Tarif Wisata Jeep Merapi Ikut Terimbas Harga BBM

Tarif Wisata Jeep Merapi Ikut Terimbas Harga BBM

Sudrajat - detikJogja
Selasa, 16 Jun 2026 16:55 WIB
Wisata Lava Tour Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Wisata Lava Tour Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto: Sudrajat/BeritaKlik
Sleman -

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) berdampak pada tarif wisata Lava Tour Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Operator wisata menaikkan tarif paket Jeep rata-rata sekitar Rp 50 ribu per unit untuk menutup lonjakan biaya operasional.

Operator KAS (Kaliurang Amazing Story), Aprin Triana, mengatakan tarif paket wisata Lava Tour Merapi yang sebelumnya sekitar Rp 400 ribu per unit Jeep kini naik menjadi Rp 450 ribu hingga Rp 500 ribu.

"Paket wisata Lava Tour Merapi rata-rata naik Rp 50 ribu. Tarif yang sebelumnya sekitar Rp 400 ribu per unit Jeep kini menjadi Rp 450 ribu hingga Rp 500 ribu," kata Aprin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, kenaikan tarif tidak terlepas dari melonjaknya harga BBM yang digunakan armada wisata. Harga Pertamax yang menjadi bahan bakar utama sebagian besar Jeep naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara harga bahan bakar diesel juga meningkat hingga berkisar Rp 23 ribu sampai Rp 24.800 per liter.

"Kenaikan BBM sangat berpengaruh terhadap minat wisatawan untuk berkunjung ke Merapi. Karena Jeep menggunakan Pertamax, otomatis biaya operasional ikut naik," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Wisata Lava Tour Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.Wisata Lava Tour Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto: Sudrajat/BeritaKlik

Meski biaya operasional meningkat, daya tarik wisata Jeep Merapi tak sepenuhnya surut. Pada Senin (15/6/2026) pagi ada dua bus besar pelat Bogor dan Jakarta membawa wisatawan ke Merapi. Belum termasuk dua travel sedang berwarna putih, dan belasan mobil pribadi dari sejumlah daerah di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Saya dan keluarga termasuk di antaranya. Si Bungsu begitu antusias menaiki Jeep Willys yang dikemudikan Juhari. Namun di tengah perjalanan wajahnya mendadak pucat ketika Jeep menghantam jalan bergelombang di lereng Gunung Merapi.

Kedua tangannya mencengkeram erat sandaran jok di depannya. Sesekali tubuhnya terangkat dari tempat duduk saat kendaraan melindas jalan berbatu.

"Jangan muntah ya, Dek," goda kakaknya yang duduk di samping Juhari.

Ia tak menjawab. Hanya menatap lurus ke depan sambil berusaha menahan guncangan yang membuat perut serasa dikocok-kocok.

Pagi itu kami sengaja berangkat sebelum pukul tujuh. Selain udara masih sejuk, waktu tersebut dianggap paling nyaman untuk menikmati wisata Lava Tour Merapi sebelum matahari mulai menyengat.

Meski perawakannya kerempeng, Juhari cekatan memainkan kemudi serta menginjak pedal gas Jeep keluaran 1956 itu.

Jalan Raya Kaliurang menuju berbagai titik wisata sebenarnya relatif mulus. Namun beberapa ruas yang bergelombang cukup membuat perut terasa dikocok-kocok. Anehnya, para pengemudi Jeep tampaknya enggan mengurangi kecepatan.

Setiap kali menghadapi tanjakan, suara mesin terdengar meraung-raung. Sesekali bunyinya seperti erangan panjang yang dipaksa keluar dari balik kap mesin, seolah mengerahkan seluruh tenaga untuk menaklukkan tikungan dan tanjakan di lereng Merapi. Meski demikian, sensasi itulah yang justru dicari banyak wisatawan.

Sejak 2021, Juhari bekerja sebagai pengemudi sekaligus pemandu wisata Merapi. Tak hanya piawai mengendalikan kendaraan, ia juga fasih menjelaskan berbagai titik destinasi yang dikunjungi wisatawan.

Salah satunya saat rombongan berhenti di Batu Alien, bongkahan batu raksasa hasil erupsi Merapi 2010.

"Batu Alien itu bukan dari luar angkasa. Dalam bahasa Jawa, alien artinya pindah. Batu ini material muntahan Merapi yang pindah dari dasar kawah ke dusun ini," ujar Juhari.

Meski demikian, ada pula yang menafsirkan nama tersebut berasal dari bentuk batu yang dianggap menyerupai wajah manusia.

"Nah, ini bagian mata, hidung, dan ini telinganya," katanya sambil menunjuk beberapa lekukan di permukaan batu.

Namun penjelasan itu langsung diprotes si bungsu.

"Ah, overthinking. Aku nggak bisa ngebayangin itu wajah orang," celetuknya. Kami pun tertawa. "Imajinasimu lemah," kakaknya meledek.

Wisata Lava Tour Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.Wisata Lava Tour Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto: Sudrajat/BeritaKlik

Menurut Aprin, wisata Jeep Merapi mulai berkembang pada 2012, tidak lama setelah erupsi besar Merapi pada 2010. Awalnya, kendaraan-kendaraan tersebut digunakan untuk membantu proses evakuasi warga terdampak bencana.

"Saat itu cuma ada dua armada dan belum ada komunitas. Karena banyak orang ingin melihat kawasan yang terdampak erupsi, akhirnya warga mulai mengantar wisatawan menggunakan Jeep," ujarnya.

Dari aktivitas sederhana itu, wisata Lava Tour Merapi berkembang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat lereng gunung.

Saat ini terdapat sekitar seribu Jeep yang memiliki izin operasional di kawasan Merapi. Armada tersebut tersebar di sekitar 25 basecamp operator wisata.

Namun tidak seluruhnya beroperasi setiap hari karena sebagian masih menjalani perawatan maupun perbaikan.

Di KAS Adventure sendiri terdapat 33 armada Jeep. Sebanyak 23 unit aktif beroperasi, sedangkan sisanya masih dalam proses perbaikan.

Meski tarif mengalami kenaikan, Aprin mengatakan minat wisatawan masih cukup tinggi. Menariknya, periode paling ramai justru bukan saat akhir pekan.

"Peak season biasanya hari kerja dan pagi hari. Kalau weekend memang ramai, tetapi wisatawan kadang tidak bisa menikmati perjalanan secara maksimal karena terlalu padat," katanya.

Bagi wisatawan, tambahan biaya Rp 50 ribu mungkin tidak terlalu terasa dibanding sensasi menyusuri jejak erupsi Merapi dengan Jeep tua yang berguncang di antara pasir vulkanik dan bebatuan. Namun bagi para operator, kenaikan tarif menjadi cara agar roda ekonomi wisata di lereng Merapi tetap bisa berputar di tengah melonjaknya biaya operasional.




(jat/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads