Khidmatnya Pentas Wayang Kulit Gedhog Sebelum Mubeng Benteng di Keraton Jogja

Khidmatnya Pentas Wayang Kulit Gedhog Sebelum Mubeng Benteng di Keraton Jogja

Adji G Rinepta - detikJogja
Selasa, 16 Jun 2026 19:54 WIB
Pementasan Wayang Kulit Gedhog di Keraton Jogja, Selasa (16/6/2026).
Pementasan Wayang Kulit Gedhog di Keraton Jogja, Selasa (16/6/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Pementasan Wayang Kulit Gedhog membuka rangkaian acara yang digelar Abdi Dalem Keraton Jogja dalam rangka mangayubagya Warsa Enggal 1 Sura Be 1960. Pentas ini dibuka untuk umum di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pantauan detikJogja, pementasan dimulai pukul 19.00 WIB. Namun masyarakat sudah mulai berdatangan di lokasi pentas sekitar pukul 18.30 WIB. Tak hanya masyarakat Jogja, pementasan ini juga menarik minat wisatawan luar daerah hingga manca negara.

Semakin mendekati waktu pementasan, penonton yang hadir semakin ramai. Uniknya, penonton yang hadir mayoritas justru muda-mudi. Mereka menyimak dengan khidmat lakon yang dipentaskan malam ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti Eki (25), pemuda asal Mojokerto Jawa Timur yang sengaja datang untuk menyaksikan pementasan wayang Gedhog yang sudah cukup langka ini.

"Saya sebenarnya juga nggak paham, tapi kayaknya kok menarik, jadi mending saya nonton biar lebih tau tentang kultur, yang memang tertarik," jelas Eki saat ditemui detikJogja di lokasi pementasan, Selasa (16/6).

ADVERTISEMENT

"Kalau wayangnya belum (tahu), tadi cuma baca sinopsisnya di Instagram. Iya itu juga yang membuat tertarik," sambungnya.

Pementasan Wayang Kulit Gedhog di Keraton Jogja, Selasa (16/6/2026).Pementasan Wayang Kulit Gedhog di Keraton Jogja, Selasa (16/6/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja

Eki juga berencana mengikuti acara tengah malam nanti yakni mubeng beteng. "Insyallah njih (iya ikut mubeng beteng)," pungkasnya

Tak hanya menggelar Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng, pada malam 1 Suro, Abdi Dalem Keraton Yogyakarta juga menggelar Pementasan Wayang Kulit Gedhog atau Pergelaran Ringgit Wacucal Gedhog Ini digelar oleh Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pentas ini akan dipimpin dalang MB. Cermo Gupito, yang juga salah satu Abdi Dalem Dalang Kawedanan Kridhamardawa yang mengemban tugas sebagai pimpinan produksi pementasan.

"Biasanya menyambut Tahun Baru Jawa ini kan Paguyuban Abdi Dalem menyelenggarakan Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng," jelas Cermo Gupito dalam keterangan tertulis yang diterima detikJogja, Senin (15/6/2026).

"Nah tahun ini, kami dari Kawedanan Kridhamardawa turut mangayubagya dengan menghadirkan pementasan wayang kulit gedhog yang digelar sebelum jalannya lampah budaya mubeng beteng tersebut," sambungnya.

Menurut Cermo Gupito, wayang gedhog merupakan salah satu jenis pertunjukan wayang kulit yang cukup unik dan langka karena mengangkat cerita Panji, bukan Mahabarata atau Ramayana seperti wayang purwa.

Wayang gedhog sendiri merupakan salah satu koleksi aset langka milik Keraton Yogyakarta, yang sampai saat ini sudah sangat jarang dipentaskan di wilayah DIY. Pementasan kali ini juga bertujuan mengenalkan dan melestarikan Wayang Gedhog.

"Melalui rangkaian acara ini, masyarakat dapat memaknai pementasan wayang dalam rangka mencari 'sangu' untuk introspeksi diri, karena tentu saja dalam gelaran cerita wayang banyak falsafah kehidupan yang termuat," terang Cermo Gupito.

Pementasan ini mengambil cerita Panji dengan lakon 'Jaya Berdangga', dan akan berlangsung sekitar 4 jam mulai pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB. Lakon ini mengisahkan tentang upaya penyamaran Raden Panji dalam mencari syarat permintaan istrinya yang sedang mengandung yaitu Sari Swara Renggani Jagad yang terus dilakukan demi masa depan Kerajaan Jenggala dan Kediri.

Banyak godaan dan rintangan yang datang di Keraton Kediri karena ulah para senopati dari negara seberang, mulai dari menghalangi upaya Raden Panji, hingga memberanikan diri meminang Dewi Sekartaji. Atas kegigihan Raden Panji dalam upaya penyamarannya, syarat permintaan tersebut dapat terpenuhi bersamaan lahirnya bayi laki-laki yang dikandung Dewi Sekartaji.

"Pemilihan penampilan wayang gedhog ini tentunya mempertimbangkan dari segi cerita yang tidak kalah menarik dengan wayang purwa. Cariyos Panji Lampahan Jaya Berdangga dipilih karena bobot dan isi cerita tersebut sangat kompleks dan erat dengan realitas kehidupan masyarakat Jawa," urai Cermo Gupito.




(adg/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads