Kehadiran sosok 'Ustazah Hajar', pemuka agama berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang tengah viral di platform TikTok, sukses menyedot perhatian publik. Fenomena dakwah digital ini pun memantik respons dari Kementerian Agama (Kemenag).
Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi (HDI) Kemenag, Thobib Al-Asyhar, menilai kemunculan Ustazah AI ini menjadi bukti nyata bahwa lompatan teknologi digital kini sudah mulai merambah dan mewarnai ruang-ruang syiar keagamaan.
Meskipun teknologi ini menawarkan kemudahan akses informasi, Thobib mengingatkan masyarakat agar tidak menelan mentah-mentah setiap materi yang disampaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"AI memang memudahkan akses informasi, tetapi karena bekerja berdasarkan algoritma dan data digital, setiap informasi yang disampaikan tetap perlu disikapi secara kritis dan ditabayunkan kepada ahlinya," ujar Thobib Al-Asyhar saat dihubungi BeritaKlik, Rabu (1/7/2026).
Lebih lanjut, Thobib memaparkan bahwa dalam tradisi Islam, seorang mubaligh atau penceramah memikul tugas profetik (kenabian). Tugas mulia ini menuntut bekal ilmu yang kokoh dan diperoleh lewat jalur keguruan yang jelas atau dikenal dengan istilah sanad keilmuan.
Oleh karena itu, konten dakwah tidak melulu soal kebenaran teks atau data ilmiah di atas kertas, melainkan harus bersumber dari penjiwaan agama yang matang serta figur moral yang patut dicontoh. Faktor-faktor intrinsik inilah yang tidak dimiliki oleh sebuah program kecerdasan buatan.
"AI tidak memiliki proses internalisasi ilmu maupun otoritas moral, sehingga berpotensi menghasilkan kekeliruan jika dijadikan satu-satunya rujukan," tegasnya.
Kemenag pun mengimbau kepada umat Islam agar tetap bijak dalam menempatkan porsi teknologi di bidang agama. Thobib menekankan bahwa secanggih apa pun sebuah teknologi AI, posisinya tidak akan pernah bisa menggeser peran ulama di dunia nyata.
"Karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti guru atau mubaligh," kata Thobib.
Ia mengingatkan bahwa proses belajar agama yang kafah dan aman tetap wajib bersandar pada tuntunan langsung para guru yang memiliki rekam jejak keilmuan yang valid.
"Belajar agama tetap memerlukan bimbingan ulama, kiai, atau ustazah yang memiliki otoritas dan sanad keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan, agar umat memperoleh pemahaman yang benar dan tidak mudah tersesat," pungkasnya.
Seperti diketahui, Akun TikTok dengan nama pengguna @nia.hajar_s ramai diperbincangkan oleh warganet. Ternyata, sosok dengan nama Ustazah Hajar itu adalah hasil rekayasa kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Awalnya, banyak yang mengira Ustazah Hajar adalah manusia asli. Sampai-sampai, akun TikTok tersebut kini memiliki 1 juta pengikut dan 12,1 juta likes.
Saksikan Live DetikSore :
(hnh/erd)

Komentar Terbanyak
Iran Berencana Bentuk NATO Versi Islam, Ajak Saudi dan Turki
MUI Godok Naskah Akademik RUU Pidana LGBT
Tukang Tambal Ban Rela Utang demi Haji, Kini Dilunasi Pemerintah-UEA