Di tengah euforia kemenangan Maroko atas Belanda, Ismael Saibari justru memilih merayakan momen bersejarah itu dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Sesaat setelah timnya memastikan kemenangan melalui adu penalti, gelandang serang berusia 25 tahun itu tidak langsung larut dalam pesta bersama rekan-rekannya di lapangan.
Langkah pertamanya justru mengarah ke tribun penonton. Dengan wajah penuh haru, Saibari berlari menghampiri sang ibu, Fatima, untuk memberikan pelukan hangat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi Saibari pun menuai perhatian para penggemar sepak bola. Banyak yang menilai momen tersebut mencerminkan eratnya hubungan kekeluargaan yang menjadi ciri khas para pemain Maroko, yang kerap melibatkan orang tua dan keluarga dalam setiap keberhasilan yang mereka raih di lapangan.
Aksinya ini sekaligus menunjukkan bahwa Saibari adalah muslim yang berbakti pada sang ibu. Dalam hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,
يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ،
Artinya, "Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?'. Nabi SAW menjawab, 'Ibumu'. Dan orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?', Nabi SAW menjawab 'Ibumu'. Orang tersebut bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?', beliau menjawab 'ibumu'. Orang tersebut kemudian bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?,' Nabi menjawab 'Kemudian ayahmu'," (HR. Bukhari dan Muslim).
Di balik aksinya memeluk sang ibu, Ismael Saibari adalah salah satu nama yang paling banyak diperbincangkan sepanjang Piala Dunia 2026. Penampilannya bersama tim nasional Maroko menjadikannya sebagai motor serangan Singa Atlas.
Biodata Ismael Saibari
Dilansir dari laman FIFA, Rabu (1/7/2026), berikut profil lengkap Ismael Saibari:
Nama lengkap: Ismael Saibari Ben El Basra
Tanggal lahir: 28 Januari 2001
Tempat lahir: Terrassa, Catalunya, Spanyol
Kebangsaan: Maroko
Posisi: Gelandang serang / Penyerang / Sayap
Klub: PSV Eindhoven (Belanda)
Tim nasional: Maroko
Lahir dari Keluarga Maroko
Ismael Saibari lahir pada tahun 2001 di kota Terrassa, Catalunya, Spanyol. Kota yang terletak sekitar 30 menit dari Barcelona itu juga dikenal sebagai tempat kelahiran sejumlah pesepak bola ternama seperti Dani Olmo dan Marc Pubill.
Meski lahir di Spanyol, Saibari memiliki darah Maroko dari kedua orang tuanya, Hassan dan Fatima.
Pasangan tersebut hijrah dari Maroko ke Spanyol pada awal 1990-an demi mencari kehidupan yang lebih baik. Awalnya mereka menetap di Almeria, Andalusia, tempat kakak Ismael, Akram, lahir. Beberapa tahun kemudian keluarga itu pindah ke Terrassa, tempat Ismael dilahirkan.
Mereka tinggal di kawasan Carrer Europa, sebuah lingkungan kelas pekerja yang dihuni banyak keluarga imigran.
Tetangga keluarga, Charaf Eddine Dinar, mengenang Ismael kecil sebagai anak yang hampir tidak pernah lepas dari bola.
"Anda akan jarang melihatnya tanpa membawa bola. Ke mana pun ia pergi - ke lapangan, di jalanan, atau di taman depan kompleks apartemennya - ia selalu ditemani bolanya. Ia akan berlarian dengan penuh semangat mengejar bola itu dan kakaknya," ungkap Charaf Eddine Dinar, tetangga keluarga Saibari di Terrassa seperti dikutip dari FIFA.
Menurutnya, keluarga Saibari dikenal sederhana, ramah, dan pekerja keras.
Ia memulai perjalanan sepak bolanya bersama klub lokal Club Deportivo Can Parellada, salah satu akademi yang cukup dikenal di Terrassa.
Anak dari Buruh Bangunan
Saat Ismael masih kecil, ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan.
Namun pada tahun 2007, krisis ekonomi yang melanda Spanyol membuat Hassan kehilangan pekerjaannya.
Keluarga sempat mencoba bertahan dengan membuka toko kelontong kecil, tetapi usaha tersebut tidak berlangsung lama.
Demi masa depan anak-anaknya, keluarga Saibari akhirnya memutuskan pindah ke Belgia.
Di negara baru itu mereka memulai kehidupan dari awal.
"Krisis ekonomi yang melanda Spanyol membuat kami pindah ke Belgia melalui bantuan teman ibu saya. Kami harus merintis semuanya kembali dari nol," jelas Akram.
Meski hidup dalam keterbatasan, Ismael dan Akram tetap membawa bola ke mana-mana.
Kepindahan ke Belgia menjadi titik penting dalam perkembangan karier Ismael.
Ia bergabung dengan akademi muda Anderlecht sebelum melanjutkan pembinaan di akademi Genk. Di dua klub tersebut, kualitasnya berkembang pesat.
Karier Saibari memasuki babak baru saat bergabung dengan PSV Eindhoven pada tahun 2020.
Pada musim yang sama, ia menjalani debut di Eredivisie sekaligus tampil di UEFA Europa League.
Sejak saat itu, perkembangannya sangat pesat.
Hingga Piala Dunia 2026 berlangsung, Saibari telah mencatat lebih dari 140 penampilan bersama PSV.
Musim sebelum Piala Dunia 2026 menjadi musim terbaik dalam karier Saibari.
Pada 2022, pelatih Belgia saat itu, Roberto Martinez, bahkan sempat menghubunginya untuk bergabung dengan 'Setan Merah'.
Namun Saibari telah memiliki pilihan yang mantap. Ia memilih membela Maroko, negara asal kedua orang tuanya.
Keputusan tersebut bukan semata-mata soal sepak bola, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap keluarga dan akar budayanya.
Maroko datang ke Piala Dunia 2026 dengan membawa modal sejarah setelah menjadi negara Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia pada edisi 2022 di Qatar.
(dvs/lus)

Komentar Terbanyak
Iran Berencana Bentuk NATO Versi Islam, Ajak Saudi dan Turki
MUI Godok Naskah Akademik RUU Pidana LGBT
Tukang Tambal Ban Rela Utang demi Haji, Kini Dilunasi Pemerintah-UEA