 1 Suro 2026. Semoga menjawab, ya!
(num/afn)

Komentar Terbanyak
Eks Ketua BEM UGM Temukan Alat Pelacak di Kendaraannya Usai Demo Gejayan
Misteri Alat Pelacak di Kendaraan Tiyo Eks Ketua BEM UGM Usai Demo Gejayan
Kronologi Lengkap Eks Ketua BEM UGM Tiyo Klaim Temukan 2 Alat Pelacak di Mobil