Kisah Nabi Musa yang Jadi Asal-usul Puasa Asyura

Kisah Nabi Musa yang Jadi Asal-usul Puasa Asyura

Kristina - detikHikmah
Rabu, 24 Jun 2026 05:00 WIB
Biblical and religion vector illustration series, Moses held out his staff and the Red Sea was parted by God
Ilustrasi kisah Nabi Musa AS saat dikejar Fi'aun dan bala tentaranya di Laut Merah. Foto: Getty Images/iStockphoto/rudall30
Jakarta -

Puasa Asyura yang jatuh setiap 10 Muharram memiliki akar sejarah yang kuat dengan Nabi Musa AS dan kaumnya. Kisahnya diceritakan dalam sejumlah hadits.

Disebutkan dalam riwayat dari Abdah bin Sulaiman dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah RA, ia berkata:

كَانَ عَاشُورَاءُ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ رَمَضَانُ هُوَ الْفَرِيضَةُ وَتَرَكَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya: "Hari Asyura merupakan hari di mana kaum Quraisy melakukan puasa semasa jahiliah. Dan Rasulullah melakukan puasa hari Asyura. Setelah tiba di Madinah, beliau melakukan puasa Asyura dan memerintahkan (kaum muslimin) untuk melakukan puasa Asyura. Ketika puasa Ramadan telah diwajibkan, maka yang puasa Ramadan lah yang wajib, sedangkan puasa Asyura ditinggalkan. Barang siapa yang berkeinginan, maka ia melakukan puasa Asyura dan barang siapa yang berkeinginan, maka ia meninggalkannya." (HR Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi dalam Jami'-nya)

Menurut penjelasan dalam Syarah Syama'il Nabi Muhammad SAW Imam At-Tirmidzi terjemahan Masturi Irham dan Malik Supar, puasa Asyura merupakan bentuk syukur Nabi Musa AS kepada Allah SWT. Sebab, pada hari itu Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya dan membinasakan Fir'aun beserta bala tentaranya.

ADVERTISEMENT

Dalam Ash-Shahih dan lainnya terdapat hadits Ibnu Abbas RA yang menjelaskan asal-usul puasa Asyura yang dilakukan Nabi Musa AS hingga kemudian dilakukan umat Nabi Muhammad SAW.

Diceritakan, ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi melakukan puasa Asyura. Beliau bertanya, "Apakah ini?" Kaum Yahudi menjawab, "Ini adalah hari baik. Ini adalah hari di mana Allah SWT menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka. Maka Nabi Musa AS melakukan puasa pada hari tersebut." Nabi SAW bersabda, "Aku lebih berhak dengan Musa daripada kalian." Beliau pun melakukan puasa Asyura dan memerintahkan puasa Asyura."

Imam Ahmad dalam Al-Musnad, seperti dikatakan Al-Imam Al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif, meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah RA, ia berkata, "Pada suatu kesempatan Rasulullah melewati sejumlah orang Yahudi yang ketika itu berpuasa di hari Asyura. Lalu beliau bertanya, "Puasa apa hari ini?" Mereka menjawab, "Inilah hari dimana Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari tenggelam, dan menenggelamkan Fir'aun. Dan ini merupakan hari berlabuhnya kapal Nuh di Al-Judi. Kemudian Nuh dan Musa berpuasa pada hari ini sebagai rasa syukur kepada Allah Mendengar penjelasan mereka, Rasulullah bersabda, "Aku lebih berhak mengikuti Musa dan aku lebih berhak untuk berpuasa pada hari ini." Kemudian Rasulullah memerintahkan para sahabat beliau untuk berpuasa."

Rasulullah SAW melakukan puasa Asyura sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Beliau memerintahkan seorang lelaki dari Bani Aslam:

أَذِنْ فِي النَّاسِ مَنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَةَ يَوْمِهِ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ فَإِنَّ الْيَوْمَ عَاشُورَاءُ .

Artinya: "Umumkanlah kepada orang-orang: Barang siapa telah makan, maka hendaklah ia berpuasa di waktu yang tersisa pada hari itu. Barang siapa belum makan, maka hendaklah ia berpuasa. Karena sesungguhnya hari ini merupakan hari Asyura." (Diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Salamah bin Al-Akwa')

Nabi SAW juga memerintahkan puasa Asyura kepada pendudukan perkampungan Al-Anshar di sekitar Madinah.

Kisah Nabi Musa Selamat dari Kejaran Fir'aun

Kisah selamatnya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun yang menjadi sebab dilakukannya puasa Asyura diceritakan dalam Al-Qur'an. Kisah berawal saat Nabi Musa AS diutus berdakwah kepada Fir'aun, seorang raja zalim yang mengaku dirinya tuhan. Fir'aun membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Nabi Musa AS lahir pada masa itu, tetapi dia diselamatkan Allah SWT dari bengisnya Fir'aun.

Ibnu Katsir menceritakan dalam Qashashul Anbiya terjemahan Umar Mujtahid, Nabi Musa AS berdakwah bersama saudaranya, Nabi Harun AS. Mereka menemui Fir'aun dan menyerukan beribadah kepada Allah SWT serta minta melepaskan tawanan-tawanan Bani Israil dari kekejaman dan penindasan. Nabi Musa AS menyampaikan bukti-bukti kepada Fir'aun. Perdebatan hingga perang dengan penyihir Fir'aun pun terjadi dan kemenangan selalu di tangan Nabi Musa AS.

Meski para penyihirnya kalah, Fir'aun tetap tak menyerah. Hukuman Allah SWT berupa kemarau berkepanjangan juga tak membuat Fir'aun menyingkir dari kekafiran. Fir'aun terus menentang nabi, rasul, dan kalimullah.

Saat hari raya tiba, Bani Israil minta izin kepada Fir'aun untuk merayakan hari tersebut. Namun sebenarnya mereka bersiap pergi meninggalkan Mesir. Cara ini dilakukan untuk mengelabuhi Fir'aun dan pasukannya, demikian menurut pada mufassir dan kalangan ahli kitab.

Fir'aun dan pasukannya mengejar Bani Israil yang dipimpin Nabi Musa AS hingga tiba di Laut Merah. Saat situasi genting karena Fir'aun semakin dekat, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS memukulkan tongkatnya ke lautan. Atas izin-Nya, lautan itu terbelah. Ada yang menyebut lautan terbelah menjadi 12 jalan.

Ibnu Katsir menggambarkan air lautan tegak laksana gunung. Nabi Musa AS dan Bani Israil kemudian menyeberangi lautan. Setelah semuanya keluar dari lautan, saat itulah pasukan Fir'aun baru masuk. Kuasa Allah SWT pun turun, lautan kembali tertutup dan Fir'aun beserta bala tentaranya tenggelam.

Allah SWT berfirman surah Asy-Syu'ara' ayat 60-66:

فَاَتْبَعُوْهُمْ مُّشْرِقِيْنَ ٦٠ فَلَمَّا تَرٰۤءَا الْجَمْعٰنِ قَالَ اَصْحٰبُ مُوْسٰٓى اِنَّا لَمُدْرَكُوْنَ ۚ ٦١ قَالَ كَلَّا ۗاِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ ٦٢ فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ ۚ ٦٣ وَاَزْلَفْنَا ثَمَّ الْاٰخَرِيْنَ ۚ ٦٤ وَاَنْجَيْنَا مُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗٓ اَجْمَعِيْنَ ۚ ٦٥ ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَ ۗ ٦٦

Artinya: Lalu, (Fir'aun dan bala tentaranya dapat) menyusul mereka pada waktu matahari terbit. Ketika kedua golongan itu saling melihat, para pengikut Musa berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul." Dia (Musa) berkata, "Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan menunjukiku." Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, "Pukullah laut dengan tongkatmu itu." Maka, terbelahlah (laut itu) dan setiap belahan seperti gunung yang sangat besar. Di sanalah Kami dekatkan kelompok yang lain. Kami selamatkan Musa dan semua orang yang bersamanya. Kemudian, Kami tenggelamkan kelompok yang lain.

Wallahu a'lam.




(kri/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads