Bara Primario (33) ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Barat (NTB). Warga Lingkungan Monjok Baru, Kelurahan Monjok Timur, Mataram, itu ternyata adalah pembunuh dan membakar ibu kandungnya, Yeni Yudi Astuti.
Salah satu tetangga mengungkapkan Rio dikenal sebagai sosok yang baik dan rajin salat di lingkungan tempat tinggalnya. Rio tidak pernah meninggalkan salat lima waktu. Rio bahkan kerap langsung pergi ke masjid begitu azan berkumandang.
"Anak ini nggak pernah telat (salatnya), lima waktu selalu di masjid," tutur salah satu warga yang enggan disebutkan namanya kepada detikBali, Selasa (27/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain rajin beribadah, Rio juga dikenal sebagai sosok yang ramah di lingkungannya. Rio selalu ikut serta dalam kegiatan masyarakat.
"Sering ngumpul-ngumpul bersama kami (warga), bahkan hari sabtu itu sampai magrib dia di rumah salah satu tetangganya di sini," kata pria dengan rambut gondrong tersebut.
Pria tersebut begitu kaget dan tidak percaya Rio adalah pelaku pembunuhan dan pembakaran terhadap ibunya. Sebab, Rio merupakan sosok yang dikenal ramah.
"Kaget betul. Sampai sekarang sebenarnya kami enggak percaya. Nggak ada terbayangkan sampai polisi datang tadi malam itu," tutur lelaki tersebut.
Sementara di mata keluarga, Rio dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian sosial tinggi. Ketika ada bencana melanda, ia selalu terlihat turun ke lapangan membawa bantuan untuk warga yang terdampak.
"Bencana (gempa) 2018 itu nggak pernah diam di rumah, dia bawa bantuan ke lokasi bencana. Intinya kalau ada bencana, dia turun ke lapangan," kata kakak ipar Rio, Sri Kurniawati.
Sri mengatakan keluarga sampai saat ini masih syok setelah mengetahui perbuatan tragis yang dilakukan oleh adik iparnya tersebut terhadap ibu kandungnya sendiri.
Kakak tiri Rio, Ade Prima, mengatakan tidak tahu menahu ada permasalahan antara Rio dengan ibu kandungnya. Menurutnya, Rio terlihat selalu disayang oleh sang ibu sejauh ini.
"Disayang banget sama ibunya karena mungkin dia anak laki satu-satunya juga," ujar pria tersebut.
Diberitakan sebelumnya, Polda NTB mengungkap motif pembunuhan keji yang dilakukan Bara Primario alias BP (33), warga Lingkungan Monjok Baru, Kelurahan Monjok Timur, Mataram, NTB, terhadap ibu kandungnya, Yeni Yudi Astuti.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda NTB, Kombes Mohammad Kholid, mengatakan motif pembunuhan hingga jasad Yeni Yudi Astuti dibakar oleh pelaku dipicu rasa sakit hati.
"Jadi, pelaku ini merasa sakit hati (terhadap korban)," kata Kholid, Selasa (27/1/2026).
Bara awalnya meminta uang sebesar Rp 39 juta kepada ibunya untuk membayar utang. Namun, permintaan itu tak dikabulkan. Penolakan tersebut membuat Bara sakit hati terhadap ibunya sendiri. "Sehingga, (pelaku) merasa sakit hati dan terjadilah peristiwa pembunuhan tersebut," sebutnya.
Pelaku menghabisi nyawa ibu kandungnya pada Minggu (25/1/2026) dini hari di rumahnya. Di rumah itu, pelaku dan korban hanya tinggal berdua.
Pagi harinya, jasad korban dibawa menuju Sekotong, Lombok Barat, menggunakan mobil Innova Reborn warna putih, miliknya.
Di pertengahan jalan, Bara berhenti untuk membeli Pertalite yang digunakan untuk membakar jasad korban. Tujuannya untuk menghilangkan jejak.
(hsa/hsa)

